Kyai Haji Achmad Mustofa
Bisri kerap disebut “Sang Kyai Pembelajar” – the Great
Religious Scholar and Teacher – oleh para anggota organisasi
Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU). Sangat dihormati
sebagai ulama, sastrawan, novelis, pelukis dan intelektual Muslim,
“Gus Mus” sangat mempengaruhi perkembangan sosial dan politik NU
selama tiga puluh tahun lebih.
Keturunan para pemimpin religius
kharismatik, Gus Mus mengasuh
Pondok
Pesantren Raudlatuth Tholibin
di Rembang, Jawa Tengah, tempat dia dilahirkan pada tahun 1944.
Dia menerima pendidikan yang menyeluruh dalam kajian-kajian Islam
dari ayahnya sendiri dan para sarjana Muslim terkemuka lainnya,
termasuk Kyai Haji Ali Maksum yang terkenal dari Pesantren al-Munawwir
Krapyak Yogyakarta – mereka semua mendorong
pengembangan artistik dan pemikiran kritis para santrinya.
Peran Mustofa Bisri dalam menggabungkan spiritualitas dan ekspresi
artistik secara luas dikagumi di Indonesia, negara tempat dia
dianggap sebagai ikon kultural. Sering disebut “Presiden Para
Sastrawan,” dia diakui karena dorongannya dalam
membela kebebasan
artistik dan religius di depan gempuran-gempuran kaum radikal.
Lulus dari Universitas al-Azhar di Kairo, Gus Mus
fasih berbahasa Arab layaknya bahasa Jawa dan Indonesia. Bersama dengan sahabatnya
yang lama menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kyai Haji Abdurrahman Wahid,
dia memberi pengaruh kuat pada perkembangan masyarakat sipil dan
demokrasi Indonesia. Secara pribadi menghindari ambisi politik, Gus Mus
berulang kali menolak jabatan Ketua NU – baru-baru ini pada bulan November 2004
dalam Muktamar Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Boyolali, Jawa
Tengah. Dia, bagaimanapun, tetaplah seorang tokoh kunci dan
negarawan senior dalam organisasi tersebut – salah seorang dari
sekian ‘kiyai spiritual ’ yang otoritas akhlaknya membantu
mengarahkan NU.
Filsafat pribadi Mustofa Bisri bisa
dilihat dalam Komunitas
“Mata Air” (“Living Spring”) yang dia pimpin, yang
keanggotaannya terbuka bagi siapa pun yang mengakui nilai-nilai
esensialnya: “Sembahlan Allah; hormati yang lebih tua; sayangi yang
lebih muda; buka hatimu untuk seluruh umat manusia.” Beliau
terlibat erat dengan proyek
Jaringan Pluralis Akar-Rumput LibForAll.
Amin Abdullah
baru-baru ini
bekerja sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta,
untuk periode kedua. Ini adalah Universitas/Institut Agama
Islam Negeri pertama dan "induk" dari semua Universitas/Institut (UIN/IAIN/STAIN)
Negeri Islam,
dan sekarang merupakan salah satu universitas Islam terkemuka di Indonesia,
dengan sekitar 15.000 mahasiswa.
Dr. Abdullah dikenal sebagai filosof Islam yang
membedakan Islam normatif dari Islam historis dan mendorong sebuah
jalan baru filsafat pengetahuan Islam, jalan yang terbuka pada
dialog dan integrasi dengan sumber-sumber pengetahuan yang berbeda. Diakui
secara internasional karena perannya dalam mempromosikan sebuah
pemahaman Islam yang modern, pluralistik, dan toleran,
Dr. Abdullah juga membantu memimpin organisasi Muslim terbesar kedua, Muhammadiyah,
tahun 2000-2005, ketika dia mengabdi sebagai Wakil Ketua Dewan
Pengurusnya.
Lahir di Pati, Jawa Tengah pada tahun 1953, Dr. Abdullah menerima gelar Baccalaureate dari Pesantren
Gontor Ponorogo; gelar Ph.D. dalam Filsafat Islam dia terima dari the Middle
East Technical University di Ankara, Turki; dan melaksanakan studi pos-doktoralnya
di McGill University di Toronto, Canada.
Dia adalah penulis sejumlah buku, termasuk Religious Education
in a Multi-Cultural and Multi-Religious Era; Between al-Ghazali
and Kant: Islamic Ethical Philosophy; The Dynamism of
Cultural Islam; dan Islamic Studies in Higher Education. Dia juga penulis lusinan artikel, dan sering berbicara dalam
seminar-seminar internasional di Eropa, Timur Tengah, dan asia.
Menurut Dr. Abdullah,
jaringan Institut dan Universitas Islam Negeri Indonesia telah lama
berada di garis depan isu-isu seperti dialog antaragama dan peningkatan hubungan antara Islam dan Barat (“Kita harus
menjelaskan kepada Saudi bahwa mereka salah paham tentang Barat”). Dr. Abdullah baru-baru ini terlibat dalam proses modernisasi kurikulum lembaganya,
dan memperluas hubungan dengan univeritas-universitas terkemuka
di dunia, sambil mempertahankan hubungannya dengan masa lalu. Nama
Universitas
Islam Negeri Sunan Kalijaga digunakan untuk mengenang nama seorang
Wali Muslim yang telah memastikan kemenangan Islam tasawuf dan
toleran Jawa pada abad ke-16, dan dengan cara demikian telah
membantu melestarikan kebebasan beragama bagi penduduk Jawa.
Azyumardi Azra
merupakan salah seorang intelektual Muslim liberal asia Tenggara
yang sangat menonjol. Lahir di Sumatera Barat, Indonesia
pada tahun 1955, baru-baru ini Dr. Azra telah menyelesaikan dua
periode jabatan (1998-2006) sebagai Rektor (Presiden) di
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah yang sangat
bergengsi di Jakarta. Di bawah kepemimpinannya, UIN-Jakarta
telah memainkan peran penting dalam transisi Indonesia dari
kekuasaan otoritarian menuju demokrasi – dengan mempromosikan
sebuah pemahaman Islam yang moderat dan toleran, yang benar dalam
dirinya dan sesuai dengan dunia modern. Dalam hal ini,
pimpinan, fakultas, dan staf di UIN-Jakarta bekerja sebagai benteng
penting melawan pengaruh ekstremisme religius yang diilhami asing.
Professor Azra lulus dari Fakultas Tarbiyah (Pendidikan
Islam) di Institut Agama Islam Negeri
Syarif Hidayatullah (sekarang UIN)
pada tahun 1982. Dia diangkat sebagai dosen di tempatnya kuliah pada
tahun 1985 dan pada tahun berikutnya berhasil mendapat Beasiswa Fulbright
untuk melanjutkan studi di Columbia University, New York. Dia
lulus dengan gelar MA dari the Department of Middle Eastern Languages
and Cultures pada tahun 1988. Memenangkan Columbia President Fellowship,
dia pindah ke the Department of History, Columbia University
mengambil kajian lebih lanjut: MA (1989), MPhil (1990) dan Ph.D.
dalam FIlsafat (1992).
Dia adalah Wakil Direkture Pusat
Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) (the Centre for the
Study of Islam and Society) di IAIN/UIN Jakarta sebelum
pengangkatannya sebagai Pembantu Rektor I Bidang Akademik. Professor Azra
telah menjadi visiting fellow pada Southeast Asian Studies
di Oxford
University’s Centre for Islamic Studies; Visiting Professor
pada the
University of Philippines dan University Malaya; Distinguished
International Visiting Professor pada the Department of Middle Eastern
Studies, New York University; anggota the Board of Trustees of
International Islamic University Islamabad (2004-9);
editor-in-chief, Studia Islamika, sebuah jurnal independen
untuk kajian-kajian keislaman (1993-sekarang); anggota dewan editor
jurnal Ushuluddin (University Malaya); dan Quranic
Studies (University of London). Dia telah menyajikan banyak
paper dalam konferensi internasional dan memberi kuliah di banyak
universitas, termasuk Harvard, Columbia, Australian National University, Kyoto, Leiden
dan lain-lain.
Dr. Azra telah menerbitkan18 buku dalam bidang
keislaman dan merupakan kontributor regular pada surat kabar-surat
kabar dan jurnal-jurnal Indonesia. Dia juga merupakan komentator
terkemukan tentang Islam dan politik Indonesia untuk media di Indonesia dan internasional. Bukunya yang baru terbit berjudul The Origins of Islamic Reformism in Southeast
Asia (University of Hawaii Press, 2004; Leiden: KITLV Press,
2004; Allen & Unwin, 2004).
"Asia Tenggara punya struktur
pendidikan Islam yang luar biasa besar dan berkembang dengan sangat
baik yang bisa menjadi sumber amat sangat penting dalam perang
ide-ide yang tengah berlangsung dalam Islam. Institusi-institusi ini
bisa diharapkan menjaga komunitas-komunitas Muslim tetap
berakar dalam nilai-nilai moderat dan tolerannya, meski jelas ada
gempuran-gempuran ideologi ekstremis dari Timur
Tengah. Pada level global, ia bisa digunakan sebagai batu-batu
dinding gerakan Muslim moderat atau liberal internasional untuk
melawan pengaruh jaringan radikal Salafi." –
Angel Rabasa, menulis dalam
Current Trends in Islamist Ideology, diterbitkan the Hudson
Institute's Center on Islam, Democracy and the Future of the Muslim
World
Franz Magnis-Suseno, SJ
lahir di Propinsi Silesia Jerman (sekarang Polandia) pada tahun 1936,
dalam sebuah keluarga Katolik Roma yang taat. Setelah bebas dari horor-horor Perang Dunia II
dan terusir dari Silesia, Franz Magnis muda menyelamatkan diri diri ke Jerman
Barat. Dia bergabung dengan Ordo Jesuit dalam usia sembilan belas tahun,
dan menerima ijazah baccalaureatenya dari the College of Philosophy
di Pullach, Bavaria pada tahun 1960. Tahun berikutnya dia pindah ke Yogyakarta,
pusat kultural Jawa, tempat dia diangkat sebagai pendeta Jesuit pada
tahun 1967. Beberapa tahun kemudian, pendeta muda ini
melepaskan kewarganegaraan Jermannya dan menjadi warga negara Indonesian,
untuk mengabdikan sisa hidupnya melayani umat di negrinya yang baru.
Romo Magnis-Suseno adalah tokoh yang sangat
dicintai dan amat populer di Indonesia, yang sering muncul dalam
dialog-dialog antaragama dan di radio, televisi, serta media cetak,
mempromosikan perdamaian dan hormat antarbeberapa agama di Indonesia. Diancam
secara periodik oleh para ekstremis religius, dia hanya
menanggapinya dengan lembut, cinta, dan keberanian yang terlahir
dari keimanannya yang mendalam dan keyakinan religiusnya.
Seorang doktor filsafat yang lulus summa cum
laude dari Ludwig-Maximilians University di Munich, Jerman (yang dia
ikuti dari 1971-73), Romo Magnis-Suseno baru-baru ini adalah Direktur
Studi Pascasarjana di Sekolah Tinggi FIlsafat Driyakarya di Jakarta,
yang dia bantu pendiriannya dan kemudian dia pimpin selama beberapa
tahun. STF Driyakarya – yang juga merupakan tempat latihan untuk
para pendeta Katolik Roma – punya mahasiswa yang juga
berasal dari kalangan Muslim, termasuk para anggota organisasi
Nahdlatul Ulama Kyai Haji Abdurrahman Wahid, yang belajar Filsafat
Eropa untuk mempertajam pemikiran kritisnya dan prinsip-prinsip
keimanan saudara-saudaranya para pengikut iman Kristiani.
Romo Magnis-Suseno telah mengabdi sebagai visiting
professor Universitas Indonesia; Univeristas Parahyangan Bandung; the College of Philosophy and Ludwig-Maximillians
University di Munich; dan the University of Innsbruck. Dia adalah
penulis lebih dari 30 buku, termasuk “Etika dan Pandangan-Dunia Jawa,”
“Mencari Tujuan Rasional Kehidupan” dan “Menjadi Saksi untuk
Kristus di Tengah Masyarakat yang Kompleks.”
Dr. Magnis-Suseno memegang the Distinguished
Service Cross (“Das Grosse Verdienstkreuz) dari Republik Federal
Jerman dan doktor honoris causa dalam bidang teologi dari the University
of Lucerne, Switzerland.
Abdul Munir Mulkhan
lahir di Jember
Jawa Timur pada tahun 1946. Dia menerima gelar BA dari Fakultas Perbandingan Agama Institut Agama Islam Raden
Intan Lampung, Sumatra, serta gelar MA dan Ph.D. dalam bidang Ilmu
Politik dan Sosial dari Universias Gajah Mada yang perstisius di Yogyakarta,
lulus dengan predikat cum laude pada masing-masing jenjang.
Selama beberapa tahun Dr. Munir
telah menjadi anggota dewan pengurus harian Muhammadiyah, organisasi
Muslim terbesar kedua di dunia dengan perkiraan anggota sebanyak 30
juta. Dia telah mengabdi sebagai Wakil Sekretaris organisasi secara
penuh (2000-2005); sebagai Sekretaris Kantor untuk Organisasi dan
Kader; Sekretaris Badan Interpretasi Religius;
dan sebagai anggota Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan
Tinggi. Sejak tahun 1996 Dr. Munir telah menjadi anggota dewan
editor Suara Muhammadiyah (penerbitan resmi Muhammadiyah),
dan sejak 2002 telah bekerja sebagai Ketua Dewan Pengurus Pusat "Pemerintahan
Yang Bersih" Muhammadiyah, dengan kewajiban utama mengeleminiasi
korupsi. Lain dari itu, Dr. Munir sebelumnya bekerja sebagai Wakil
Sekretaris Dewan Sarjana Religius cabang Yogyakarta.
Dr. Munir adalah anggota fakultas
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dia
telah melaksanakan riset post-doktoral di McGill
University di Montreal, Canada, dan bekerja sebagai Visiting Research
Fellow di Nanyang Technological University’s Institute of Defense
and Strategic Studies di Singapore. Baru-baru ini dia bergabung
sebagai fellow LibForAll Foundation.
Dr. Munir adalah penulis 40
buku lebih dan ratusan artikel yang dipublikasikan di berbagai majalah dan
surat kabar.
Nasr Hamid Abu-Zayd
adalah pioner dalam bidang hermeneutika al-Qur'an –
yang mengkaji al-Qur'an dari perspektif linguistik dan
kontekstual untuk memahami watak, isi, dan pesan sejatinya. Dia
menggabungkan semua perspektif ini dengan kajian modern pemikiran
Islam, dengan mendekati wacana Islam klasik dan kontemporer secara
kritis dalam bidang teologi,
filsafat, hukum, politik, dan humanisme. Tujuan risetnya adalah
untuk menawarkan sebuah teori hermeneutika yang akan memungkinkan
Muslim membangun jembatan antara tradisi mereka sendiri dan
kebebasan, kesejajaran, hak-hak asasi manusia, demokrasi, dan
globalisasi dunia modern.
Lahir di Tanta,
Mesir pada tahun 1943, Dr. Abu Zayd memegang gelar BA, MA dan Ph.D.
dengan penghargaan tertinggi dalam bidang Bahasa Arab dan Islamic Studies dari Cairo
University. Dr. Abu Zayd secara luas dianggap sebagai seorang
pahlawan reformis, karena keberaniannya dalam melawan usaha-usaha
kaum radikal untuk meniadakan kebebasan berpendapat di Mesir.
Ancaman hukuman mati dikeluarkan oleh Ayman al-Zawahiri (Pembantu
dekat Osama bin Laden) dan lainnya, Dr. Abu Zayd pindah ke Eropa
bersama istrinya pada tahun 1995, dan sekarang menempati the Ibn Rushd Chair of Humanism and Islam
di the University of Humanistics di Utrecht, Belanda. Dia adalah
penerima the
Ibn Rushd Prize tahun 2005 yang diberikan oleh the Ibn Rushd Fund for Freedom of
Thought.
Dr. Abu Zayd adalah penulis 14 buku dan
sejumlah besar artikel dalam bahasa ibunya, Arab. Karya-karyanya
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, Prancis,
Jerman, Indonesia, Italia, Persia, dan Turki.
Sukardi Rinakit
menerima gelar BA. dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Indonesia, Jakarta. Sedangkan gelar MA dia peroleh dalam
Kajian Asia Tenggara dari the National University of Singapore, dan
Ph. D. dari the Departement of Political Science di universitas yang
sama. Dia adalah pendiri-bersama dan Direktur Eksekutif the Sugeng
Sarjadi Syndicate (SSS), Jakarta, sebuah organisasi nirlaba yang
mempromosikan demokrasi dan mendorong transformasi masyarakat sipil.
Fokus risetnya mengenai area militer, terorisme, kebijakan keamanan,
kultur politik, proses desentralisasi, hubungan antara agama,
politik, dan masyarakat sipil, dan perlindungan hak-hak asasi
manusia di Indonesia.
Dr. Sukardi adalah mantan Kepala Departemen,
Institut Riset dan Pengembangan, Persatuan tenaga Kerja se-Indonesia
dan mantan penulis Departemen Dalam Negeri dan Departemen Pertahanan
dan Keamanan. Dia telah mempublikasikan ratusan artikel di
jurnal-jurnal terkemuka dan surat kabar nasional dan dikutip secara
ekstensif dalam publikasi tersebut. Dia juga menerbitkan sejumlah
buku, termasuk salah satunya dalam Bahasa Inggris, berjudul
Indonesian Military after the New Oeder.
Dr. Sukardi adalah sahabat dekat banyak
pemimpin politik Indonesia, dan banyak tahu dinamika internal
militer bangsa Indonesia.
Printer Friendly Version of This Page