Rekomendasi-rekomendasi Strategi
Islam
bukanlah musuh, ia tidak sama dengan teror. Ia juga tidak
mengajarkan teror.
Amerika
dan kawan-kawannya sedang melawan sebuah penyimpangan atas Islam,
bukan
agama besar dunia itu sendiri.
AKAN
MELAKUKAN APA?
STRAGEGI GLOBAL
12.1 MERENUNGKAN TANTANGAN GENERASIONAL
Tiga tahun setelah 11/9, warga Amerika tetap berpikir dan berbicara
tentang bagaimana melindungi bangsa kita dalam era baru ini.
Perdebatan nasional terus berlangsung. Perlawanan pada terorisme
telah menjadi, secara meyakinkan, prioritas tertinggi keamanan
nasional bagi Amerika Serikat. Perubahan ini terjadi dengan dukungan
penuh Kongres, kedua partai politik besar, media, dan warga Amerika….
Tapi musuh
bukan hanya “terorisme,” beberapa setan sejati… Ancaman tak
terduga pada saat ini lebih spesifik. Ia adalah ancaman
yang diusung oleh terorisme Islam radikal - khususnya
jaringan al-Qaeda, para sekutunya, dan ideologinya.
Seperti telah disebutkan dalam bab 2, Osama Bin Laden dan para
pemimpin teroris lainnya melalui sebuah tradisi intoleransi
ekstrem yang panjang dalam satu arus Islam (sebuah tradisi minoritas),
ujungnya dari Ibn Taimiyyah, melalui para pendiri Wahhabisme,
melalui Ikhwanul Muslimin, hingga Sayyid Qutb.
Arus itu didorong oleh agama dan bukan pemisahan politik
dari agama, yang dengan demikian telah menghancurkan keduanya. Bahkan ia
dibesarkan oleh kemarahan-kemarahan yang ditekankan oleh Bin Laden
dan secara luas dirasakan di seluruh dunia Muslim—melawan kehadiran
militer AS. di Timur Tengah, kebijakan-kebijakan yang dirasakan
sebagai anti-Arab dan anti-Muslim, dan mendukung Israel. Bin Laden
dan para teroris memahami dengan tepat apa yang mereka katakan: bagi
mereka Amerika adalah wajah semua kejahatan, “kepala ular,” dan ia
harus dibinasakan.
Dengannya Amerika tidak punya posisi berunding atau
tawar-menawar.
Tidak ada dasar untuk duduk bersama dengannya—bahkan tidak untuk menghormati
hidup—yang di atasnya ada usaha untuk memulai sebuah dialog. Ia hanya bisa
dihancurkan atau sama sekali diisolasi.
Karena secara politik, ekonomi, dan militer dunia Muslim
telah berada di belakang Barat selama tiga abad berlalu, dan karena
sedikit demokrasi Muslim yang toleran atau sekuler yang menyediakan
model-model alternatif untuk masa depan, maka pesan Bin Laden menemukan
telinga yang akan mendengarkannya. Ia telah memperoleh dukungan aktif
dari ribuan pemuda Muslim yang tidak puas dan dengan kuat telah
mengingatkan jumlah yang lebih besar yang tidak
secar aktif mendukung metode ini. Kejengkelan kepada Amerika dan Barat mendalam,
bahkan di kalangan para pemimpin negara-negara Muslim yang relatif
sukses.
Toleransi, aturan hukum, keterbukaan politik dan ekonomi,
perluasan peluang yang lebih besar bagi wanita—pemenuhan semua ini
datang dari dalam masyarakat Muslim sendiri. Amerika Serikat harus
mendukung pembangunan-pembangunan seperti itu. Tapi proses ini
mungkin baru bisa diukur dalam beberapa dekade, bukan tahun. Ia
merupakan sebuah proses yang dengan jelas akan ditentang oleh
organisasi-organisasi teroris, di dalam negeri-negeri Muslim dan
dalam serangan-serangan kepada Amerika Serikat serta negara-negara
Barat lainnya. Amerika Serikat mendapati dirinya terperangkap dalam
sebuah benturan di dalam sebuah peradaban. Benturan itu muncul dari
kondisi-kondisi khusus dalam dunia Muslim, kondisi-kondisi yang
menimpa para imigran Muslim di negara-negara non-Muslim.
Musuh kita ada dua: al-Qaeda, sebuah jaringan teroris
tanpa negara yang mengejutkan kita pada 11/9; dan sebuah gerakan
ideologis radikal di dunia Islam, yang sebagian diilhami oleh al-Qaeda,
yang telah melahirkan kelompok-kelompok teroris dan kekerasan di
seluruh dunia. Musuh pertama telah dilemahkan,
tapi masih terus menyimpan ancaman yang mematikan. Musuh kedua
adalah perkumpulan,
dan akan mengancam Amerika dan kepentingan-kepentingan Amerika jauh
setelah Osama
Bin Laden dan para pengikutnya dibunuh atau ditangkap. Dengan
demikian, strategi kita haruslah sesuai dengan dua tujuan kita:
menelanjangi jaringan al-Qaeda dan kemenangan jangka panjang atas ideologi yang memunculkan terorisme.
Islam bukanlah musuh, ia tidak sama dengan teror. Ia juga
tidak mengajarkan teror. Amerika dan kawan-kawannya sedang melawan sebuah
penyimpangan atas Islam, bukan agama besar dunia itu sendiri. Hidup
yang dibimbing oleh keyakinan religius, termasuk keyakinan-keyakinan
literal dalam buku-buku suci, adalah lazim dalam setiap agama, dan
tidak menghadirkan ancaman kepada kita.
Agama-agama lain telah mengalami perjuangan internal yang keras. Dengan begitu banyak penganut yang beragam, setiap agama besar akan
memunculkan para penganut fanatiknya. Namun pemahaman dan toleransi antarpenganut agama yang berbeda haruslah menang.
Bahaya antarbangsa dewasa ini adalah terorisme Islam. Apa yang
dibutuhkan adalah sebuah strategi besar politik-militer yang
berpijak kuat pada tiga aspek kebijakan
12.3 MENCEGAH TERUS BERTUMBUHNYA TERORISME ISLAM
Pada Oktober 2003, sambil merenungkan kemajuan
setelah dua tahun melancarkan perang global terhadap terorisme,
Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld dimintai pendapatnya: “Apakah
kita menangkap, membunuh, atau menghambat dan menghentikan lebih
banyak teroris setiap hari dibandingkan madrasah-madrasah dan para
ulama radikal yang merekrut, melatih, dan menyebarkannya melawan
kita? Apakah AS. perlu menyusun rencana dunia, yang terintegrasi
untuk menghentikan generasi teroris berikutnya? AS. sedang
melakukan sedikit usaha dalam rencana jangka panjang, tapi kami
sedang melakukan usaha besar dalam usaha menghentikan para
teroris. Angka biaya-manfaat melawan kita! Biaya kita milyaran
melawan biaya jutaan teroris.”
Semua ini adalah pertanyaan-pertanyaan tepat. Jawaban kami
adalah bahwa kita membutuhkan tindakan jangka pendek berdasarkan
strategi jangka panjang, tindakan yang membuat kebijakan luar
negeri kita sukses dengan perhatian yang telah Presiden dan
Kongres berikan kepada pihak-pihak militer dan intelejen konflik
melawan terorisme Islam.
Melibatkan Perjuangan Ide-ide
Amerika Serikat terlibat luar biasa di dunia Muslim dan akan
terus demikian pada tahun-tahun yang akan datang. Keterlibatan
Amerika ini dibenci. Banyak jajak-pendapat pada tahun 2002 menemukan bahwa di
antara kawan-kawan Amerika, seperti Mesir—penerima lebih banyak
bantuan AS. selama 20 tahun yang lalu dibandingkan negeri Muslim
manapun—hanya 15% dari rakyatnya yang punya pendapat menyenangkan
terhadap Amerika Serikat. Di Saudi Arabia jumlahnya 12%.
Dan dua-pertiga dari mereka yang disurvey pada tahun 2003 di
negeri-negeri dari Indonesia hingga Turki (sekutu NATO) adalah
sangat atau agak khawatir bahwa Amerika Serikat bisa menyerang
mereka.
Dukungan untuk Amerika Serika tiba-tiba anjlok.
Jajak-jajak-pendapat yang dilakukan di negeri-negeri Islam setelah 11/9
mengesankan bahwa banyak atau kebanyakan orang berpikir Amerika
Serikat telah melakukan hal yang benar dalam perangnya melawan
terorisme;
sedikit orang yang telah melihat dukungan populer untuk al-Qaeda;
setengah dari mereka yang disurvey mengatakan bahwa orang awam
punya pandangan yang menyenangkan kepada Amerika Serikat.
Pada tahun 2003, jajak-jajak-pendapat menunjukkan bahwa “dukungan untuk
Amerika telah anjlok di kebanyakan dunia Muslim.
Pandangan-pandangan negatif terhadap AS. di kalangan Muslim, yang
secara luas telah terbatas di negeri-negeri Timur Tengah, telah
menyebar. . . . Sejak musim panas yang lalu, angka dukungan
untuk AS. telah jatuh dari 61% menjadi 15% di Indonesia dan dari 71%
menjadi 38% di kalangan Muslim di Nigeria.”
Banyak dari pandangan-pandangan ini menginformasikan
tentang Amerika Serikat dan, paling buruk, diinformasikan oleh
stereotipe-stereotipe kartunis, ungkapan kasar sebuah gaya "Oksidentalisme"
di kalangan intelektual yang melukiskan nilai-nilai
dan kebijakan-kebijakan AS. Koran-koran lokal dan sedikit tv
satelit yang berpengaruh —seperti al-Jazeera—kerap memperkuat
tema-tema jihad yang menggambarkan Amerika Serikat sebagai anti-Muslim.
Sedikit Muslim yang menyambut sepenuhnya versi Islam
Osama
Bin Laden tidak terpengaruh pada persuasi. Adalah di kalangan
mayoritas terbesar Arab dan Muslim bahwa kita harus mendorong
reformasi, kebebasan, demokrasi, dan peluang, bahkan sekalipun
promosi kita sendiri atas pesan-pesan ini terbatas dalam
efektivitasnya semata karena kitalah pembawanya. Muslim sendiri
akan perlu merenungkan dasar isu-isu seperti itu seperti konsep
jihad, posisi wanita, dan tempat minoritas non-Muslim. Amerika
Serikat bisa mempromosikan moderasi, tapi tidak bisa memastikan
pengaruhnya. Hanya Muslim yang bisa melakukan hal ini.
Keadaannya sulit. Jumlah total produk domestik bruto dari 22 negara Liga
Arab berada di bawah PDB Spanyol.
Empat puluh persen orang Arab dewasa buta huruf, dua pertiganya
adalah wanita.
Sepertiga dari kebanyakan rakyat Timur Tengah hidup kurang dari dua
dolar sehari. Kurang dari 2 persen penduduk punya akses ke
internet.
Mayoritas pemuda Arab yang lebih tua telah mengungkapkan
hasratnya untuk pindah ke negara-negara lain, khususnya ke Eropa.
Ringkasnya, Amerika Serikat harus membantu mengalahkan sebuah
ideologi, bukan semata sekelompok orang, dan kita harus
melakukannya di bawah keadaan yang sulit.
Bagaimana Amerika Serikat dan kawan-kawannya membantu Muslim
moderat melawan gagasan-gagasan para ekstremis?
Rekomendasi: Pemerintah AS. harus menentukan
apa pesannya, untuk apa ia ada. Kita harus menawarkan sebuah
contoh kepemimpinan moral di dunia, bersungguh-sungguh melatih
orang-orang dengan ramah, berpijak pada aturan hukum, serta
dermawan dan penuh perhatian pada para tetangga kita. Amerika
dan kawan-kawan Muslim bisa sepakat untuk kehormatan manusia dan
peluang.
Bagi orang tua Muslim, para teroris seperti Bin Laden tidak
menawarkan apa pun yang berharga kepada anak-anak mereka selain
pandangan kekerasan dan kematian. Amerika dan kawan-kawannya
punya keuntungan yang krusial—kita bisa menawari para orang tua
ini sebuah pandangan yang bisa memberikan masa depan yang lebih
baik bagi anak-anak mereka. Jika kita peduli pada
pandangan-pandangan para pemimpin yang bijaksana di dunia Arab
dan dunia Muslim lainnya, sebuah kesepakatan moderat bisa
ditemukan.
Pandangan masa depan itu harus mengutamakan hidup
daripada mati: pendidikan individual dan peluang ekonomi.
Pandangan ini termasuk penyebaran partisipasi politik dan
kecaman terhadap kekerasan dalam bentuk apa pun.
Ia termasuk hormat pada aturan hukum, keterbukaan dalam
mendiskusikan berbagai perbedaan,
dan toleransi bagi titik-titik pandang yang berlawanan….
Amerika Serikat harus berbuat lebih banyak untuk
mengkomunikasikan pesannya. Merenungkan keberhasilan Bin Laden
dalam meraih para audien Muslim, Richard Holbrooke heran, “Bagaimana
bisa seorang yang berada di dalam gua berhasil mempengaruhi
komunikasi-komunikasi masyarakat dunia maju?” Wakil Menteri
Luar Negeri Richard Armitage khawatir pada kita bahwa Amerika
telah “mengekspor ketakutan-ketakutan kita dan
kemarahan-kemarahan kita,” bukan visi peluang dan harapan kita….
Pendidikan yang mengajarkan toleransi, kehormatan dan nilai
setiap individu, serta hormat pada keyakinan-keyakinan yang
berbeda adalah elemen kunci dalam strategi global manapun untuk
mengenyahkan terorisme….
Keterbukaan ekonomi adalah esensial. Terorisme tidak disebabkan
oleh kemiskinan. Memang, banyak teroris berasal dari keluarga
yang relatif tidak beruntung. Namun ketika orang-orang
kehilangan harapan, ketika masyarakat hancur, ketika negeri
terpecah, lahan persemaian teroris tercipta. Kebijakan-kebijakan
ekonomi yang mundur dan rejim-rejim politik yang represif
merasuk ke dalam masyarakat yang tanpa harapan, yang di dalamnya
ambisi dan gairah tidak punya etalase yang konstruktif.
Kebijakan-kebijakan yang mendukung pembangunan dan
reformasi ekonomi juga punya implikasi politik. Kebebasan
ekonomi dan politik cenderung terkait. Perdagangan, khususnya
perdagangan internasional, menuntut berlangsungnya kerjasama dan
kompromi, pertukaran gagasan lintas kultural, dan resolusi damai
atas berbagai perbedaan melalui aturan hukum. Pertumbuhan
ekonomi memperluas kelas menengah, sebuah dukungan untuk
reformasi lebih jauh. Ekonomi-ekonomi yang berhasil mengandalkan
sektor-sektor privat yang bergairah, yang punya kepentingan
dalam membatasi kekuasaan pemerintah yang bersikap adil. Mereka
yang mengembangkan praktik mengendalikan ketentuan ekonominya
sendiri segera menginginkan sebuah dukungan dalam komunitas dan
masyarakat politik mereka sendiri….
Rekomendasi: Sebuah strategi AS. yang
menyeluruh untuk melawan terorisme harus memasukkan
kebijakan-kebijakan ekonomi yang mendorong pembangunan,
masyarakat yang lebih terbuka, dan peluang bagi siapa pun untuk
memperbaiki tingkat hidup keluarga mereka dan untuk meningkatkan
prospek bagi masa depan anak-anak mereka.
~ The 911 Commission Report, pp. 361-3; 374-9
Perang Ideologi
“Kita sedang menghadapi, catatan laporan [komisi 11/9],
segerombolan orang--orang bebas yang yakin pada sebuah arus
Islam yang ganjil yang mengalir dari Ibn Taimiyyah hingga Sayyid
Qutb. Terorisme hanyalah alat yang mereka gunakan untuk mencapai
tujuan mereka.
“Tampak ada sebuah perbedaan kecil - dengan menekankan
ideologi sebagai ganti teror - tapi ia membuat perbedaan yang
luar biasa, karena jika Anda tidak mendefinisikan masalah
dengan tepat, kami tidak bisa merenungkan strategi untuk menang.
“Ketika Anda melihat bahwa musuh-musuh kita secara primer
adalah sebuah gerakan intelektual, bukan pasukan teroris, Anda
melihat mengapa mereka tidak terburu-buru. Dengan infrastruktur
indoktrinasi madrasah-madrasah dan mesjid-mesjid mereka yang
sangat banyak, mereka sedang terus membangun kekuatan, yang
melandasi pijakan selama beberapa dekade perjuangan. Horison
waktu mereka sepenuhnya berbeda dari milik kita….
“Para anggota komisi tidak mengatakan hal itu, tapi
implikasinya jelas. Kami telah melakukan penyelidikan ke dalam
kegagalan-kegagalan intelejen kita; kini kita perlu sebuah
komisi untuk menganalisis kegagalan intelektual kita.
Katakanlah, para pembela Amerika yang tak mudah
menyerah kerap kekurangan ahli yang mereka butuhkan.
Dan sekolah-sekolah yang sekarang betul-betul
mengenal dunia Islam kerap buta pada patologinya. Mereka begitu
terobsesi dengan dosa-dosa Barat,
mereka tidak mampu memahami dengan tepat ancaman
kepada Barat.
“Kita juga perlu meningkatkan kontra-ofensif
ideologis kita sendiri.
Para anggota komisi merekomendasikan bahwa AS.
harus jauh lebih kritis kepada rejim-rejim otokratis, bahkan
yang sopan pun,
semata untuk membuktikan prinsip-prinsip kita. Mereka menasehati kita menyusun dana untuk membangun sekolah-sekolah sekunder di
seluruh negeri Muslim, dan mengijinkan lebih banyak mahasiswa
belajar ke sekolah kita sendiri. Jika Anda seorang yang dermawan,
di sinilah bagaimana Anda bisa menyumbang:
Kita perlu menyusun semacam mobilisasi
intelektual yang kita miliki selama perang dingin, dengan
rekan-rekan Kongres untuk Kebebasan Kultural modern, untuk
memberikan sebuah platform internasional kepada Muslim modernis
dan untuk memperkenalkan mereka dengan para intelektual Barat….
“Minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang opsir
militer terkemuka yang bertugas di Afghanistan dan Iraq, yang
penyelidikan-penyelidikannya sangat bersesuaian dengan
penyelidikan para anggota komisi 11/9. Dia mengatakan pengalaman
beberapa tahun terakhir adalah menyesatkan; hanya 10 persen dari
usaha-usaha kita sejak sekarang dan seterusnya yang perlu dalam
bentuk militer. Sisanya akan berupa usaha-usaha ideologis. Dia
menyelidiki bahwa kita sekarang berada dalam perang melawan
ekstremisme Islam yang sebelumnya kita berperang melawan
komunisme pada tahun 1880.
“Kita punya perang panjang ke depan, tapi setidaknya kita
sedang memahaminya.”
~ David Brooks, New York Times
Memenangkan perang teror: Serang inti ideologinya
“NEGARA-NEGARA Asia Tenggara mengapresiasi [yakni,
menyadari] ancaman terorisme dan sedang membuat kemajuan dalam
bidang keamanan, Menteri Pertahanan [Singapore] Teo Chee Hean
mengatakan kemarin. Tapi perang melawan teror hanya akan
dimenangkan dengan menyerang pusat ideologiny,
yang adalah sebuah interpretasi Islam yang ganjil dan
ekstrem yang berusaha menghancurkan sistem modern global. ‘Menangani ideologi yang menggerakkan bentuk terorisme ini, menuntut
sebuah usaha yang terencana dengan rinci dan tepat, dan itu
bukanlah perang fisik melainkan perang hati dan pikiran ideologi,’ Rear-Admiral (NS) Teo
mengatakan kepada para reporter mengenai pertemuan kerjasama
pimpinan militer puncak Asia-Pasifik.
‘Hanya ketika orang-orang sadar bahwa ideologi ini tidak
berarti apa pun, sesuatu yang hampa dan keliru dan menolaknya,
bahwa kita akan mampu mencabut bentuk terorisme ini hingga ke
akar-akarnya,’ kata dia.”
~ Singapore Straits Times
“Jika negeri-negeri Muslim tapi non-Arab seperti Indonesia (berpenduduk 216
juta orang) dan Pakistan (130 juta orang) bisa menolak
ekstremisme dan mendukung arus Islam moderat, mereka akan
menyediakan lawan yang signifikan kepada fundamentalisme Islam
di dunia Arab.”
~ John Hughes, jurnalis pemenang-Pulitzer Prize
“Untuk memenangkan perang melawan terorisme dan, dalam berbuat
demikian, membantu membentuk sebuah dunia yang lebih damai, kita
harus berbicara dengan ratusan juta orang moderat dan toleran di
dunia Muslim,
tanpa memperhatikan tempat mereka tinggal, yang ingin
menikmati berkah kebebasan dan demokrasi serta kebebasan usaha.
Ini terkadang dijelaskan sebagai "nilai-nilai Barat,' padahal,
sebenarnya, universal.”
~ Paul Wolfowitz, Presiden World Bank
“Haruslah jelas sejak sekarang, perang melawan teror
tidak bisa dimenangkan hanya dengan menghancurkan jaringan
teroris dan membangun benteng-benteng pertahanan.
Ia juga merupakan perang ide-ide, dan dengan demikian
hanya bisa dimenangkan jika penyebaran dukungan ideologis untuk
terorisme yang ditemukan di dunia Muslim dan beberapa belahan
dunia Barat bisa diubah menjadi penyebaran kecaman.”
~ Wall Street Journal
Melibatkan Dukungan Muslim atau Kalah melawan Teror
“....pada akhirnya, mengalahkan para teroris, apakah di Timur
Tengah atau diaspora Muslim di Eropa, tergantung pada
bantuan Muslim. Memperoleh sekutu-sekutu Muslim baru
adalah sebuah bagian utama dari strategi kontra-terorisme mana
pun.”
~ Anatol Lieven, Financial Times
Jika itu adalah Masalah Muslim, Ia Butuh Solusi Muslim
“....adalah esensial agar dunia Muslim sadar bahwa ia
mempunyai sebuah kultus mati jihad dalam pikirannya. Jika
ia tidak memperjuangkan kultur mati tersebut, kangker itu, dalam
tubuh politiknya sendiri, ia akan menginfeksi saudara-saudara
Barat-Muslim di manapun. Hanya dunia Muslim yang bisa
mencabut kultur mati tadi. Ia membutuhkan sebuah kampung.
Apa yang saya maksudkan? Batasan paling kuat pada
tingkah laku manusia bukanlah polisi atau penjaga perbatasan. Batasan
paling kuat pada tingkah laku manusia adalah apa yang sebuah
kultur dan sebuah agama yakini memalukan. Ia adalah apa
yang kerabat sekampung dan seagama serta sepolitik katakan salah
atau dibolehkan....
Bus-bus tingkat di London dan jalan bawah tanah Paris,
sebagaimana juga pasar-pasar Riyadh, Bali, dan Kairo, tidak akan
pernah aman selama kampung dan saudara-saudara Muslim tidak
mencela dan mengisolasi, mengharamkan, para ekstremis dalam
pikiran mereka.”
~ Thomas Friedman, New York Times
“Cara terbaik untuk membatasi pengaruh
faksi-faksi Islam [radikal] adalah dengan mendukung
ajaran-ajaran Islam tradisional, moderat.”
~ Abdul Hadi Palazzi
“Hampir selama satu abad, dari
sekitar tahun 1850 hingga sekitar masa kudeta Para Opsir Bebas (the
Free Officers) yang meruntuhkan monarki dan mengantarkan
Kolonel Gamal Abdel Nasser ke tampuk kekuasaan pada tahun 1952,
di Mesir berkembang suatu Era Liberal yang terlalu sering secara
tak adil dilupakan dalam diskusi-diskusi politik Arab dewasa ini.
Ini juga merupakan masa damai dan toleransi yang relatif
sektarian.
“[Ketika membangun the Ibn Khaldun Center, kami melihat diri
kami] bukan sebagai para pembangun dari reruntuhan, melainkan
sebagai para peninjau sebuah tradisi agung (tapi tidak sempurna)
yang telah ada tidak hanya di negeri kami melainkan juga di Syria,
Iraq, Iran, Moroko dan di tempat lain.
“Kami yakin bahwa jika gagasan-gagasan ini
diungkapkan secara terbuka,
ingatan atas tradisi ini dan, yang lebih penting lagi,
relevansi inti ajarannya yang tetap-hidup mengenai hak-hak asasi,
kebebasan, transparansi, dan keadilan, bisa memainkan peran
besar dalam menunjukkan bahwa demokrasi memang punya mata rantai
yang masuk akal untuk berakar dan tumbuh di Timur Tengah.
“Usaha kami mengembalikan prestasi-prestasi dan aspirasi-aspirasi dari Era Liberal adalah sesuatu yang dilakukan
demi masa depan.
Ia memberi kami, dan semua orang pencinta-kebebasan yang ingin
bersama kami, sesuatu untuk dibangun dan sesuatu untuk
diperjuangkan—meski ada sensor,
penindasan polisi, dan ekstremisme.”
~ Saad Eddin Ibrahim, Ketua Ibn Khaldun Center for Development Studies
Libforall Foundation
membantu mendiskreditkan ideologi radikal dan penggunaan teror,
dengan mendukung interpretasi Islam yang moderat dan progresif,
dan dengan mendorong tumbuhnya masyarakat-masyarakat yang damai,
toleran, dan bebas di seluruh dunia Muslim.[]
Printer Friendly Version of This Page
|