Rekomendasi-rekomendasi Strategi

 

Islam bukanlah musuh, ia tidak sama dengan teror. Ia juga tidak mengajarkan teror.

Amerika dan kawan-kawannya sedang melawan sebuah penyimpangan atas Islam,

bukan agama besar dunia itu sendiri.

 

AKAN MELAKUKAN APA?
STRAGEGI GLOBAL

12.1 MERENUNGKAN TANTANGAN GENERASIONAL

Tiga tahun setelah 11/9, warga Amerika tetap berpikir dan berbicara tentang bagaimana melindungi bangsa kita dalam era baru ini. Perdebatan nasional terus berlangsung. Perlawanan pada terorisme telah menjadi, secara meyakinkan, prioritas tertinggi keamanan nasional bagi Amerika Serikat. Perubahan ini terjadi dengan dukungan penuh Kongres, kedua partai politik besar, media, dan warga Amerika….

Tapi musuh bukan hanya “terorisme,” beberapa setan sejati… Ancaman tak terduga pada saat ini  lebih spesifik. Ia adalah ancaman yang diusung oleh terorisme Islam radikal - khususnya jaringan al-Qaeda, para sekutunya, dan ideologinya.

Seperti telah disebutkan dalam bab 2, Osama Bin Laden dan para pemimpin teroris lainnya melalui sebuah tradisi intoleransi ekstrem yang panjang dalam satu arus Islam (sebuah tradisi minoritas), ujungnya dari Ibn Taimiyyah, melalui para pendiri Wahhabisme, melalui Ikhwanul Muslimin, hingga Sayyid Qutb.

Arus itu didorong oleh agama dan bukan pemisahan politik dari agama, yang dengan demikian telah menghancurkan keduanya. Bahkan ia dibesarkan oleh kemarahan-kemarahan yang ditekankan oleh Bin Laden dan secara luas dirasakan di seluruh dunia Muslim—melawan kehadiran militer AS. di Timur Tengah, kebijakan-kebijakan yang dirasakan sebagai anti-Arab dan anti-Muslim, dan mendukung Israel. Bin Laden dan para teroris memahami dengan tepat apa yang mereka katakan: bagi mereka Amerika adalah wajah semua kejahatan, “kepala ular,” dan ia harus dibinasakan.

Dengannya Amerika tidak punya posisi berunding atau tawar-menawar. Tidak ada dasar untuk duduk bersama dengannya—bahkan tidak untuk menghormati hidup—yang di atasnya ada usaha untuk memulai sebuah dialog. Ia hanya bisa dihancurkan atau sama sekali diisolasi.

Karena secara politik, ekonomi, dan militer dunia Muslim telah berada di belakang Barat selama tiga abad berlalu, dan karena sedikit demokrasi Muslim yang toleran atau sekuler yang menyediakan model-model alternatif untuk masa depan, maka pesan Bin Laden menemukan telinga yang akan mendengarkannya. Ia telah memperoleh dukungan aktif dari ribuan pemuda Muslim yang tidak puas dan dengan kuat telah mengingatkan jumlah yang lebih besar yang tidak secar aktif mendukung metode ini. Kejengkelan kepada Amerika dan Barat mendalam, bahkan di kalangan para pemimpin negara-negara Muslim yang relatif sukses.

Toleransi, aturan hukum, keterbukaan politik dan ekonomi, perluasan peluang yang lebih besar bagi wanita—pemenuhan semua ini datang dari dalam masyarakat Muslim sendiri. Amerika Serikat harus mendukung pembangunan-pembangunan seperti itu. Tapi proses ini mungkin baru bisa diukur dalam beberapa dekade, bukan tahun. Ia merupakan sebuah proses yang dengan jelas akan ditentang oleh organisasi-organisasi teroris, di dalam negeri-negeri Muslim dan dalam serangan-serangan kepada Amerika Serikat serta negara-negara Barat lainnya. Amerika Serikat mendapati dirinya terperangkap dalam sebuah benturan di dalam sebuah peradaban. Benturan itu muncul dari kondisi-kondisi khusus dalam dunia Muslim, kondisi-kondisi yang menimpa para imigran Muslim di negara-negara non-Muslim.

Musuh kita ada dua: al-Qaeda, sebuah jaringan teroris tanpa negara yang mengejutkan kita pada 11/9; dan sebuah gerakan ideologis radikal di dunia Islam, yang sebagian diilhami oleh al-Qaeda, yang telah melahirkan kelompok-kelompok teroris dan kekerasan di seluruh dunia. Musuh pertama telah dilemahkan, tapi masih terus menyimpan  ancaman yang mematikan. Musuh kedua adalah perkumpulan, dan akan mengancam Amerika dan kepentingan-kepentingan Amerika jauh setelah Osama Bin Laden dan para pengikutnya dibunuh atau ditangkap. Dengan demikian, strategi kita haruslah sesuai dengan dua tujuan kita: menelanjangi jaringan al-Qaeda dan kemenangan jangka panjang atas ideologi yang memunculkan terorisme.

Islam bukanlah musuh, ia tidak sama dengan teror. Ia juga tidak mengajarkan teror. Amerika dan kawan-kawannya sedang melawan sebuah penyimpangan atas Islam, bukan agama besar dunia itu sendiri. Hidup yang dibimbing oleh keyakinan religius, termasuk keyakinan-keyakinan literal dalam buku-buku suci, adalah lazim dalam setiap agama, dan tidak menghadirkan ancaman kepada kita.

Agama-agama lain telah mengalami perjuangan internal yang keras. Dengan begitu banyak penganut yang beragam, setiap agama besar akan memunculkan para penganut fanatiknya. Namun pemahaman dan toleransi antarpenganut agama yang berbeda haruslah menang.

Bahaya antarbangsa dewasa ini adalah terorisme Islam. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah strategi besar politik-militer yang berpijak kuat pada tiga aspek kebijakan

  • menyerang para teroris dan organisasi-organisasinya;
  • mencegah terus bertumbuhnya terorisme Islam; dan

  • berlindung dari dan bersiap untuk serangan-serangan teroris....

 

12.3 MENCEGAH TERUS BERTUMBUHNYA TERORISME ISLAM

Pada Oktober 2003, sambil merenungkan kemajuan setelah dua tahun melancarkan perang global terhadap terorisme, Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld dimintai pendapatnya: “Apakah kita menangkap, membunuh, atau menghambat dan menghentikan lebih banyak teroris setiap hari dibandingkan madrasah-madrasah dan para ulama radikal yang merekrut, melatih, dan menyebarkannya melawan kita? Apakah AS. perlu menyusun rencana dunia, yang terintegrasi untuk menghentikan generasi teroris berikutnya? AS. sedang melakukan sedikit usaha dalam rencana jangka panjang, tapi kami sedang melakukan usaha besar dalam usaha menghentikan para teroris. Angka biaya-manfaat melawan kita! Biaya kita milyaran melawan biaya jutaan teroris.”

Semua ini adalah pertanyaan-pertanyaan tepat. Jawaban kami adalah bahwa kita membutuhkan tindakan jangka pendek berdasarkan strategi jangka panjang, tindakan yang membuat kebijakan luar negeri kita sukses dengan perhatian yang telah Presiden dan Kongres berikan kepada pihak-pihak militer dan intelejen konflik melawan terorisme Islam.

Melibatkan Perjuangan Ide-ide

Amerika Serikat terlibat luar biasa di dunia Muslim dan akan terus demikian pada tahun-tahun yang akan datang. Keterlibatan Amerika ini dibenci. Banyak jajak-pendapat pada tahun 2002 menemukan bahwa di antara kawan-kawan Amerika, seperti Mesir—penerima lebih banyak bantuan AS. selama 20 tahun yang lalu dibandingkan negeri Muslim manapun—hanya 15% dari rakyatnya yang punya pendapat menyenangkan terhadap Amerika Serikat. Di Saudi Arabia jumlahnya 12%. Dan dua-pertiga dari mereka yang disurvey pada tahun 2003 di negeri-negeri dari Indonesia hingga Turki (sekutu NATO) adalah sangat atau agak khawatir bahwa Amerika Serikat bisa menyerang mereka.

Dukungan untuk Amerika Serika tiba-tiba anjlok. Jajak-jajak-pendapat yang dilakukan di negeri-negeri Islam setelah 11/9 mengesankan bahwa banyak atau kebanyakan orang berpikir Amerika Serikat telah melakukan hal yang benar dalam perangnya melawan terorisme; sedikit orang yang telah melihat dukungan populer untuk al-Qaeda; setengah dari mereka yang disurvey mengatakan bahwa orang awam punya pandangan yang menyenangkan kepada Amerika Serikat. Pada tahun 2003, jajak-jajak-pendapat menunjukkan bahwa “dukungan untuk Amerika telah anjlok di kebanyakan dunia Muslim. Pandangan-pandangan negatif terhadap AS. di kalangan Muslim, yang secara luas telah terbatas di negeri-negeri Timur Tengah, telah menyebar. . . . Sejak musim panas yang lalu, angka dukungan untuk AS. telah jatuh dari 61% menjadi 15% di Indonesia dan dari 71% menjadi 38% di kalangan Muslim di Nigeria.”

Banyak dari pandangan-pandangan ini menginformasikan tentang Amerika Serikat dan, paling buruk, diinformasikan oleh stereotipe-stereotipe kartunis, ungkapan kasar sebuah gaya "Oksidentalisme"  di kalangan intelektual yang melukiskan nilai-nilai dan kebijakan-kebijakan AS. Koran-koran lokal dan sedikit tv satelit yang berpengaruh —seperti al-Jazeera—kerap memperkuat tema-tema jihad yang menggambarkan Amerika Serikat sebagai anti-Muslim.

Sedikit Muslim yang menyambut sepenuhnya versi Islam Osama Bin Laden tidak terpengaruh pada persuasi. Adalah di kalangan mayoritas terbesar Arab dan Muslim bahwa kita harus mendorong reformasi, kebebasan, demokrasi, dan peluang, bahkan sekalipun promosi kita sendiri atas pesan-pesan ini terbatas dalam efektivitasnya semata karena kitalah pembawanya. Muslim sendiri akan perlu merenungkan dasar isu-isu seperti itu seperti konsep jihad, posisi wanita, dan tempat minoritas non-Muslim. Amerika Serikat bisa mempromosikan moderasi, tapi tidak bisa memastikan pengaruhnya. Hanya Muslim yang  bisa melakukan hal ini.

Keadaannya sulit. Jumlah total produk domestik bruto dari 22 negara Liga Arab berada di bawah PDB Spanyol. Empat puluh persen orang Arab dewasa buta huruf, dua pertiganya adalah wanita. Sepertiga dari kebanyakan rakyat Timur Tengah hidup kurang dari dua dolar sehari. Kurang dari 2 persen penduduk punya akses ke internet. Mayoritas pemuda Arab yang lebih tua telah mengungkapkan hasratnya untuk pindah ke negara-negara lain, khususnya ke Eropa.

Ringkasnya, Amerika Serikat harus membantu mengalahkan sebuah ideologi, bukan semata sekelompok orang, dan kita harus melakukannya di bawah keadaan yang sulit. Bagaimana Amerika Serikat dan kawan-kawannya membantu Muslim moderat melawan gagasan-gagasan para ekstremis?

Rekomendasi: Pemerintah AS. harus menentukan apa pesannya, untuk apa ia ada. Kita harus menawarkan sebuah contoh kepemimpinan moral di dunia, bersungguh-sungguh melatih orang-orang dengan ramah, berpijak pada aturan hukum, serta dermawan dan penuh perhatian pada para tetangga kita. Amerika dan kawan-kawan Muslim bisa sepakat untuk kehormatan manusia dan peluang. Bagi orang tua Muslim, para teroris seperti Bin Laden tidak menawarkan apa pun yang berharga kepada anak-anak mereka selain pandangan kekerasan dan kematian. Amerika dan kawan-kawannya punya keuntungan yang krusial—kita bisa menawari para orang tua ini sebuah pandangan yang bisa memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka. Jika kita peduli pada pandangan-pandangan para pemimpin yang bijaksana di dunia Arab dan dunia Muslim lainnya, sebuah kesepakatan moderat bisa ditemukan.

Pandangan masa depan itu harus mengutamakan hidup daripada mati: pendidikan individual dan peluang ekonomi. Pandangan ini termasuk penyebaran partisipasi politik dan kecaman terhadap kekerasan dalam bentuk apa pun. Ia termasuk hormat pada aturan hukum, keterbukaan dalam mendiskusikan berbagai perbedaan, dan toleransi bagi titik-titik pandang yang berlawanan….

Amerika Serikat harus berbuat lebih banyak untuk mengkomunikasikan pesannya. Merenungkan keberhasilan Bin Laden dalam meraih para audien Muslim, Richard Holbrooke heran, “Bagaimana bisa seorang yang berada di dalam gua berhasil mempengaruhi komunikasi-komunikasi masyarakat dunia maju?” Wakil Menteri Luar Negeri Richard Armitage khawatir pada kita bahwa Amerika telah “mengekspor ketakutan-ketakutan kita dan kemarahan-kemarahan kita,” bukan visi peluang dan harapan kita….

Pendidikan yang mengajarkan toleransi, kehormatan dan nilai setiap individu, serta hormat pada keyakinan-keyakinan yang berbeda adalah elemen kunci dalam strategi global manapun untuk mengenyahkan terorisme….

Keterbukaan ekonomi adalah esensial. Terorisme tidak disebabkan oleh kemiskinan. Memang, banyak teroris berasal dari keluarga yang relatif tidak beruntung. Namun ketika orang-orang kehilangan harapan, ketika masyarakat hancur, ketika negeri terpecah, lahan persemaian teroris tercipta. Kebijakan-kebijakan ekonomi yang mundur dan rejim-rejim politik yang represif merasuk ke dalam masyarakat yang tanpa harapan, yang di dalamnya ambisi dan gairah tidak punya etalase yang konstruktif.

Kebijakan-kebijakan yang mendukung pembangunan dan reformasi ekonomi juga punya implikasi politik. Kebebasan ekonomi dan politik cenderung terkait. Perdagangan, khususnya perdagangan internasional, menuntut berlangsungnya kerjasama dan kompromi, pertukaran gagasan lintas kultural, dan resolusi damai atas berbagai perbedaan melalui aturan hukum. Pertumbuhan ekonomi memperluas kelas menengah, sebuah dukungan untuk reformasi lebih jauh. Ekonomi-ekonomi yang berhasil mengandalkan sektor-sektor privat yang bergairah, yang punya kepentingan dalam membatasi kekuasaan pemerintah yang bersikap adil. Mereka yang mengembangkan praktik mengendalikan ketentuan ekonominya sendiri segera menginginkan sebuah dukungan dalam komunitas dan masyarakat politik mereka sendiri….

Rekomendasi: Sebuah strategi AS. yang menyeluruh untuk melawan terorisme harus memasukkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang mendorong pembangunan, masyarakat yang lebih terbuka, dan peluang bagi siapa pun untuk memperbaiki tingkat hidup keluarga mereka dan untuk meningkatkan prospek bagi masa depan anak-anak mereka.

~ The 911 Commission Report, pp. 361-3; 374-9

 

Perang Ideologi

“Kita sedang menghadapi, catatan laporan [komisi 11/9], segerombolan orang--orang bebas yang yakin pada sebuah arus Islam yang ganjil yang mengalir dari Ibn Taimiyyah hingga Sayyid Qutb. Terorisme hanyalah alat yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan mereka.

“Tampak ada sebuah perbedaan kecil - dengan menekankan ideologi sebagai ganti teror - tapi ia membuat perbedaan yang luar biasa, karena jika Anda tidak mendefinisikan masalah dengan tepat, kami tidak bisa merenungkan strategi untuk menang.

“Ketika Anda melihat bahwa musuh-musuh kita secara primer adalah sebuah gerakan intelektual, bukan pasukan teroris, Anda melihat mengapa mereka tidak terburu-buru. Dengan infrastruktur indoktrinasi madrasah-madrasah dan mesjid-mesjid mereka yang sangat banyak, mereka sedang terus membangun kekuatan, yang melandasi pijakan selama beberapa dekade perjuangan. Horison waktu mereka sepenuhnya berbeda dari milik kita….

“Para anggota komisi tidak mengatakan hal itu, tapi implikasinya jelas. Kami telah melakukan penyelidikan ke dalam kegagalan-kegagalan intelejen kita; kini kita perlu sebuah komisi untuk menganalisis kegagalan intelektual kita. Katakanlah, para pembela Amerika yang tak mudah menyerah kerap kekurangan ahli yang mereka butuhkan. Dan sekolah-sekolah yang sekarang betul-betul mengenal dunia Islam kerap buta pada patologinya. Mereka begitu terobsesi dengan dosa-dosa Barat, mereka tidak mampu memahami dengan tepat ancaman kepada Barat.

“Kita juga perlu meningkatkan kontra-ofensif ideologis kita sendiri. Para anggota komisi merekomendasikan bahwa AS. harus jauh lebih kritis kepada rejim-rejim otokratis, bahkan yang sopan pun, semata untuk membuktikan prinsip-prinsip kita. Mereka menasehati kita menyusun dana untuk membangun sekolah-sekolah sekunder di seluruh negeri Muslim, dan mengijinkan lebih banyak mahasiswa belajar ke sekolah kita sendiri. Jika Anda seorang yang dermawan, di sinilah bagaimana Anda bisa menyumbang: Kita perlu menyusun semacam mobilisasi intelektual yang kita miliki selama perang dingin, dengan rekan-rekan Kongres untuk Kebebasan Kultural modern, untuk memberikan sebuah platform internasional kepada Muslim modernis dan untuk memperkenalkan mereka dengan para intelektual Barat….

“Minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang opsir militer terkemuka yang bertugas di Afghanistan dan Iraq, yang penyelidikan-penyelidikannya sangat bersesuaian dengan penyelidikan para anggota komisi 11/9. Dia mengatakan pengalaman beberapa tahun terakhir adalah menyesatkan; hanya 10 persen dari usaha-usaha kita sejak sekarang dan seterusnya yang perlu dalam bentuk militer. Sisanya akan berupa usaha-usaha ideologis. Dia menyelidiki bahwa kita sekarang berada dalam perang melawan ekstremisme Islam yang sebelumnya kita berperang melawan komunisme pada tahun 1880.

“Kita punya perang panjang ke depan, tapi setidaknya kita sedang memahaminya.”

~ David Brooks, New York Times

 

Memenangkan perang teror: Serang inti ideologinya

“NEGARA-NEGARA Asia Tenggara mengapresiasi [yakni, menyadari] ancaman terorisme dan sedang membuat kemajuan dalam bidang keamanan, Menteri Pertahanan [Singapore] Teo Chee Hean mengatakan kemarin. Tapi perang melawan teror hanya akan dimenangkan dengan menyerang pusat ideologiny, yang adalah sebuah interpretasi Islam yang ganjil dan ekstrem yang berusaha menghancurkan sistem modern global. ‘Menangani ideologi yang menggerakkan bentuk terorisme ini, menuntut sebuah usaha yang terencana dengan rinci dan tepat, dan itu bukanlah perang fisik melainkan perang hati dan pikiran ideologi,’ Rear-Admiral (NS) Teo mengatakan kepada para reporter mengenai pertemuan kerjasama pimpinan militer puncak Asia-Pasifik. ‘Hanya ketika orang-orang sadar bahwa ideologi ini tidak berarti apa pun, sesuatu yang hampa dan keliru dan menolaknya, bahwa kita akan mampu mencabut bentuk terorisme ini hingga ke akar-akarnya,’ kata dia.”

~ Singapore Straits Times

 

“Jika negeri-negeri Muslim tapi non-Arab seperti Indonesia (berpenduduk 216 juta orang) dan Pakistan (130 juta orang) bisa menolak ekstremisme dan mendukung arus Islam moderat, mereka akan menyediakan lawan yang signifikan kepada fundamentalisme Islam di dunia Arab.”

~ John Hughes, jurnalis pemenang-Pulitzer Prize

 

“Untuk memenangkan perang melawan terorisme dan, dalam berbuat demikian, membantu membentuk sebuah dunia yang lebih damai, kita harus berbicara dengan ratusan juta orang moderat dan toleran di dunia Muslim, tanpa memperhatikan tempat mereka tinggal, yang ingin menikmati berkah kebebasan dan demokrasi serta kebebasan usaha. Ini terkadang dijelaskan sebagai "nilai-nilai Barat,' padahal, sebenarnya, universal.”

~ Paul Wolfowitz, Presiden World Bank

 

“Haruslah jelas sejak sekarang, perang melawan teror tidak bisa dimenangkan hanya dengan menghancurkan jaringan teroris dan membangun benteng-benteng pertahanan. Ia juga merupakan perang ide-ide, dan dengan demikian hanya bisa dimenangkan jika penyebaran dukungan ideologis untuk terorisme yang ditemukan di dunia Muslim dan beberapa belahan dunia Barat bisa diubah menjadi penyebaran kecaman.”

~ Wall Street Journal

 

Melibatkan Dukungan Muslim atau Kalah melawan Teror

“....pada akhirnya, mengalahkan para teroris, apakah di Timur Tengah atau diaspora Muslim di Eropa, tergantung pada bantuan Muslim. Memperoleh sekutu-sekutu Muslim baru adalah sebuah bagian utama dari strategi kontra-terorisme mana pun.”

~ Anatol Lieven, Financial Times

 

Jika itu adalah Masalah Muslim, Ia Butuh Solusi Muslim

“....adalah esensial agar dunia Muslim sadar bahwa ia mempunyai sebuah kultus mati jihad dalam pikirannya. Jika ia tidak memperjuangkan kultur mati tersebut, kangker itu, dalam tubuh politiknya sendiri, ia akan menginfeksi saudara-saudara Barat-Muslim di manapun. Hanya dunia Muslim yang bisa mencabut kultur mati tadi. Ia membutuhkan sebuah kampung. 

Apa yang saya maksudkan? Batasan paling kuat pada tingkah laku manusia bukanlah polisi atau penjaga perbatasan. Batasan paling kuat pada tingkah laku manusia adalah apa yang sebuah kultur dan sebuah agama yakini memalukan. Ia adalah apa yang kerabat sekampung dan seagama serta sepolitik katakan salah atau dibolehkan....

Bus-bus tingkat di London dan jalan bawah tanah Paris, sebagaimana juga pasar-pasar Riyadh, Bali, dan Kairo, tidak akan pernah aman selama kampung dan saudara-saudara Muslim tidak mencela dan mengisolasi, mengharamkan, para ekstremis dalam pikiran mereka.”

~ Thomas Friedman, New York Times

 

“Cara terbaik untuk membatasi pengaruh faksi-faksi Islam [radikal] adalah dengan mendukung ajaran-ajaran Islam tradisional, moderat.”

~ Abdul Hadi Palazzi

 

“Hampir selama satu abad, dari sekitar tahun 1850 hingga sekitar masa kudeta Para Opsir Bebas (the Free Officers) yang meruntuhkan monarki dan mengantarkan Kolonel Gamal Abdel Nasser ke tampuk kekuasaan pada tahun 1952, di Mesir berkembang suatu Era Liberal yang terlalu sering secara tak adil dilupakan dalam diskusi-diskusi politik Arab dewasa ini. Ini juga merupakan masa damai dan toleransi yang relatif sektarian.

“[Ketika membangun the Ibn Khaldun Center, kami melihat diri kami] bukan sebagai para pembangun dari reruntuhan, melainkan sebagai para peninjau sebuah tradisi agung (tapi tidak sempurna) yang telah ada tidak hanya di negeri kami melainkan juga di Syria, Iraq, Iran, Moroko dan di tempat lain.

“Kami yakin bahwa jika gagasan-gagasan ini diungkapkan secara terbuka, ingatan atas tradisi ini dan, yang lebih penting lagi, relevansi inti ajarannya yang tetap-hidup mengenai hak-hak asasi, kebebasan, transparansi, dan keadilan, bisa memainkan peran besar dalam menunjukkan bahwa demokrasi memang punya mata rantai yang masuk akal untuk berakar dan tumbuh di Timur Tengah.

“Usaha kami mengembalikan prestasi-prestasi dan aspirasi-aspirasi dari Era Liberal adalah sesuatu yang dilakukan demi masa depan. Ia memberi kami, dan semua orang pencinta-kebebasan yang ingin bersama kami, sesuatu untuk dibangun dan sesuatu untuk diperjuangkan—meski ada sensor, penindasan polisi, dan ekstremisme.”

~ Saad Eddin Ibrahim, Ketua Ibn Khaldun Center for Development Studies

 

Libforall Foundation membantu mendiskreditkan ideologi radikal dan penggunaan teror, dengan mendukung interpretasi Islam yang moderat dan progresif, dan dengan mendorong tumbuhnya masyarakat-masyarakat yang damai, toleran, dan bebas di seluruh dunia Muslim.[]

 

< The New Totalitarianism

Printer Friendly Version of This Page