Totalitarianisme Baru

Oleh C. Holland Taylor
CEO LibForAll Foundation

Dengan runtuhnya tirai besi dan pendiskreditan ideologi Komunis, banyak penduduk dunia menghirup udara segar, dan berharap dunia tidak akan pernah lagi menghadapi bahaya seperti itu—setidaknya, tidak dalam masa hidup mereka.

Namun pada 11 September 2001, penduduk Amerika Serikat bangun untuk menyadari bahwa bahaya lain, bahkan dalam beberapa hal lebih dahsyat, telah muncul. Sementara Amerika telah merayakan akhir Perang Dingin dan ekspansi ekonomi terlama dalam sejarah AS., sesuatu yang besar, yang membayangi jaringan musuh-musuh telah menyatakan perang kepada Amerika Serikat, yang berusaha menghina dan mengalahkannya.

“Berdasarkan hal itu, dan mematuhi ketentuan Allah, kami sampaikan fatwa berikut kepada semua Muslim: Hukum untuk membunuh orang Amerika dan sekutu-sekutunya—sipil dan militer—adalah sebuah kewajiban individual bagi setiap Muslim yang bisa melakukkannya di negara mana pun yang mungkin untuk melakukannya.”

~ Fatwa al-Qaeda 23 February 1998

Sekalipun mengaku dirinya ‘Muslim sejati,’ musuh-musuh Amerika ini sebenarnya adalah juga musuh-musuh Islam sendiri, dan Muslim mana pun yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan radikal mereka—apakah berpandangan tradisional atau modern; sekuler atau sangat taat pada dimensi batin, spiritual Islam.

Ideologi politis totalitarian yang diperjuangkan oleh Osama bin Laden tidak lebih mewakili Islam ‘sejati’ dibandingkan Inkuisisi Kristen ‘sejati’ Spanyol. Demikian pula, perbedaan antara Ayman al-Zawahiri letnan Bin Laden dan Sufi kontemporer pada setiap titik adalah sebesar perbedaan antara Seorang inkuisitor besar dan Santo Francis dari assisi.

Berbeda dari citra Islam dalam banyak pikiran Barat, kultur dunia Muslim tidak pernah sama, atau bahkan secara terpencil bersatu dalam prspektif teologis. Membentang sepanjang empat belas ratus tahun, tiga benua dan ratusan kelompok etnik dan bahasa, dari Spanyol dan Maroko hingga ke Cina dan Filipina, tidak pernah ada keseragaman kultur atau keyakinan religius di dunia Islam, apakah secara spontan atau dipaksakan oleh kaum fanatik. Setidaknya, tidak hingga abad ke-20, ketika menyebarnya teknologi modern memungkinkan kekuasaan orang-tua sangat bergairah mengasuh mutan dan bentuk kontemporer yang berbahaya.

Selama seratus tahun yang lalu, ‘jalan paling besar’ yang telah sangat efektif menyebarkan kontribusi Barat pada kultur global, untuk kebaikan atau keburukan, secara simultan telah mendorong penyemaian sebuah persaingan ideologi di seluruh dunia yang mengklaim hak menaklukkan melalui jihad, dan untuk menguasai semua bentuk ekspresi religius dan kultural di muka bumi.

Berbeda dari agama Islam sendiri, 'Islamisme' (atau 'fundamentalisme Islam') adalah sebuah utopia ideologi politik yang menyatakan bahwa penghancuran negara-bangsa sekuler dan pendirian suatu bentuk pemerinahan totalitarian—yang diyakini berdasarkan pada model Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya—akan menghasilkan sorga sosial yang bebas dari ambisi dan kekurangan melalui penerapan kaku hukum Islam.

Islamisme telah dilahirkan dalam pikiran para intelektual Mesir abad ke-20 yang meneorikan di bawah arus 'isme-isme' besar lain abad ke-20: komunisme dan fasisme. Hasan al-Banna, pendiri Ikhwan al-Muslimun, atau Persaudaraan Muslim, pada tahun 1928, dan Sayyid Qutb, yang menulis pada tahun 1950-an, bekerja sama membuat sebuah kontribusi unik pada penderitaan umat manusia. Keberhasilan mereka adalah mengawinkan impuls totalitarian dan teknologi modern dengan sebuah kecenderungan Islam yang secara radikal tidak toleran, fundamentalis yang dikenal sebagai Wahhabi, dan Salafisme.

Islamisme adalah benar-benar setak-toleran, dan sekeras, Nazisme Hitler, namun dinamika struktur, ideologi, dan penyebarannya lebih mirip dengan Komunisme internasional pada masanya, yang jangkauan pengaruh ideologinya menggoda orang-orang seberagam Mao Tse Dong, Alger Hiss, Che Guevara, Patrice Lumumba, Kim Philby, Pol Pot dan Haile Mengistu.

Sedikit gerakan politik yang mempunyai kekuatan ideologis, atau berbahaya, yang mampu menembus batas-batas negara, merekrut jutaan pengikut baru dan mengalihkan kesetiaan anak-anak bangsa. Komunisme berbahaya tepatnya karena ia punya kekuatan demikian, yang ditingkatkan oleh dukungan finansial sebuah negara kaya-sumber daya (Rusia) yang dibajak oleh ideologi yang sama.

Seruan Islamisme kepada para pengikut potensial pada setiap tahap sangatlah hebat, dewasa ini, sebagaimana seruan teori Marxis pada abad yang lalu. Dan, seperti para revolusioner komunis di masa lalu, gerakan Islamisme sangat mengandalkan dukungan finansial dan ideologis yang luar biasa dari Arab Saudi yang kaya minyak dan Negara-negara Teluk tetangganya—atau, dalam hal Islamisme Syi'ah, oleh Iran.

Mungkin 10-15% dari semua Muslim baru-baru ini berbagi pandangan-pandangan radikal yang melandasi visi utopia radikal Osama bin Laden—yang mengubah 130-200 juta orang, di seluruh dunia. Dengan perkecualian Abu al-A'la al-Mawdudi dari Pakistan, kebanyakan ideologi terkemuka fundamentalisme Islam adalah para penulis Arab, dan hingga dewasa ini, kebanyakan para pemimpin kaum radikal di negara-negara seberagam Tanzania dan Indonesia adalah keturunan Arab. Bagaimanapun, para pembawa pesan Wahhabi dengan gigih berusaha menanamkan versi Islam mereka yang tidak toleran kepada kultur-kultur lokal, pribumi di seluruh dunia Muslim. Akibatnya bisa dilihat dari Indonesia hingga Afghanistan dan Nigeria, yang di dalamnya Muslim pribumi—diradikalkan oleh uang dan pengaruh Wahhabi—yang melakukan tindakan-tindakan yang sangat brutal, membantai puluhan ribu orang atas nama agama, termasuk umat kristen setempat, para turis Barat dan bahkan Muslim yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan radikal mereka.

Menurut the World Almanac dan Book of Facts 2005, total umat Muslim dunia mendekati jumlah 1.3 milyar orang, 295 juta darinya tinggal di negara-negara berbahasa Arab, yang berada di pusat gerakan Islam radikal.

Pusat gravitas Islam, bagaimanapun, tidaklah terletak di Mekkah atau Kairo, tapi sangat jauh ke Timur. Jumlah Muslim (560 juta) yang tinggal di Indonesia (190 juta), Pakistan (135 juta), India (121 juta), dan Banglades (114 juta) hampir sebanyak dua kali jumlah Muslim di seluruh dunia Arab. Dengan demikian, 'perjuangan demi jiwa Islam' secara tak terhindarkan harus diperjuangkan dan dimenangkan tidak hanya di daratan Arab, melainkan di pinggirannya pula—sebuah fakta yang menawarkan peluang unik, tidak banyak diketahui oleh mereka yang ingin mempromosikan interpretasi Islam yang moderat dan progresif.

Penduduk non-Arab punya kemampuan untuk membantu mendefinisikan Islam, dan untuk mendiskreditkan Wahhabisme/Islamisme sebagai sebuah gerakan dangkal yang menyimpang atau 'pemahaman Badui atas Islam' yang didanai oleh para ekstremis kaya-minyak.

Terletak di pinggiran timur Islam, Indonesia telah lama dikenal mempunyai versi Islam paling liberal, toleran yang dipraktikkan di mana pun di muka bumi. Tradisi-tradisinya bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari lingkungan-lingkungan historis yang tepat, yang menawarkan pelajaran tak ternilai bagi kita dalam perjuangan melawan ekstremisme dan teror religius dewasa ini.

Abad keenam adalah masa perubahan hebat dan pertumpahan darah di pulau Jawa Indonesia, saat negara-negara kota Muslim yang baru di pesisir utara pulau tersebut menghancurkan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha Majapahit dan Pajajaran, dan memperluas kekuasaannya ke pedalaman pulau dimaksud.

Mabok dengan kemenangan, para pengikut fanatik agama yang baru—beberapa keturunan Arab atau Cina—menyebarkan teror saat mereka berusaha memusnahkan warisan kultural Jawa kuno, atas nama Satu Tuhan, Allah. Yang melawan mereka adalah warga Jawa pribumi—sekarang dipimpin oleh para wali Islam dan tokoh politik, seperti Sunan Kalijaga—yang memperjuangkan kelesatarian dan dasar bersama antaragama, berdasarkan prinsip toleransi dan tasawuf.

Hampir selama seratus tahun, kekuatan-kekuatan yang berlawanan berjuang demi jiwa Jawa—dan, akhirnya, demi jiwa Islam—dalam sebuah perang yang keterlibatan-keterlibatan esensialnya tidak hanya di medan tempur, melainkan juga dalam hati dan pikiran individu yang tak terhitung yang tersebar di berbagai daerah Jawa yang hijau, tropis. Karena dalam konflik antara kaum jihadis ortodok dan Sufi Muslim ini, ideologi spiritual Sufi yang sangat menonjol—dipopulerkan di kalangan rakyat oleh para penutur cerita dan musisi—telah memainkan peran yang lebih penting dibandingkan peran ekonomi atau kekuatan militer murni, dalam mengalahkan ekstremisme religius di Jawa.

Pada akhirnya, sebuah dinasti baru muncul, yang didirikan berdasarkan prinsip “singgasana untuk rakyat,” membangun toleransi religius sebagai aturan hukum, dan menjamin kebebasan berkesadaran bagi semua warga Jawa. Pendiri dinasti itu adalah seroang Sufi Muslim Jawa dan pengikut Sunan Kalijaga bernama Senopati ing Alogo. Dasar kemenangannya adalah ajakan populer pesan kebebasan, keadilan dan spiritualitas batin Senopati yang menonjol, berbeda dengan fanatisme dan tirani lawan-lawan politiknya.

Sekarang, lebih dari empat ratus tahun berlalu, warisan Sunan Kalijaga dan Senopati masih bertahan, dalam bentuk kultur toleran dan pluralistik Jawa yang khas. Para keturunan ideologis mereka terus menolak arus ekstremisme religius, sekarang didanai oleh negara-negara petrodolar Teluk dan didukung elit-elit lokal, yang menggunakan Islam radikal untuk kepentingan pribadi, atau untuk menyerang dan melumpuhkan proses reformasi dalam masyarakat Indonesia.

Para pemimpin kontemporer—seperti keturunan Senopati, Sri Sultan Hamengkubuono X; Kyai Haji Abdurrahman Wahid, mantan presiden Indonesia dan lama memimpin organisasi Muslim terbesar di dunia; Amin Abdullah, rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga; dan bintang rock Ahmad Dhani—tidak sendirian dalam usaha-usaha mereka, tapi didukung oleh puluhan juta rakyat Indonesia, yang ingin melestarikan kultur mereka yang tercerahkan menyambut toleransi dan keragaman religius.

Kaum radikal benci dan takut pada Islam Jawa. Fakta bahwa penduduk Muslim terbesar di dunia(Indonesia) tidak menyetujui pandangan-pandangan intoleran kaum radikal Wahhabi/Salafi adalah sumber kebencian terus-menerus banyak orang Saudi dan kaum radikal lainnya. Akibatnya, Indonesia berada di ujung tanduk: target dari serangan kaum radikal untuk menghancurkan bentuk Islam yang sangat liberal dan radikal di muka bumi, dengan: 1) mencoba menulis kembali konstitusi Indonesia untuk memasukkan hukum syari'ah; 2) mendanai terorisme; 3) melembagakan perubahan legislatif secara perlahan; dan 4) menguasai kota-kota dan propinsi-propinsi yang di dalamnya kaum radikal memaksakan pandangan-pandangan mereka melalui dukungan lokal atau intimidasi.

Dalam banyak hal, Indonesia mirip Inggris dalam Perang Dunia II. Kegagalan Hitler menguasai Inggris Raya menyebabkan dia kalah dalam perang tersebut, sebagaimana Inggris telah diubah menjadi sebuah “kapal yang tidak bisa ditenggelamkan,” dan markas tempat pembebasan Eropa diluncurkan. Demikian pula, Indonesia bisa bekerja sebagai sebuah papan peluncur untuk sebuah serangan intelektual dan kultural terhadap ideologi ekstremis di seluruh dunia Muslim. Dengan mengintegrasikan tradisi-tradisi spiritualnya yang kaya dengan praktik-praktik modern paling baik, Islam Indonesian/Jawa bisa bekerja sebagai sebuah model bagi peradaban Islam di seluruh dunia.

Kaum radikal telah memutuskan untuk mencegah hal ini terjadi. Selama beberapa dekade, orang-orang Saudi telah dengan diam-diam mempromosikan Islam keras di Indonesia: dengan mendanai lembaga-lembaga pendidikan; menyediakan beasiswa belajar di univesitas-universitas Saudi; mendanai kelompok-kelompok radikal untuk melancarkan jihad terhadap umat Kristen dan Barat; membangun mesjid-mesjid dan menggaji para imam; mengedarkan dengan cepat terjemahan teks-teks kaum radikal dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan mendanai distribusinya kepada jutaan orang; dan berusaha mendiskreditkan para pemimpin Islam progresif.

“Perjuangan melawan para ekstremis tidak hanya militer dan diplomatik, ia juga sebuah perang ide-ide. Dalam pertempuran ini ada sedikit negara yang lebih penting daripada Indonesia, penduduknya yang mencapai 230 juta membuat Indonesia sebegitu jauh merupakan negara Muslim dan demokrasi terbesar. Ia juga merupakan rumah pusat terbesar Muslim yang mengembangkan sebuah pemahaman Islam yang at home dalam suatu dunia yang demokratis dan beragam, dan terus manolak versi-versi reaksioner yang diekspor dari Saudi Arabia.”

~ Paul Marshall, anggota senior pada the Freedom House's
Center for Religious Freedom.

Uang adalah amunisi dalam perang ide-ide, dan aktivitas-aktivitas Saudi di Indonesia hanya bagian dari $70 milyar kampanye untuk menyebarkan sekte fundamentalis Wahhabi mereka ke seluruh dunia. Usaha-usaha pemaksaan Saudi ini membangun “serangan propaganda terbesar di seluruh dunia yang pernah dilakukan—yang mengalahkan usaha-usaha propaganda Soviet pada puncak Perang Dingin.” — “Berapa milyar dalam uang minyak yang telah membiakkan jaringan teror global,” U.S. News & World Report, (12/15/03).

Sebagaimana telah Daniel Pipes dari the Middle East Forum tuliskan, “Islam militan adalah masalah. Islam moderat adalah solusi.” Sialnya, Muslim moderat berada dalam kesemrawutan, dan nyaris tidak bersuara di seluruh dunia dewasa ini. Mereka punya sedikit sumber-sumber dorongan dan dukungan internasional yang terorganisasi—tidak seperti kaum radikal, yang menikmati dukungan finansial dari Saudi dan para pendukung lainnya.

Dengan menekan Saudi Arabia untuk menghentikan pendanaannya kepada kelompok-kelompok radikal, dan dengan menerapkan pelajaran perjuangan historis Jawa, kita bisa membantu mereduksi ekstremisme religius dan mendiskreditkan penggunaan teror di seluruh dunia. Itu berarti membantu para pemimpin moderat dan progresif memperomosikan tujuan kebebasan, toleransi, dan keadilan di negeri-negeri Muslim lainnya, dan mendorong spiritualitas batin yang sebenarnya sebagai anti-racun terhadap fanatisme religius. Seruan ide-ide ini jelas, dengan ajakan pada reformasi politik yang sekarang tengah menggema di seluruh Timur Tengah. Gagasan ini juga sangat penting untuk melawan tumbuhnya partai-partai fundamentalis garis keras yang berusaha mengeksploitasi keputusasaan yang disebabkan oleh korupsi, kekacauan ekonomi, dan politik yang lama, serta munculnya proses reformasi demokratis, untuk mendominasi masyarakat-masyarakat mereka masing-masing—sangat mirip Hitler yang naik ke kekuasaan yang dengan cerdik mengeksploitasi penderitaan dan kejengkelan rakyat Jerman dalam sebuah Jerman Weimar demokratis yang baru.

Para imigran Muslim ke Barat juga bisa memainkan peran penting dalam proses historis ini, dengan membantu mendamaikan dan mengintegrasikan keyakinan Islam tradisional dengan dunia kontemporer. Sekalipun populasi Muslim Eropa Barat (15 juta) dan Amerika Utara (3 juta) relatif kecil, eksistensi Muslim modernis, Sufi dan sekuler di Barat menawarkan peluang mengembangkan “Euro-Islam” dan “North American Islam” sebagai benteng melawan ekstrmisme religius yang destruktif. Gagasan-gagasan Euro- and North American Islam bisa diterjemahkan ke dalam arus utama pemikiran Islam di seluruh dunia—dengan menciptakan sebuah sinergi yang kuat dengan rekan-rekan dari Indonesian, Asia Selatan dan Timur Tengah—untuk meminggirkan dan akhirnya mengalahkan seruan Islam radikal pada generasi muda Muslim.

Tentu, para Wahhabi telah lama berusaha melakukan perlawanan yang pasti. Mereka berusaha mencegah asimilasi dan melakukan konversi komunitas-komunitas Muslim imigran di Barat kepada merk Islam militan mereka sendiri, seperti dibuktikan oleh serangan-serangan teroris, kekacauan sosial dan menyebarnya usaha-usaha membungkam kritik apa pun terhadap kaum radikal yang kini subur di Eropa.

Dengan demikian, kita mendapati diri ktia berada dalam pacuan melawan waktu, yang di dalamnya masa depan dunia kita saling terkait tergantung pada hasil perjuangan global demi jiwa Islam ini. Karena suburnya senjata pembunuh massal, bersama dengan ideologi keras, nihilistik, secara tak terhindarkan akan menempatkan senjata-senjata semacam itu berada di tangan mereka yang ingin sekali menggunakannya—kecuali jika penduduk dunia menemukan landasan bersama yang didasarakan pada ajaran batin, spiritual setiap agama, dan sebuah pengakuan atas kemanusiaan bersama, yang lebih membangkitkan saling pemahaman dan toleransi, daripada kebencian.[]

 

< Terrorist Threat