Sekalipun mengaku dirinya ‘Muslim sejati,’ musuh-musuh
Amerika ini sebenarnya adalah juga musuh-musuh Islam sendiri, dan Muslim
mana pun yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan radikal
mereka—apakah berpandangan tradisional atau modern; sekuler atau
sangat taat pada dimensi batin, spiritual Islam.
Ideologi politis totalitarian yang diperjuangkan oleh Osama bin Laden
tidak lebih mewakili Islam ‘sejati’ dibandingkan Inkuisisi
Kristen ‘sejati’ Spanyol. Demikian pula, perbedaan antara Ayman al-Zawahiri
letnan Bin Laden dan Sufi kontemporer pada setiap titik adalah
sebesar perbedaan antara Seorang inkuisitor besar dan Santo Francis
dari assisi.
Berbeda dari citra Islam dalam banyak pikiran Barat,
kultur dunia Muslim
tidak pernah sama, atau bahkan secara terpencil bersatu dalam
prspektif teologis. Membentang sepanjang empat belas ratus tahun,
tiga benua dan ratusan kelompok etnik dan bahasa, dari Spanyol
dan Maroko hingga ke Cina dan Filipina, tidak pernah ada
keseragaman kultur atau keyakinan religius di dunia Islam, apakah secara spontan atau dipaksakan oleh kaum fanatik.
Setidaknya,
tidak hingga abad ke-20, ketika menyebarnya teknologi modern
memungkinkan kekuasaan orang-tua sangat bergairah mengasuh mutan
dan bentuk kontemporer yang berbahaya.
Selama seratus tahun yang lalu, ‘jalan paling besar’ yang telah
sangat efektif menyebarkan kontribusi Barat pada kultur global,
untuk kebaikan atau keburukan,
secara simultan telah mendorong penyemaian sebuah persaingan
ideologi di seluruh dunia yang mengklaim hak menaklukkan melalui
jihad, dan untuk menguasai semua bentuk ekspresi religius dan
kultural di muka bumi.
Berbeda dari agama Islam sendiri, 'Islamisme' (atau 'fundamentalisme Islam')
adalah sebuah utopia ideologi politik yang menyatakan bahwa
penghancuran negara-bangsa sekuler dan pendirian suatu bentuk
pemerinahan totalitarian—yang diyakini berdasarkan pada model
Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya—akan menghasilkan sorga
sosial yang bebas dari ambisi dan kekurangan melalui penerapan
kaku hukum Islam.
Islamisme telah dilahirkan dalam pikiran para
intelektual Mesir abad ke-20 yang meneorikan di bawah arus
'isme-isme' besar lain abad ke-20:
komunisme dan fasisme. Hasan al-Banna, pendiri Ikhwan
al-Muslimun,
atau Persaudaraan Muslim, pada tahun 1928, dan Sayyid Qutb, yang
menulis pada tahun 1950-an,
bekerja sama membuat sebuah kontribusi unik pada penderitaan
umat manusia.
Keberhasilan mereka adalah mengawinkan impuls totalitarian dan
teknologi modern dengan sebuah kecenderungan Islam yang secara
radikal tidak toleran, fundamentalis yang dikenal sebagai
Wahhabi, dan Salafisme.
Islamisme adalah benar-benar setak-toleran, dan sekeras, Nazisme
Hitler, namun dinamika struktur, ideologi, dan penyebarannya
lebih mirip dengan Komunisme internasional pada masanya, yang
jangkauan pengaruh ideologinya menggoda orang-orang seberagam Mao Tse Dong, Alger Hiss, Che Guevara, Patrice Lumumba, Kim Philby, Pol
Pot dan Haile Mengistu.
Sedikit gerakan politik yang mempunyai kekuatan
ideologis, atau berbahaya, yang mampu menembus batas-batas negara,
merekrut jutaan pengikut baru dan mengalihkan kesetiaan
anak-anak bangsa. Komunisme berbahaya tepatnya karena ia punya
kekuatan demikian, yang ditingkatkan oleh dukungan finansial
sebuah negara kaya-sumber daya (Rusia) yang dibajak oleh
ideologi yang sama.
Seruan Islamisme kepada para pengikut potensial pada
setiap tahap sangatlah hebat, dewasa ini, sebagaimana seruan
teori Marxis pada abad yang lalu.
Dan, seperti para revolusioner komunis di masa lalu, gerakan
Islamisme sangat mengandalkan dukungan finansial dan ideologis
yang luar biasa dari Arab Saudi yang kaya minyak dan Negara-negara
Teluk tetangganya—atau,
dalam hal Islamisme Syi'ah, oleh Iran.
Mungkin 10-15% dari semua Muslim baru-baru ini
berbagi pandangan-pandangan radikal yang melandasi visi utopia
radikal Osama bin Laden—yang mengubah 130-200 juta orang, di
seluruh dunia. Dengan perkecualian Abu al-A'la al-Mawdudi dari
Pakistan, kebanyakan ideologi terkemuka fundamentalisme Islam
adalah para penulis Arab, dan hingga dewasa ini,
kebanyakan para pemimpin kaum radikal di negara-negara
seberagam Tanzania
dan Indonesia
adalah keturunan Arab. Bagaimanapun, para pembawa pesan Wahhabi dengan gigih berusaha menanamkan versi Islam mereka yang
tidak toleran kepada kultur-kultur lokal, pribumi di seluruh
dunia Muslim. Akibatnya bisa dilihat dari Indonesia hingga Afghanistan
dan Nigeria, yang di dalamnya Muslim pribumi—diradikalkan oleh
uang dan pengaruh Wahhabi—yang melakukan tindakan-tindakan yang
sangat brutal,
membantai puluhan ribu orang atas nama agama, termasuk umat
kristen setempat,
para turis Barat dan bahkan Muslim yang tidak setuju dengan
pandangan-pandangan radikal mereka.
Menurut the World Almanac dan Book of Facts 2005, total umat
Muslim dunia mendekati jumlah 1.3 milyar orang, 295 juta darinya
tinggal di negara-negara berbahasa Arab, yang berada di pusat
gerakan Islam radikal.
Pusat gravitas
Islam,
bagaimanapun, tidaklah terletak di Mekkah atau Kairo, tapi
sangat jauh ke Timur. Jumlah Muslim (560 juta) yang tinggal
di Indonesia (190 juta), Pakistan (135 juta), India (121 juta),
dan Banglades (114 juta) hampir sebanyak dua kali jumlah Muslim
di seluruh dunia Arab. Dengan demikian, 'perjuangan demi jiwa
Islam' secara tak terhindarkan harus diperjuangkan dan
dimenangkan tidak hanya di daratan Arab, melainkan di
pinggirannya pula—sebuah fakta yang menawarkan peluang unik,
tidak banyak diketahui oleh mereka yang ingin mempromosikan
interpretasi Islam yang moderat dan progresif.
Penduduk non-Arab punya kemampuan untuk membantu
mendefinisikan Islam, dan untuk mendiskreditkan Wahhabisme/Islamisme
sebagai sebuah gerakan dangkal yang menyimpang atau 'pemahaman
Badui atas Islam' yang didanai oleh para ekstremis kaya-minyak.
Terletak di pinggiran timur Islam, Indonesia telah lama dikenal
mempunyai versi Islam paling liberal, toleran yang dipraktikkan
di mana pun di muka bumi. Tradisi-tradisinya bukanlah sebuah
kebetulan, melainkan hasil dari lingkungan-lingkungan historis
yang tepat,
yang menawarkan pelajaran tak ternilai bagi kita dalam
perjuangan melawan ekstremisme dan teror religius dewasa ini.
Abad keenam adalah masa perubahan hebat dan
pertumpahan darah di pulau Jawa Indonesia,
saat negara-negara kota Muslim yang baru di pesisir utara
pulau tersebut menghancurkan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha
Majapahit dan Pajajaran, dan memperluas kekuasaannya ke
pedalaman pulau dimaksud.
Mabok dengan kemenangan, para pengikut fanatik agama
yang baru—beberapa keturunan Arab atau Cina—menyebarkan teror
saat mereka berusaha memusnahkan warisan kultural Jawa kuno,
atas nama Satu Tuhan, Allah. Yang melawan mereka adalah warga
Jawa pribumi—sekarang dipimpin oleh para wali Islam dan tokoh
politik, seperti Sunan Kalijaga—yang memperjuangkan kelesatarian
dan dasar bersama antaragama, berdasarkan prinsip toleransi dan
tasawuf.
Hampir selama seratus tahun, kekuatan-kekuatan yang
berlawanan berjuang demi jiwa Jawa—dan, akhirnya, demi jiwa
Islam—dalam sebuah perang yang keterlibatan-keterlibatan
esensialnya tidak hanya di medan tempur, melainkan juga dalam
hati dan pikiran individu yang tak terhitung yang tersebar di
berbagai daerah Jawa yang hijau, tropis. Karena
dalam konflik antara kaum jihadis ortodok dan Sufi Muslim ini,
ideologi spiritual Sufi yang sangat menonjol—dipopulerkan di
kalangan rakyat oleh para penutur cerita dan musisi—telah
memainkan peran yang lebih penting dibandingkan peran ekonomi
atau kekuatan militer murni, dalam mengalahkan ekstremisme
religius di Jawa.
Pada akhirnya, sebuah dinasti baru muncul, yang didirikan
berdasarkan prinsip “singgasana untuk rakyat,” membangun
toleransi religius sebagai aturan hukum, dan menjamin kebebasan
berkesadaran bagi semua warga Jawa. Pendiri dinasti itu adalah
seroang Sufi Muslim Jawa dan pengikut Sunan Kalijaga bernama Senopati ing Alogo.
Dasar kemenangannya adalah ajakan populer pesan kebebasan,
keadilan dan spiritualitas batin Senopati yang menonjol,
berbeda dengan fanatisme dan tirani lawan-lawan politiknya.
Sekarang, lebih dari empat ratus tahun berlalu, warisan Sunan
Kalijaga dan Senopati masih bertahan, dalam bentuk kultur
toleran dan pluralistik Jawa yang khas. Para keturunan
ideologis mereka terus menolak arus ekstremisme religius,
sekarang didanai oleh negara-negara petrodolar Teluk dan
didukung elit-elit lokal, yang menggunakan Islam radikal untuk
kepentingan pribadi, atau untuk menyerang dan melumpuhkan proses
reformasi dalam masyarakat Indonesia.
Para pemimpin kontemporer—seperti keturunan Senopati,
Sri Sultan Hamengkubuono X; Kyai Haji Abdurrahman Wahid,
mantan presiden Indonesia dan lama memimpin organisasi Muslim terbesar di dunia; Amin
Abdullah, rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga; dan bintang rock Ahmad Dhani—tidak sendirian dalam usaha-usaha
mereka,
tapi didukung oleh puluhan juta rakyat Indonesia, yang ingin
melestarikan kultur mereka yang tercerahkan menyambut toleransi
dan keragaman religius.
Kaum radikal benci dan takut pada Islam Jawa. Fakta bahwa
penduduk Muslim terbesar di dunia(Indonesia) tidak
menyetujui pandangan-pandangan intoleran kaum radikal Wahhabi/Salafi
adalah sumber kebencian terus-menerus banyak orang Saudi dan kaum
radikal lainnya. Akibatnya, Indonesia berada di ujung tanduk:
target dari serangan kaum radikal untuk menghancurkan
bentuk Islam yang sangat liberal dan radikal di muka bumi, dengan: 1)
mencoba menulis kembali konstitusi Indonesia untuk memasukkan
hukum syari'ah; 2) mendanai terorisme; 3) melembagakan perubahan
legislatif secara perlahan; dan 4) menguasai kota-kota dan
propinsi-propinsi yang di dalamnya kaum radikal memaksakan
pandangan-pandangan mereka melalui dukungan lokal atau
intimidasi.
Dalam banyak hal, Indonesia mirip Inggris dalam
Perang Dunia II. Kegagalan Hitler menguasai Inggris Raya
menyebabkan dia kalah dalam perang tersebut, sebagaimana
Inggris telah diubah menjadi sebuah “kapal yang tidak bisa
ditenggelamkan,” dan markas tempat pembebasan Eropa
diluncurkan. Demikian pula, Indonesia bisa bekerja sebagai
sebuah papan peluncur untuk sebuah serangan intelektual dan
kultural terhadap ideologi ekstremis di seluruh dunia Muslim.
Dengan mengintegrasikan tradisi-tradisi spiritualnya yang kaya
dengan praktik-praktik modern paling baik, Islam
Indonesian/Jawa bisa bekerja sebagai sebuah model bagi
peradaban Islam di seluruh dunia.
Kaum radikal telah memutuskan untuk mencegah hal ini
terjadi. Selama beberapa dekade, orang-orang Saudi telah dengan
diam-diam mempromosikan Islam keras di Indonesia: dengan
mendanai lembaga-lembaga pendidikan; menyediakan beasiswa
belajar di univesitas-universitas Saudi; mendanai
kelompok-kelompok radikal untuk melancarkan jihad terhadap umat
Kristen dan Barat; membangun mesjid-mesjid dan menggaji para
imam; mengedarkan dengan cepat terjemahan teks-teks kaum radikal
dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dan mendanai
distribusinya kepada jutaan orang; dan berusaha mendiskreditkan
para pemimpin Islam progresif.
Uang adalah amunisi dalam perang ide-ide,
dan aktivitas-aktivitas Saudi di Indonesia hanya bagian dari $70
milyar kampanye untuk menyebarkan sekte fundamentalis Wahhabi
mereka ke seluruh dunia. Usaha-usaha pemaksaan Saudi ini
membangun “serangan propaganda terbesar di seluruh dunia yang
pernah dilakukan—yang mengalahkan usaha-usaha propaganda Soviet pada puncak Perang Dingin.”
— “Berapa milyar dalam uang minyak yang telah membiakkan
jaringan teror global,”
U.S.
News & World Report, (12/15/03).
Sebagaimana telah Daniel Pipes dari the
Middle East Forum tuliskan, “Islam militan adalah masalah.
Islam moderat adalah solusi.” Sialnya,
Muslim moderat berada dalam kesemrawutan, dan nyaris tidak
bersuara di seluruh dunia dewasa ini. Mereka punya sedikit
sumber-sumber dorongan dan dukungan internasional yang
terorganisasi—tidak seperti kaum radikal, yang menikmati dukungan
finansial dari Saudi dan para pendukung lainnya.
Dengan menekan Saudi Arabia untuk menghentikan
pendanaannya kepada kelompok-kelompok radikal, dan dengan
menerapkan pelajaran perjuangan historis Jawa,
kita bisa membantu mereduksi ekstremisme religius dan
mendiskreditkan penggunaan teror di seluruh dunia. Itu berarti
membantu para pemimpin moderat dan progresif memperomosikan
tujuan kebebasan, toleransi, dan keadilan di negeri-negeri
Muslim lainnya,
dan mendorong spiritualitas batin yang sebenarnya sebagai
anti-racun terhadap fanatisme religius.
Seruan ide-ide ini jelas, dengan ajakan pada reformasi
politik yang sekarang tengah menggema di seluruh Timur Tengah. Gagasan
ini juga sangat penting untuk melawan tumbuhnya partai-partai
fundamentalis garis keras yang berusaha mengeksploitasi
keputusasaan yang disebabkan oleh korupsi, kekacauan ekonomi, dan
politik yang lama, serta munculnya proses reformasi
demokratis, untuk mendominasi masyarakat-masyarakat mereka
masing-masing—sangat mirip Hitler yang naik ke kekuasaan yang
dengan cerdik mengeksploitasi penderitaan dan kejengkelan rakyat
Jerman dalam sebuah Jerman Weimar demokratis yang baru.
Para imigran Muslim ke Barat juga bisa memainkan
peran penting dalam proses historis ini, dengan membantu
mendamaikan dan mengintegrasikan keyakinan Islam tradisional
dengan dunia kontemporer. Sekalipun populasi Muslim Eropa Barat (15
juta)
dan Amerika Utara (3 juta) relatif kecil, eksistensi
Muslim modernis, Sufi dan sekuler di Barat menawarkan peluang
mengembangkan “Euro-Islam” dan “North
American Islam”
sebagai benteng melawan ekstrmisme religius yang
destruktif. Gagasan-gagasan Euro- and North
American Islam bisa diterjemahkan ke dalam arus utama
pemikiran Islam di seluruh dunia—dengan menciptakan sebuah
sinergi yang kuat dengan rekan-rekan dari Indonesian, Asia
Selatan dan Timur Tengah—untuk meminggirkan dan akhirnya
mengalahkan seruan Islam radikal pada generasi muda Muslim.
Tentu, para Wahhabi telah lama berusaha melakukan perlawanan
yang pasti. Mereka berusaha mencegah asimilasi dan
melakukan konversi
komunitas-komunitas Muslim imigran di Barat kepada merk Islam
militan mereka sendiri, seperti dibuktikan oleh
serangan-serangan teroris, kekacauan sosial dan menyebarnya
usaha-usaha membungkam kritik apa pun terhadap kaum radikal yang
kini subur di Eropa.
Dengan demikian, kita mendapati diri ktia berada dalam
pacuan melawan waktu, yang di dalamnya masa depan dunia kita saling terkait tergantung pada hasil perjuangan global demi
jiwa Islam ini. Karena suburnya senjata pembunuh massal, bersama
dengan ideologi keras, nihilistik, secara tak terhindarkan akan
menempatkan senjata-senjata semacam itu berada di tangan mereka
yang ingin sekali menggunakannya—kecuali jika penduduk dunia
menemukan landasan bersama yang didasarakan pada
ajaran batin,
spiritual
setiap agama, dan sebuah pengakuan atas kemanusiaan bersama, yang lebih membangkitkan saling pemahaman
dan toleransi, daripada kebencian.[]