Mantan Eksekutif Telkom Memerangi Ekstremisme di Indonesia


Associated Press

Pikiran C. Holland Taylor tampak bergerak lebih cepat dibandingkan bicaranya ketika menjelaskan Libforall Foundation, inisiatif kebijakan asing personal yang mantan eksekutif telkom itu dirikan untuk memerangi ekstremisme Islam di Indonesia.

"Kami terlibat dengan individu-individu melalui ide-ide. Kami menyerang Islam radikal melalui ide-ide," kata Taylor, menjelaskan keinginannya untuk menghubungkan para pemimpin Muslim moderat di Indonesia dalam sebuah jaringan "mercusuar di dalam dunia Islam" yang akan mempromosikan toleransi dan kebebasan berpikir dan beribadah.

Satu dekade yang lalu, Taylor adalah kepala USA Global Link, sebuah perusahaan telekomunikasi yang selama hari-hari deregulasi the Wild West tahun 1990-an adalah pemimpin dalam bisnis "panggil-balik" (callback) - menjual murah panggilan telppon Amerika kepada para penelpon asing. Dia adalah juga seorang aktivis libertarian dan lama mempraktikan meditasi transendental.

Tapi Taylor, 49, meninggalkan USA Global Link pada tahun 1998 dan telah menghabiskan banyak waktu sejak tinggal dan belajar di Indonesia, kepulauan berpenghuni 210 juta orang yang membentang melintasi Samudera Indonesia antara Asia Selatan dan Australia.

Dia berada di pulau utama Indonesia, Jawa pada 11 Sepember 2001; serangan-serngan hari itu membangun meyakinkan Taylor bahwa bangsa Muslim terbesar di dunia itu adalah sebuah front penting dalam perjuangan melawan ekstremisme Islam.

Sebegitu jauh, semua pekerjaan yang dilakukan oleh LibForAll (sebuah frase singkatan dari "liberty for all") dari kantor pusatnya di the North Carolina kota tembakau Winston-Salem telah berada di Indonesia. Tapi Taylor berharap untuk segera memperluas pekerjaannya ke negeri-negeri Muslim lain seperti Mesir, dan musim gugur ini akan mulai mengumpulkan uang untuk usaha itu. Sebegitu jauh, dia telah menghabiskan $250,000 dari uangnya sendiri.

Sekitar 80 persen rakyat Indonesia adalah Muslim. Dan, sementara banyak serangan teror mengarah pada beberapa sasaran oleh kaum religius radikal tahun-tahun ini, kebanyakan Muslim yang mempraktikkan agama yang secara umum toleran di sana sangat dipengaruhi oleh sisa-sisa ritual Hindu dan Budha, yang mendahului Islam di kepulauan itu.

Taylor ingin Libforall segera meningkatkan profile para pemimpin Islam moderat dan liberal yang ingin bekerja keras untuk nilai-nilai pluralistik, demokratis, termasuk bintang pop Indonesia Ahmad Dhani dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, yang juga akrab disapa Gus Dur.

Pada sebuah konferensi pers dan acara di bulan Juni, Gus Dur dan Taylor menyerahkan the "Libforall Award" kepada para anggota band Dhani, Dewa, sebagai pengakuan atas "kontribusi luar biasa mereka pada perdamaian dunia, dengan mengkomunikasikan nilai-nilai spiritual cinta, kebebasan, dan toleransi kepada jutaan pendengar." Acara selebriti-berpengaruh itu telah diliput secara luas di media Indonesia.

Pada akhir Juli, sebah kelompk ulama konservatif yang berpengaruh mengeluarkan serangkaian fatwa yang melarang "pemikiran Islami liberal," sebagaimana juga pluralisme dan sekularisme. Pernyataan-pernyataan, atau fatwa, yang dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia itu dalam beberapa hari telah dikecam oleh Gus Dur dan para pemimpin religius lainnya di bawah panji "Aliansi Menuju Masyarakat Sipil" - sebuah peristiwa yang staf Libforall bantu pelaksanaannya.

Strategi lain Libforall termasuk mendanai para akademisi yang belajar dan mempromosikan Islam moderat dan beasiswa belajar untuk anak-anak agar bisa belajar di sekolah-sekolah yang mengajarkan nilai-nilai pluralisme - sebuah perlawanan kepada sekolah-sekolah religius yang didanai-Saudi yang lazim di Indonesia.

Apakah bantuan dari seorang Amerika yang idealis akan membantu atau mempersulit Muslim liberal Indonesia tidaklah jelas.

Donald Emmerson, direktur Institut for Internatioanal Studies Stanford University dan ahli tentang Indonesia, mengatakan konflik bangsa itu merefleksikan sebuah perjuangan yang lebih luas di dalam Islam.

"Sejujurnya saya sangat ragu" pada keterlibatan Libforall, kata dia. "(Kawan-kawan) saya dengan yakin akan menunjukan... pada resiko-resiko yang tampak menjadi intervensi Amerika dalam suatu topik yang sangat sensitif."

Emmerson tidak berbagi pesimisme itu: "Islam liberal atau moderat telah punya jejak di Indonesia," kata dia.

Robert Hefner, seorang ahli Indonesia di Boston University, melihat aktivisme seperti yang dilakukan Taylor sebagai anti-racun potensial pada pandangan negatif terhadap Amerika yang ada di Indonesia, di mana banyak yang yakni kebijakan asing AS. tidak merefleksikan komitmen pada nilai-nilai demokrasi.

"Orang-orang Amerika idnividual (seperti Taylor) dengan pasti bisa membantu memperbaiki hal ini," kata Hefner dalam wawancara e-mail.

Gairah Taylor pada pluralisme religius merupakan bagian dari warisan ini; dia adalah keturuna dari Moravian, Protestan Jerman yang datang ke North Carolina pusat pada abad ke-18 mencari kebebasan religius. Taylor tumbuh di Eropa dan Asia saat ayahnya, seorang Tentara ahli hukum, berpindah-pindah karena alasan pekerjaan.

Setelah lulus dari the University of North Carolina di Chapel Hill, Taylor aktif dalam tujuan-tujuan konservatif. Dia penulis-bersama "The Prosperity Handbook," sebuah pedoman 1984 yang didesain untuk menjelaskan prinsip-prinsip ekonomi konservatif kepada orang Amerika secara umum. Publikasi buku itu didukung oleh Bernard Oliver, pendiri Labs Hewlett-Packard.

Pada tahun 1990-an, Taylor adalah presiden dan kemudian kepala kantor eksekutif USA Global Link, yang telah menjual murah panggilan-panggilan telpon asing yang perusahaan tersebut jual secara luas dari saluran utama telpon AS., yang memungkinkan para penelpon memutus monopoli telpon negeri mereka yang mahal. Kunjungan pertamanya ke Indonesia adalah untuk urusan bisnis, sebelum penyedia layanan telpon Indonesian PT IndoSat membeli jasa pada USA Global Link.

Taylor meninggallkan USA Global Link pada tahun 1998, pindah ke Indonesia pada tahun berikutnya untuk mempelajari kultur tradisionalnya. Dia tertarik, jelasnya, dengan kesalingterkaitan tradisi-tradisi Hindu, Budha, dan Islam dalam satu aliran tasawuf Islam.

Tasawuf Indonesian kerap menggunakan meditasi dalam suatu usaha untuk meraih sebuah pengalaman langsung, personal dengan Tuhan - sebuah gagasan yang menarik Taylor.

"Meditasi dan spiritualitas merupakan landasan kokoh kehidupan batin saya dan berguna saat hubungan saya yang amat mendalam dengan para sufi," katanya. Dhani mengidentifikasi dirinya sebagai seorang sufi, kata Taylor, dan dia yakin Gus Dur menikmati sebuah hubungan spiritual dan filosofis dengan tradisi itu.

Taylor yakin "Islam Jawa... memegang kunci pada kemenangan dalam perang melawan terorisme" - sebuah fakta yang menurutnya juga diakui oleh orang-orang Saudi pendukung Wahhabisme, suatu bentuk Islam "yang dimurnikan" yang berakar pada keyakinan-keyakinan garis-keras dan kekerasan melawan siapa pun yang dianggap musuh agama itu.

Membuat Indonesia sebuah markas jihad adalah "agenda amat penting Wahhabi," yang telah menghabiskan milyaran dolar mempromosikan radikalisme, kata Taylor.

Taylor melihat adanya hubungan antara pekerjaannya dengan USA Global Link dan pekerjaannya sekarang dengan Libforall.

"Apa yang telah kami lakukan ketika itu adalah membebaskan para pengguna telpon di seluruh dunia dengan suatu model yang berbeda" yang mengambil keuntungan dari jaringan yang telah ada, kata dia. "Saya ingin membawa apa yang telah saya pelajari dalam eksplorasi sebelumnya ... dan menerapkannya pada ancaman yang lebih besar yang sekarang menghadang masyarakat global ."[]

 

Printer Friendly Version of This Page