
Mengalahkan Ekstremis Islam
Oleh Jeff Jacoby | 22 Januari 2006
''SAYA telah disebut 'Krislam' karena begitu dekat dengan umat Kristen," ucap Abdurrahman Wahid. 'Ketika
saya dikritik oleh mballigh tertentu karena tidak cukup keras terhadap 'kafir' -- karena terlalu dekat dengan Yahudi dan
Kristen -- saya suruh mereka membaca al-Qur'an lagi. Karena ketika
al-Qur'an berbicara tentang 'kuffar,' itu berarti para penyembah
berhala," bukan para penganut monoteis.
Gus Dur, mantan Presiden Indonesia,
sedang berbicara kepada saya melalui telpon dari kantornya di Jakarta.
Menemaninya adalah C.
Holland Taylor, seorang pengusaha Amerika yang jatuh cinta pada kultur Indonesian
saat berkunjung untuk kepentingan bisnis industri telpon. Setelah
serangan teroris 11/9, Taylor mendirikan LibForAll Foundation,
sebuah organisasi nirlaba yang dipersembahkan untuk memerangi para
ekstremis dengan mempromosikan kultur kebebasan dan toleransidi
dunia Muslim; Gus Dur adalan pelindung dan penasehat seniro yayasan
dimaksud.
Dengan 200 juta penduduk, Indonesia adalah bangsa Muslim terbesar
dunia, dan Gus Dur bukan hanya
presiden pertama yang terpilih secara demokratis tetapi juga
lama memimpin organisasi Muslim terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama
dengan 35 juta anggota.
Seorang ulama yang sangat disegani yang telah belajar di
Kairo dan Baghdad, Gus Dur sudah lama menjadi tokoh utama Islam moderat,
progresif, dan nonpolitis. Akibatnya, dia kerap berbenturan dengan
para fundamentalis yang pertumbuhan pengaruhnya, didanai oleh Arab/Wahhabi,
terus berusaha mengakhiri pluralisme religius tradisional Indonesia.
Tahun lalu, Gus Dur aktif memimpin
perlawanan pada 11 fatwa reaksioner, atau keputusan religius, yang
dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia. Fatwa tadi mencela ajaran
Islam mana pun yang didasarkan pada liberalisme dan sekularisme,
melarang doa antaragama yang tidak dipimpin oleh seorang Muslim, dan
bahkan menjawab ''amin" pada doa seorang non-Muslim. Gus Dur dan LibForAll denga tepat mengorganisasi sekelompok pemimpin
religius ke dalam sebuah ''Aliansi Menuju Masyarakat Sipil,"
yang mengecam fatwa-fatwa tadi sebagai tidak pantas diterima Muslim
dan tidak sesuai di bawah konstitusi Indonesia.
''Gus Dur menyatakan di tv dan radio untuk menegaskan bahwa fatwa-fatwa
itu tidak punya legitimasi dan mengajak Muslim mengabaikannya,"
kata Taylor.
''Karena keulamaannya yang sejati, kritiknya sangat berbobot. Ini
merupakan sebuah model bagaimana mengalahkan kaum radikal di seluruh
dunia."
Gus Dur dan Taylor yakin bahwa pengaruh
fanatisme sangat mudah dienyahkan dengan mempromosikan para Muslim
terkemuka yang mendukung moderasi, pluralisme, dan demokrasi.
Seorang anggota dewan pengurus LibForAll adalah bintang rock Ahmad Dhani
dari band Dewa. Beberapa hit Dhani telah dimaksudkan untuk
melemahkan gerakan kaum militan. Misalnya, sebuah album berjudul ''Laskar Cinta" (''Warriors of Love") --
sebuah permainan pada nama grup teroris, Laskar Jihad (''Warriors of
Jihad"). Dengan menggunakan musik dan keterkenalannya mendukung
tujuan damai dan toleransi antaragama, Dhani bermaksud menyelamatkan
para pemuda Muslim Indonesia dari ekstremisme dan kekerasan kaum
radikal.
Sementara semua kegiatan LibForAll
hingga saat ini dilaksanakan di Indonesia, Gus Dur dan Taylor berharap
segera mulai beroperasi di negara Muslim lain. Rencana besarnya saat
ini: sebuah proyek menerjemahkan ''Laskar
Cinta" ke dalam bahasa Arab dan kemudian merencanakan seorang
bintang pop Mesir untuk menyanyikan dan merekamnya dalam sebuah
konser di Kairo. Gus Dur bermaksud bertemu dengan para ulama Mesir dan
tokoh terkemuka, untuk menyampaikan pandangannya bahwa Islam
menuntut keterbukaan pada agama lain dan bahwa para teroris harus
ditolak dan dikecam.
Taylor menegaskan bahwa karena tradisi pluralisme
Indonesia yang panjang, dan karena pengikut Gus Dur yang luar biasa,
Indonesia adalah pusat yang ideal yang darinya bisa meluncurkan
serangan intelektal dan kltural pada ideologi ekstremis. ''Esensi" Islam, dia dan
Gus Dur jelaskan, teringkas dalam al-Qur'an (Q. S.
109:6): ''Bagimu, agamamu; bagiku, agamaku." Tapi apakah pesan
seperti itu akan bergema di dunia Arab tetap perlu dilihat.
Bagaimanapun, para ekstremis juga mengutip al-Qur'an, dan ayat-ayat
yang mereka kutip adalah tidak toleran dan supremasis
sedangkan kutipan Gus Dur adalah damai dan lembut.
Namun tidak ada yang meragukan komitmen Gus Dur pada kedamaian
antaragama. Dia mengatakan kepada Muslim Indonesia bahwa mereka
bisa belajar dari Kristen dan kehidupan umat Kristen, dan telah
mengirimkan anggota banser Nahdlatul Ulama untuk melindungi
gereja-gereja Kristen dari kekerasan para ekstremis. Belum lama ini,
salah seorang Muslim pengikut Gus Dur telah terbunuh ketika dia
menemukan bom di sebuah gereja dan menggunakan tubuhnya
untuk melindungi umat Kristen yang tengah beribadah dari ledakannya.
Tindakan tidak mengorbankan diri yang sangat mengejutkan itu
merupakan sebuah pengingat yang luar biasa bahwa Muslim tak kurang
dari non-Muslim punya kepentingan luar biasa untuk mengalahkan para
Islamofasis, dan bahwa kita tidak akan memenangkan perang melawan
kaum radikal tanpa sekutu-sekutu Muslim seperti Gus Dur.[]
Jeff Jacoby's e-mail address is
jacoby@globe.com.
© Copyright 2006 Globe Newspaper Company.
Printer Friendly Version of This Page