Direktur Program LibForAll Menasehati Kongres

Cara Memperjuangkan Kebebasan Religius
Washington, D.C.
20 Juni 2006

Direktur Program LibForAll , Dr. Ravi Krishnamurthy (sedang berpidato), menggambarkan prestasi-prestasi penting LibForAll Foundation dalam mempromosikan kebebasan religius di Indonesia, dan menjelaskan bagaimana pengalaman ini bisa dilaksanakan secara luas di negeri-negeri Islam lain. Pidatonya merupakan bagian dari Hari Kebebasan Religius di Capitol Hill, yang dilaksanakan di the Dirksen Senate Office Building dari 9:00 a.m. hingga 1:00 p.m. pada Selasa, 20 Juni 2006.

Senator Rick Santorum, Ketua the Senate Republican Conference, menjadi tuan rumah peristiwa tersebut. Para pembicara dan panelis lainnya termasuk John Hanford, Duta Besar Luar Biasa AS. untuk Kebebasan Religius Internasional; Duta Besar AS. untuk Perserikatan Bangsa-bangsa; Para Senator Sam Brownback dan Norm Coleman; House Majority Whip, Anggota Kongres Troy Blunt, Trent Franks, dan Todd Akin; William J. Murray dari the Religious Freedom Coalition; dan Paul Marshall dari the Center for Religious Freedom di Freedom House.

Pada pertemuan ini, banyak pembicara memfokuskan perhatian pada menyebarnya tindak kekejaman dan penindasan religius di banyak belahan dunia. Para ahli berbagi pandangan tentang peran Amerika Serikat dalam memperjuangkan kebebasan religius. Dalam konteks ini, LibForAll menawarkan sebuah pesan harapan, didasarkan pada keberhasilan para anggota pengurus dan menajemennya dalam mempromosikan kebebasan religius melalui kultur pop, contoh yang luar biasa berhasil dari para ahli religius dan jaringan para pemimpin Muslim moderat membantu menghentikan gelombang gerakan para ekstremis.

 

Mendorong Perubahan dari Dalam di Dunia Muslim
oleh Ravi Krishnamurthy, Ph.D.

Saya ingin berterima kasih kepada Senator Rick Santorum dan stafnya karena telah melaksanakan pertemuan ini tepat waktu, dan the Center for Religious Freedom karena mengundang saya untuk berbicara atas nama LibForAll Foundation. Kebebasan berkesadaran adalah amat sangat penting dalam sebuah dunia yang terancam oleh eksremisme dan teror religius, yang para pejuangnya tidak hanya berusaha membedakan tidak hanya prinsip-prinsip kebebasan dam toleransi, melainkan juga peradaban modern itu sendiri. Saya merasa terhormat bisa bersama Anda sekalian, dan akan menggunakan waktu saya untuk menjelaskan bagaimana LibForAll Foundation sedang bekerja bersama mitra-mitra setempat untuk mendorong perubahan di Indonesia -- bangsa dan demokrasi Muslim terbesar dunia -- dan bagaimana kami sedang mengekspor Wajah Islam yang Tersenyum dari Indonesia ke belahan dunia Muslim yang lain.

Indonesia punya warisan pluralis yang kuat yang mengalir dari pengalaman historisnya mengalahkan Islam radikal, dan melembagakan kebebasan religius, pada abad ke-16. Mari kita renungkan bahwa ini terjadi 150 tahun sebelum pendirian Pennsylvania, dan 200 tahun sebelum Undang-undang Virginia untuk Kebebasan Religius, yang digunakan sebagai dasar Amandemen Pertama kita. Pengalaman historis Indonesia menawarkan sebuah blueprint tentang bagaimana kita, yang hidup pada abad ke-21, bisa mengalahkan kekuatan-kekuatan kebencian dan intoleransi religius. Elemen terpenting dalam strategi ini adalah menyatukan para pemimpin yang berani dan kuat dalam bidang agama, pendidikan, kultur pop, pemerintahan, dan bisnis untuk mengalahkan ekstremisme religius yang melandasi dan membiakkan terorisme.

LibForAll adalah sebuah jaringan para pemimpin dalam bidang-bidang yang berbeda ini. Organisasi kami telah didirikan oleh Saudara C. Holland Taylor -- seorang penulis, pengusaha, dan pebisnis yang sukses, dan ahli tentang Islam, yang telah terlibat dengan dunia Muslim selama lebih empat dekade. Taylor mendirikan organisasi ini bersama Kyai Haji Abdurrahman Wahid, yang merupakan Presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demeokratis dan lama memimpin organisasi Muslim terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama, dengan 40 juta anggota. Presiden Wahid dan Saudara Taylor telah bersama-sama mengembangkan sebuah strategi untuk tidak hanya untuk menghentikan gelombang ekstremisme religius, tapi pada akhirnya untuk memenangkan perjuangan demi jiwa Islam yang sedang berlangsung di seluruh dunia Muslim dewasa ini. 

Strategi LibForAll Foundation telah disajikan dalam sebuah artikel yang luar biasa jelas yang dipublikasikan dalam edisi akhir tahun 2005 the Wall Street Journal  (tersedia di tabel di belakang). The Wall Street Journal melukiskan bagian ini sebagai "sebuah artrikel mahapenting untuk surat kabar ini." Artikel utama ini telah diterbitkan ulang dalam sejumlah publikasi di seluruh dunia, termasuk Jurnal the Hudson Institute Contemporary Trends in Islamist Ideology, yang merekomendasikan lembaran ini sebagai "patut sebagai bacaan dan renungan yang sangat serius." Strategi yang dilukiskan dalam artikel ini telah dengan sukses digunakan oleh LibForAll Foundation tidak hanya di Indonesia tapi juga di belahan lain dunia Muslim, seperti di Eropa dan Mesir, tempat kami sedang bekerja sama dengan reformis terkemuka Nasr Hamid Abu-Zayd.

Sekarang saya ingin menjelaskan beberapa keberhasilan yang dicapai dengan menggunakan strategi ini. Pada awalnya, Dr. Marshall menyebut serangan kepada Jaringan Islam Liberal (JIL) oleh kaum radikal yang mengancam akan membuka paksa atau bahkan menghancurkan kantornya. Presiden Wahid mengirimkan para anggota Nahdlatul Ulama (NU) untuk membela gedung JIL, dan akhirnya memaksa kaum radikal mundur. Pada sejumlah kesempatan, ulama besar ini juga telah membela umat Kristen, dengan mendorong Muslim menghormati hak-hak orang lain untuk beribadah secara bebas, dan juga dengan mengirimkan para pengikutnya untuk membela -- dengan jiwa mereka, jika perlu -- gereja-gereja yang berada dalam serangan.

Tahun lalu, MUI (Indonesian Council of Religious Scholars) mengeluarkan 11 fatwa yang berusaha meniadakan tradisi pluralisme dan toleransi religius Indonesia, dan ada suatu bahaya bahwa pemerintah bisa benar-benar mendukung fatwa ini sebagai bagian dari kebijakan religius negara. Presiden Wahid segera mengadakan konferensi pers di kantor pusat Nahdlatul Ulama dan memutuskan bahwa fatwa MUI salah secara teologis, mendiskreditkan dan meniadakan topeng "otoritas moral mutlak" yang para fundamentalis klaim memilikinya. Karena kharisma Presiden Wahid, peristiwa ini menerima liputan luar biasa dalam media cetak dan juga elektronik. Penolakannya atas fatwa MUI dengan demikian telah disampaikan kepada mayoritas terbesar keluarga Indonesia; menggagas dan menyatukan penolakan kepada fatwa tersebut, dan dengan tepat memenggal usaha "kudeta" kaum radikal.

Baru-baru ini, Presiden Wahid telah mengambil sikap terbuka yang sangat berani melawan keputusan murtad dan hukuman terhadap Muslim yang pindah ke agama lain. Tampaknya dia memang  merupakan pemimpin Muslim paling terkemuka di dunia yang telah berbuat demikian, dan pandangan-pandanannya tentang masalah ini dituturkan dengan sangat penting dalam sebuah artikel Washington Post yang bisa dibaca dalam website kami.

Berikut saya ingin berbagi sedikit cerita keberhasilan kami dalam bidang kultur pop. Anggota dewan pengurus LibForAll, Ahmad Dhani, adalah bintang rock di Indonesia, tempat keterkenalannya sepadan dengan Bono di sini. Pada tahun 2004 Dhani menggubah sebuah album berjudul Laskar Cinta ("Warriors of Love"), yang secara langsung menantang Laskar Jihad ("Warriors of Jihad"), sebuah organisasi teroris besar yang telah membunuh ribuan umat Kristen di Indonesia timur. Melalui album ini dan komentar publik yang telah disiarkan di seluruh negeri, Dhani menghidangi para pemuda Indonesia dengan sebuah pilihan yang tegas -- apakah mereka akan menjadi laskar jihad, yang memenggal wanita dan anak-anak tak berdosa? Atau laskar cinta, yang menyebarkan pesan damai, toleransi, dan kasih sayang untuk seluruh umat manusia?

Sebagai akibat dari penggunaan musik popnya yang baru untuk mendiskreditkan ideologi kaum radikal, Dhani telah disebut seorang Zionis, bid'ah, kafir, dan murtad, dan harus mengungsikan anak-anak dan istrinya untuk melindunginya. Untuk membela musikus yang pemberani ini, Presiden Wahid, Holland Taylor dan penasehat LibForAll Abdul Munir Mulkhan -- Wakil Sekretaris Muhammadiyah, yang punya tiga puluh juta anggota -- melakukan konferensi pers di kantor pusat Nahdlatul Ulama tempat mereka bersama-sama menganugerahi Ahmad Dhani dan gurpnya Dewa dengan the LibForAll Award, sebagai pengakuan atas kontribusi luar biasa mereka pada perdamaian dunia, dan karena menyajikan wajah Islam yang sebenarnya. Peristiwa ini, yang telah diliput oleh hampir semua jaringan televisi besar Indonesia, sepenuhnya mendiskreditkan klaim-klaim kaum radikal bahwa Dhani adalah seorang Zionis, bid'ah, kafir, dan membuktikan kepada publik Indonesia bahwa pesan Dhani adalah, sebenarnya, pesan "Islam yang sebenarnya."

Sejak peristiwa itu, Dhani telah menggubah dan merilis sebuah "fatwa musikal" melawan kebencian dan terorisme religius yang meluncur ke puncak tangga lagu Indonesia dan MTV Asia. LibForAll berencana menerjemahkan "fatwa musikal" ini ke dalam bahasa-bahasa seperti bahasa Arab, Turki, Persia, Urdu, Hindi and Bengali -- dan merekam lagu bersama para musisi top di setiap bahasa/kultur/pasar musik komersial ini -- agar memobilisasi kekuatan-kekuatan kultur pop untuk menolak ideologi kebencian di seluruh dunia Muslim. Seperti bisa Anda lihat dari contoh-contoh ini, kerja yang kami lakukan di LibForAll Foundation adalah didesain untuk pada akhirnya mencapai massa, yang kami capai dengan membangun hubungan-hubungan yang erat dengan para pemimpin moderat yang punya kekuatan untuk mempengaruhi sejumlah besar umat. Para pemimpin ini mengakui pentingnya kerja sama, dan jaringan LibForAll menawarkan sebuah cara praktis bagi setiap individu untuk saling melindungi dan membantu ketika diserang oleh mereka yang melawan prinsip-prinsip kebebasan dan toleransi religius.

Saya ingin menyimpulkan dengan sebuah pernyataan terbaru yang Presiden Wahid kemukakan dalam sebuah percakapan pribadi dengan Saudara Taylor, dan dengan sebuah analogi historis. Presiden Wahid berkata, “Sekarang, kaum radikal berpikir mereka sedang menang. Tapi insyaallah, suatu hari mereka akan bangun dan menyadari bahwa kita telah mengalahkan mereka!" Kekuatan-kekuatan ekstremis dan intoleransi religius tampak sedang naik daun di mana pun di dunia dewasa ini, sebagaimana, selama Perang Dunia II, Jepang tanpa menjadi pemenang saat mereka menyapu melintasi Asia saat kejadian Pearl Harbor. Bagaimanapun, keinginan alamiah demi kebebasan, yang telah Tuhan tanamkan dalam setiap keping hati manusia, akan memastikan kekalahan akhir kaum radikal.

Perjuangan ke depan mungkin lama dan berat, menuntut kembali agar "orang-orang yang berhati tulus dari setiap agama dan bangsa" memobilisasi dan bekerja sama untuk memastikan kemenangan akhir kebebasan religius dan jiwa manusia, di hadapan berlangsungnya intimidasi dan kekerasan, yang kejam. Memastikan kebebasan di hadapan kebencian dan intoleransi religius adalah kewajiban besar generasi kita. Itulah mengapa saya minta dukungan Anda, dan mengundang Anda sekalian untuk bersama kami, dalam perjuangan besar demi masa depan kemanusiaan ini. []
 

 

Printer Friendly Version of This Page