BARAT-TIMUR

Seorang Produser Arab-Amerika menggunakan kekuatan musik untuk mempersempit kesenjangan antarkultur

Oleh Joseph Braude. Joseph Braude adalah penulis "The New Iraq: Rebuilding the Country for Its People, the Middle East, and the World."  Foto-foto Shay Peretz untuk the LA Times.
26 Nopember 2006.

 

 

Dawn Elder tumbuh di San Francisco pada tahun 70-an dengan makanan rock 'n' roll dan masakan Lebanon ibunya. Kamar tidurnya penuh dengan gambar the Eagles dan Beatles yang semarak. Dia memainkan oktav-oktav piano tanpa cacat dan bermain skate delapan pola dengan sempurna di lapanan es lokal. Kepribadiannya yang menarik, kata gurunya, menjamin karier yang menjanjikan sebagai ahli kimia.

Baik pengetahuan buku-buku tekstual maupun seleranya dalam musik pop tidak bisa menjelaskan pengaruh pengalaman musik yang luar biasa yang akan menikmati malam bersama ayahnya, keturunan Palestia, yang membawanya menyaksikan pementasan seorang diva Palestina di sebuah hall konser di San Francisco. Rekan-rekan lab Elder di kelas kimia tidak pernah menduga bahwa warga California itu telah ditakdirkan mengawinkan musik Timur Tengah dan pop Amerika di studio-studio rekaman di seluruh Los Angeles.

"Pengalaman itu, seakan, sesaat di luar arus waktu," kata Elder mengenang malam yang telah lama dalam hall konser itu. "Wanita eksotik ini menyanyikan syair-syair klasik ini, dan ribuan orang Arab Amerika dari seluruh California menyanyi bersama dan mengelu-elukan dia layaknya seorang bintang rock."

Melodi-melodi Elder dan kebanyakan orang Amerika yang tumbuh bersama punya akar-akarnya dalam musik Timur Tengah, tempat asal-usul guitar elektrik dan saksofon ditemukan. Tapi pembagian estetika Timur-Barat amat luas, sebegitu jauh adalah karena ketegangan politik Amerika dan dunia Muslim mengenai perbedaan dasar harmoni. Sekalipun lagu-lagu oleh Bach dan the Beatles hanya menggunakan skala delapan-tangga—mayor dan minor—ada lebih dari selusin dalam dalam kemungkinan landscape musik yang membentang ke timur dari pesisir Atlantik Maroko. Musik yang telah Elder dengarkan malam itu di San Francisco telah dinyanyikan dalam skala-skala dengan nama-nama seperti Hijaz dan Rast, yang menandai kerumitan beragam kombinasi yang berbeda dari interval-interval nada-quartet dalam sebuah sistem model elaborat, yang bisa dilacak kembali ke Mesopotamia dan Yunani kuno.

Kini, para bintang pop Amerika sedang mengikuti gaya-gaya musikal asing ini, sebagian kecil karena dorongan Elder. Ambil saja track tari dwi-bahasa “Love to People”, sebuah duet bersama Carlos Santana dan vokalis Aljazair Cheb Khaled yang Elder garap-bersama. Lagu itu dibuka dengan desah bunyi nay, sebuah seruling gembala Arabi, yang merintihkan melodi syahdu bersama skala kecil Hijaz—pada awalnya pelan, rendah dan tidak pasti, kemudian naik dengan cepat dan tegas. Hanya ketika mata hati mulai membayangkan perubahan suasana gurun-gurun pasir jalanan Arab, sebuah groove rock Latin yang akrab yang dihentakkan pada perkusi, diikuti oleh sentakan guitar Santana yang sangat jelas dan gaya nada-nada "Smooth" dengan ritmenya yang penuh. Warna Arab dan Latin ini berjalin dengan mudah, untuk ditampilkan hanya dengan lirik-lirik dari penyanyi reggae California Elan, dalam suatu alunan suara serak-serak basah (whiskey-stained) yang menggemakan hembusan tajam seruling:

 

Surya kemarau mengambang di atas bukit

Ada yang aneh di angkasa

Dia melayang bebas di hembusan melati

Lembut laksana kupu-kupu

 

Saat Elan mendekati refrain—Memanggil Setiap Orang/Mengubah tubuh, jiwa dan pikiran—dia diikuti oleh vokalis utama Khaled, yang hit bahasa Arab- dan Prancisnya telah menyihir jutaan orang di Arab dan Eropa. Tentang track ini, dia menyanyikan dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya dalam kariernya, konvensi-konvensi pop Arab melestarikan transisi itu dengan sempurna. Dia menyuarakan vokal panjang seakan-akan dia menyanyi dalam bahasa ibunya, manghiasai kata-kata Inggris dengan gaya melodi err-Afrika Utara yang menukik dengan tajam sekitar puncak skala Arab kesukaannya. Suara-suara gabungan seperti ini telah lama diabaikan oleh bagian rekaman Musik Dunia. Tapi ia menandai gaya peleburan etnik Amerika yang secara luas memancar dari California. Dengan rasa penting yang meningkat sejak 11/9, Elder telah bekerja mendorong para produser dan artis rekaman top LA. untuk meraih dunia Arab dengan musik. Kehadiran para imigran Arab, Iran dan Asia Selatan—yang seluruhnya berjumlah lebih dari 1 juta di Greater Los Angeles—telah menciptakan kumpulan para artis etnik berbakat dan persediaan pendengar untuk gabungan musik mereka. Dan memperhatikan menyebarnya kejengkelan pada kebijakan asing pemerintahan Bush, beberapa dari para praktisi hiburan terkemuka LA. telah tertarik oleh kesempatan untuk membuat pernyataan politik dengan menggabungkan para artis Arab dan Muslim.

"Ini adalah tentang musik yang membantu rakyat Amerika memperhatikan Timur Tengah," jelas Elder, "dan menjaga pop Amerika tetap tumbuh dan terlibat."

Bahkan sebelum 11/9, para artis terkemuka yang berani telah membuktikan bahwa sebuah campuran musik Timur dan Barat bisa mencabut konflik dan berpengaruh secara mendalam—dan secara romantis—dengan para penikmat pop Amerika. Hit terbesar Sting "Desert Rose," misalnya, dari album "Brand New Day" 1999, punya penyanyi Inggris yang melantunkan misteri-misteri Sahara, sementara di antara syair-syairnya suara bintang pop Aljazair Cheb Mami yang melengking menghembuskan desahan cepat di sekitar skala Aljazair kuno. Lirik yang Mami nyanyikan mungin tidak bisa dipahami oleh kebanyakan penikmat Amerika, tapi vokal dunia-lain ini kembali membantu "Desert Rose" menyapu tangga lagu pop di seluruh dunia, termasuk Top 40 Amerika.

 

Baru-baru ini, suara-suara pop Arab telah dipindahkan dari belakang ke depan. Ketika DJ Chebi Sabbah, anak buah dan rekan lain Elder, mempertontonkan permainan discs di Temple Bar di Santa Monica, jalanan di luar klub tampak seakan-akan membentang ke kampung halamannya, North Africa. Spekulasi kekhawatiran atas ketersediaan tiket dalam pentas bahasa Arab, Urdu, Persia, Inggris, dan Spanyol. "Dialah orang kecil bertenaga-besar ini yang melakukan musik tari Amerika," kata Elder. Hentakan musik dalam ruangan yang asik mempertemukan suara-suara Arab, Afrika, dan Asia yang amat berbeda—kampung dunia Muslim—kelembutan seorang DJ Yahudi Aljazair dengan sebuah kultus yang menyusul bentang beragam etnik dan sekte di LA.

Suasana-suasana seperti itu bukanlah kebetulan.

Saya melihat Elder melangkah ke dalam studio Elias Arts di Santa Monica suatu malam dengan tangan menjinjing tas penuh CD berharga dengan label berbahasa Arab, Persia, dan Prancis. Dia memberi salam kepada seorang pemain perkusi Mesir di lobi dengan salam tradisional ciuman di kedua pipi dan melakukan percakapan kecil dalam dialek Libanon beraksen Amerika. Kemudian kepada produser Jonathan Elias, seorang komposer terkemuka dari movie trailer dan soundtrack komersial TV, dia berjabat tangan erat.

"Saya membawakan CD pertunjukan dan perbincangan untuk Anda," kata dia, sambil menunjukkan kepingan CD musik kelas dunia. Selanjutnya, selama beberapa jam hingga malam, terasa seperti persimpangan antara sesi Def Jam dan sebuah sesi perdebaan United Nations Security Council. Para perkusionis yang berjuang dengan sebuah perbatasan bahasa menuntut keahlian mediasi Elder untuk memutuskan apakah sebuah ritme Pakistan bisa disandingkan dengan hentakan standar rock. Saat pemain seruling Arab berjuang mengendalikan ruang kedap suara, dengan tanpa henti Elder terus memandanginya, menggerakkan kedua tangannya untuk memberi solusi pada masalahnya, sambil masuk ke dalam pengarahan pertunjukan-dan-perbincangan (show-and-tell) tanpa persiapan untuk Elias.

"Hanya memberimu gagasan baik di mana saya memulai dengan ini," kata dia, "di sinilah contoh Umm Kulthum pada tahun 50-an." Pada sebuah tombol dasar, corong pengeras suara yang sekelilingnya dalam campuran CD Elder dari diva Kairo paling termasyhur, terdengar "suara Mesir," yang melengkingkan sebuah syair epik kepada para penonton, didukung dengan orkestra dawai-berat 32-larik.

"Aku cinta itu," kata Elias. "Semua instrumen itu terdengar dimainkan dalam satu suara, tentu."

Elder mengangguk pelan. "Kita tidak punya banyak harmoni dalam musik Arab tradisional."

Elias mengatakan dia telah mengajak Elder dan rekan-rekannya untuk melakukan "internasionalisasi" forum gabungan tersebut untuk album trance berikutnya, "Prayer Cycle 2." Dia membayangkan instrumen-instrumen dan para penyanyi eksotik dalam lebih dari selusin bahasa dengan menggunakan lagu tradisional untuk meminta kehadiran perdamaian dan perlindungan yang lebih tinggi dari perang nuklir. Atas visi ini, Sting, Robert Downey Jr. dan para selebriti lainnya akan membaca puisi tentang bahaya-bahaya luar biasa era atom.

 

"Saya bisa memberimu seorang penyanyi raga India Pakistan," tutur Elder kepada Elias, "karena kedua negeri itu sekarang punya bom, kan?"

Dia menjelaskan bahwa salah seorang rekannya, Riffat Sultana, adalah keturunan dinasti penyanyi yang ada sejak 500 tahun kekaisaran Mughal India Muslim. Dia juga merupakan wanita pertama yang dibolehkan menyanyi—sebuah perkembangan kultural yang penting dalam kultur Muslim Asia Selatan yang untuknya Elder ambil bagian.

Elias bilang: "Wujudkan itu, Dawn."

 

Bagaimana Elder akhirnya berhubungan secara profesional dengan asal-usulnya yang jauh, adalah sebuah cerita ketaatan pada takdir yang tertunda, dan sebuah nasib migrasi ke arah selatan sepanjang pesisir Pasifik. Seperti banyak orang California keturunan Timur Tengah, Elder telah berjuang sekuat tenaga dengan identitas multikulturalnya di tengah tekanan hubungan-hubungan antara Amerika Serikat dan kampung halaman orang tuanya. Mendamaikan semua pengaruh yang tidak selalu sesuai ini bisa lebih sulit dalam hidup dibandinkan di studio rekaman. Kini dia bisa tetap mengabaikan warisan Arab Amerikanya, tapi untuk sebuah lagu yang bersifat ideal.

Pada awal 80-an, Elder berhenti kuliah biokimia di Berkeley dan akhirnya punya pekerjaan di Santa Barbara memperomosikan rock 'n' roll dan Latino acts, dengan menggabungkan suara-suara otentik dan tujuan-tujuan penting komunitas, selama semua itu bukan miliknya.

"Ayahku dan aku pergi bersama ke sebuah perkawinan Arab di Detroit sekitar waktu itu," dia mengingat, "dan semua di perkawinan ini dilaksanakan dengan kurang baik. Sistem PA, para penari, penyanyi. Aku sampai ke poin di mana para bintang penari dan penyanyi telah mementaskan tari ini dengan sebuah candelabra di kepalanya. Aku melihat ayahku dan mengatakan, 'Baba, tidak adakah cara yang baik bagiku untuk terlibat dalam semua ini.'"

Dia bergabung dengan Mike Love dan the Beach Boys untuk merencanakan konser pengumpulan dana untuk program beasiswa dan melibatkan George Clinton dan the Funkadelics serta sejumlah grup musik lain sebagai representasi dan manajer artistik. Ketika rock Latin dimulai sebagai sebuah hentakan populer dalam musik California, dia telah memulai pertunjukan-pertunjukan festival dan konser tari Spanyol untuk merayakan sejarah Pesisir Tengah Latin.

Adalah penulis lagu Michael Sembello, seorang pemenang-Grammy Award protégé Stevie Wonder, yang pada akhir 1996 telah meminta Elder membantunya merencanakan sebuah shooting video di Long Beach berdasarkan sebuah lagu baru yang telah dia tulis, "One Planet One People." Apa yang dikenal sebagai the International Friendship Festival ingin sekali membawa sebanyak mungkin etnik dan band ke sebuah kediaman California. "Kami menyaksikannya sebagai sebuah peluang untuk membangun jembatan," kenang Elder. "Ide ini tidak melihat apa pun ras seseorang adanya—jika Anda bisa melihatnya, mendengarnya, menemukannya dan menyentuhnya, maka Anda tidak akan takut."

Para elit Yahudi, Irlandia, Italia, Latin, dan Asia Selatan di L.A. kehilangan sedikit waktu dalam mempertemukan para praktisi tari dan band untuk membuat penampilan mereka dalam festival. Tapi ketika ia sampai ke musisi Afrika Utara dan Timur Tengah, Elder terkejut menemukan bahwa komunitas itu telah terpecah dan lemah dalam hal kepemimpinan meski ada sejumlah besar imigran dan melimpah-ruahnya penari. Dalam sebuah pertemuan tentang perkembangan festival itu, beberapa perencana kegiatan menawarkan untuk mendatangkan sedikit sekawanan unta untuk dipasang di tenda pameran tentang Timur Tengah. Elder ingat, dia merasa jengkel pada dirinya: Belahan dunia yang telah melahirkan peradaban dan menemukan melodi akan diwakili oleh stereotip Timur Tengah—jika saja dia melakukan hal itu.

"Itu merupakan serangkaian pengalaman buruk bagiku, tidak ada maksud membuat lelucon," katanya. "Aku ingat konser kelas-dunia ketika ayahku membawaku untuk menyaksikannya adalah ketika aku masih gadis. Aku tahu aku harus membuat itu terjadi pada diriku."

 

Elder dengan jelas mengarahkan tari perut L.A. dan keadaan kabaret lalu beralih memberi nasehat para ahli  kultural city Arab Amerika. Dia telah berkenalan dengan the Kan Zaman Community Ensemble, sebuah perkumpulan relawan-orkestra Arab yang berkedudukan di Arcadia yang konser-konsernya menghidupkan kembali suara-suara simfoni lebih dari 1000 tahun lalu. Adam Basma, seorang penari dan koreografer kelahiran-Beirut, menjadi sahabat sang promotor dan menjadi relawan Rolodex-nya. Dan ketika Elder menyebutkan bahwa orang tuanya menaminya dengan nama diva Libanon yang terkenal Sabah (itu bermakna fajar subuh dalam bahasa Arab), Basma membiarkan beberapa gosip komunitas menyelinap:

"Anda tahu, dia berada di sini di California sekarang," tuturnya. "Anak-anaknya tinggal di San Diego, dan dia datang bekunjung setiap tahun. Mari  kita temui dia."

Bagi para pecinta musik Arab, bertemu Sabah adalah sebuah keistimewaan yang sama dengan bertemu Barbra Streisand.

"Saya tidak akan pernah lupa duduk bersama wanita 73-tahun yang sangat menyenangkan itu," kenang Elder. "Berambut pirang, berbaju longgar, berhati emas. Orang tuaku jatuh hati pada suaranya. Ketika aku bilang kepadanya aku sedang mencoba memperkenalkan musik Arab kepada penduduk L.A. yang luar biasa, dia tidak heran. Dia bilang, 'Saya akan melakukan itu. Saya akan melakukan tanpa biaya.'"

Untuk festival itu, Sabah mengumpulkan sebuah orkestra yang seluruhnya keturunan-Arab Amerika untuk mendukungnya, melakukan pementasan pada warga California Selatan yang sangat padat dan memberikan suaranya, bersama dengan para pemain the Kan Zaman, pada sebuah pertunjukan khusus lagu Sembello tentang kesatuan global. Pelaksanaan pertunjukan itu merupakan sebuah titik balik dalam karier Elder, dan seuah peristiwa amat penting bagi komunitas Arab Amerika L.A. Kata Elder: "Musik Timur Tengah dan Afrika Utara secara mendasar adalah apa yang terus saya jalani sejak saat itu."

Dia  mempertahankan kantor pusatnya di Santa Barbara—sebuah kantor kecil dengan seorang asisten pribadi—dan bolak-balik ke L.A. tiap minggu. Dia sering pergi ke negeri-negeri Arab bersama para anak buahnya, meski sejak perang di Lebanon dan Israel pada bulan Juli telah ada sejumlah besar penundaan tour di daerah itu. Dalam sebuah e-mail yang saya terima dari Elder pada bulan September, dia tampak berusaha berpacu dalam kekerasan yang meliputi negeri-negeri para leluhurnya. "Kita hanya punya sedikit kesempatan, semoga itu akan membawa perubahan yang bermanfaat pada semua yang telah begitu negatif belakangan ini di dunia," tulisnya. "Musik dan Seni adalah penyembuh Spiritual dan Emosional. Saya hanya berharap saya punya cukup kemampuan untuk membawanya ke hadapan orang-orang dan sebuah pandangan esok yang lebih baik."

Para produser musik pop yang menemukan jalannya ke dalam lingkaran kreatif Elder merupakan sebuah hasil eklektik, tapi semuanya tulus untuk mendorong batas-batas pop. Salah seorang darinya adalah KC Porter, co-produser Santana pada "Love to the People."

"Saya baru saja merasa memberi tanggung jawab seperti itu," jelasnya. "Dunia Timur Tengah akan menerima pesan ini dari kekuatan dan serangan Amerika, dan saya merasa, respon apa yang lebih baik daripada mengirimkan kembali sebuah pesan cinta dan kasih sayang?" Karenanya duet dwi-bahasa yang dihasilkan-bersama Porter setelah permulaan perang Iraq, yang dengan tepat berjudul "Love and Compassion," melibatkan vokalis pemenang-Grammy Award Paula Cole bersama penyanyi terkenal Iraq, Kazem Al Sahir, di antara yang lain.

Orang tua Porter, keduanya warga pribumi California, pindah menganut keyakinan Bahá'í, sebuah agama muda yang nabi abad ke-19-nya dijelaskan dari Iran. Missi kerja mereka melalui Guatemala ketika Porter masih seorang anak yang diperkenalkan kepada suara-suara musik dan bahasa Amerika Selatan—sebuah pembawaan yang dia gunakan untuk menghasilkan album pertama berbahasa Inggris Ricky Martin muda. "Pandangan Bahá'í tentang hidup, dan prinsip dasar keyakinan Bahá'í, adalah kesatuan umat manusia," katanya. "Itu merupakan sesuatu yang telah benar-benar saya coba fokuskan—bagaimana saya bisa mewujudkannya? Tapi sekarang, itu berarti ketertarikanku beralih dari Amerika Latin ke Timur Tengah."

 

Sementara Porter memikirkan karyanya, asistennya keluar masuk rumah itu dengan dua handphone dan sebuah buku catatan saat mereka menyiapkan sebuah eksperimen musikal multikultural baru. Tujuh puluh atau lebih musisi dan penulis lagu dari beragam kultur akan tampil di panggung di studio the Jim Henson di Hollywood beberapa hari lagi. Masing-masing akan menghabiskan sore harinya di sebuah ruang kedap-suara menulis sebuah lagu bersama. Elder, duduk di seberang Porter di sebuah meja santai di halaman belakangnya, ditakdirkan membangun kolam-bakat bersama sebanyak mungkin musisi Timur Tengah.

"Anda akan benar-benar membawa Gamal Gomaa untuk rencana ini," Elder menegaskan, sambil menutup layar PDA kecil di tangannya. "Dia adalah pemain perkusi yang luar biasa bagus dari Mesir. Telah bermain bersama semua para penari perut terkemuka. Dan sekarang dia tinggal di sini."

"Gamal," jawab sang asisten, sambil mengambil catatan, "Kita akan menambahkan dia pada para pemain drum."

"Saya tidak ingin ini segera dilaksanakan," kata Elder. "Kita telah punya Kazem Al Sahir bulan depan, dan saya ingin membawa serta Simon Shaheen memainkan oud."

 

"Apa oud itu?"

Sebuah alat musik Arab, Armenia, dan Turki yang sangat penting, ia adalah semacam guitar 11 dawai pendahulu guitar Eropa, berbentuk mirip sebuah per besar yang dipotong bagian tengahnya ke bawah dan secara tradisional dimainkan seperti guitar, bergaya-mandolin, dengan sebuah keping bulu ayam. A.J. Racy, profesor etnomusikologi di UCLA, mengatakan instrumen itu dikenal di dunia Arab sebagai "Amir al-Tarab, yang berarti pangeran ekstasi, merujuk pada kualitas suaranya yang menghanyutkan." Bentuk fisiknya yang punya lubang bergema dengan setiap nuansa tekanan jemari di lehernya atau gesekan antara bulu ayam dan dawai.

"Saya bisa menuturkan cerita untukmu tentang oud," kata Elder. "Saya tidak pernah melupakan orang yang saya kenal di radio Clear Channel yang menuturiku bahwa radio Amerika tidak suka mengudarakan bunyi oud. Dia semata tidak bisa melihat DJ-nya memainkannya."

Sebuah lagu yang menggunakan bunyi oud secara menonjol yang stasiun radio Clear Channel tidak bersedia menyiarkannya adalah lagu kritik antiperang Lenny Kravitz, "We Want Peace"—duet lain Kazem Al Sahir. Rock the Vote, sebuah penguatan organisasi pemuda bermarkas di  Pantai Redondo, merilis lagu itu secara ekslusif di websitenya pada bulan Pebruari 2003, lebih sebulan sebelum invasi Iraq yang dipimpin Amerika. Pemain oud Palestina Amerika Simon Shaheen memulai track ini dengan sangat baik dengan sebuah solo yang menggetarkan pada leher instrumennya, yang menggabungkan getaran riff guitar flamenco Spanyol dengan sebuah skala Arab yang mendayu-dayu. Groove Kravitz R&B yang kesohor mengambil alih, dipadu dengan tamborin dan perkusi bergaya Latin yang dtingkahi drummer Lebanon Amerika Jamey Haddad. Kravitz dan Al Sahir lalu mendesahkan kedamaian, lalu diikuti koor dengan lembut: "We want peace we want it yes we want peace we want it yes we want peace yeah we want it nowww!"

Sebuah versi lagu dengan sebuah refrain Arab belum dirilis di AS.. Elder menjelaskan mengapa: "Itu sudah lama sejak Condoleezza Rice memperingatkan media tentang adanya pesan-pesan sandi di televisi yang disiarkan melalui satelit dari Osama bin Laden," katanya.

"Setelah the Dixie Chicks terjebak keributan, kita tidak ingin mengambil kesempatan apa pun."

Adalah menarik bahwa, seperti Elder, sang Menteri Luar Negeri tumbuh bermain skate delapan putaran dan memainkan musik klasik pada piano. Dan bahwa kedua wanita itu terus mengejar karier yang secara luas didominasi oleh sudut-sudut Timur Tengah.

"Jangan paksa itu," kata Elder. "Dia melakukan apa yang dia pilih, Aku yang aku pilih."

Foto-foto, dalam urutan turun:

Dawn Elder tidak pernah melupakan malam ketika ayahnya membawa dia menyaksikan diva Lebanon. Dia ingin membuat musik sesempurna musiknya.

(Shay Peretz / For The Times)

Dawn Elder punya orang-orang Amerika untuk mengikuti orang-orang Arab menggubah musik. Itu merupakan paduan potensial.

(Shay Peretz / For The Times)

Salar Nader | pemain Tabla
Seorang Afghan Amerika, Nader bermain di seluruh dunia, bermain secara lokal dengan DJ Cheb i Sabbah.

(Shay Peretz / For The Times)

Dawn Elder jelas mengarahkan suasana tari perut demi mendukung grup-grup tradisional seperti the Taal Dance Company, yang dipimpin oleh Neera Chanani.

(Shay Peretz / For The Times)

Adam Basma | Koreografer
Seorang penari pemenang penghargaan (award-winning), direktur dan instruktur, Basma, yang lahir di Beirut, punya sebuah studio Middle Eastern sendiri di L.A.

(Shay Peretz / For The Times)

Gamal Gomaa | Percussion player
Gomaa yang terlahir di Mesir ahli dalam instrumen-instrumen perkusi North African dan Arabic.

(Shay Peretz / For The Times)

A.J. Racy | Oud player
Terlahir di London, Racy memperoleh gelar dalam musikologi di the University of Illinois dan telah berada di UCLA sejak 1978.[]

(Shay Peretz / For The Times)

 

  Printer Friendly Version of This Page