
Musik
Rocker Muslim
Ini Menyampaikan Dakwah Toleransi Melalui Hentakan Drum
Oleh Mary Kissel
15 Agustus 2006
Jakarta, Indonesia
"Mengapa saya memilih beat Arab? Karena
Muslim pikir ia lagu Muslim. Itu bukan! Itu lagu universal."
Demikian jelas Dhani yang bergaya rambut-poni,
berawajah imut, pendiri salah satu band rock 'n' roll paling populer di
Indonesia, Dewa, pada suatu sore baru-baru ini di sini. Sambil
meluncurkan sebuah lagu yang mengejutkan dari album terakhir grup itu,
"Republik Cinta," Dhani menjelaskan bagaimana keyakinannya,
tasawuf -- suatu bentuk Islam mistik,
toleran -- mengilhami musiknya. Di balik penampilan-penampilannya, Dhani,
yang seperti kebanyakan orang Indonesia hanya disebut dengan satu nama, adalah
mahabintang rock yang sangat berbeda. Dia sedang mempromosikan Islam
moderat -- secara vokal -- di sebuah negeri sangat penting dalam perang
melawan teror.
Merebah ke sandaran kursi minivannya saat
Dhani melepas lelah begitu saja, saya berusaha menuliskan kata-katanya
dengan cepat, bersusah payah mendengarkan saat hentakan bass membentur
kursi. "Wahai jiwa yang tenang!" ("O
serene soul!"), menyentak pembukaan riff dari lagu pertama, "Laskar
Cinta," dengan sebuah hentakan hiruk-pikuk drum mengiringinya.
Judul lagu itu di Indonesia, "Laskar Cinta," merupakan sebuah
permainan pada "Laskar Jihad" ("Warriors of
Holy War"), kelompok teroris yang terkait dengan al-Qaeda, tumbuh
di Indonesia. Tapi lagu itu tidak jauh berbeda dari apa yang mereka
dakwahkan; Dhani menyanyikan kebebasan religius, menjalin rujukan
ayat-ayat al-Qurani yang bisa dengan mudah dikenali oleh para pendengar
utama Dhani di Indonesia, negeri Muslim terbesar dunia, dan tetangga Malaysia.
Itu
merupakan strategi yang disadari sepenuhnya; orang yang sinis bahkan
bisa salah paham dan menilainya sebagai permainan pasar. Dhani
menjelaskan bahwa dia menyajikan pesan toleransi dan damai di samping
hentakan musik rock Barat, kuat dan berjingkrak, diselang-seling dengan
ritme Arab.
Tipe-tipe Barat-minded dan bahkan Muslim yang sudah mengalami
radikalisasi membeli albumnya -- dan,
satu harapan, visi tolerannya, juga. Sejauh ini, cukup bagus: Album baru
grup itu terjual satu juta kopi di pasar legal di Indonesia saja;
perkiraan versi bajakannya terjual tiga atau empat kali jumlah aslinya.
Lagu single album tersebut baru-baru ini menempati tangga no.1 di
Indonesia selama tiga minggu, berlangsung sejak akhir Desember hingga
Januari, dan videonya bertengger di puncak tangga sepuluh terbaik MTV. EMI
berencana segera merilis versi berbahasa-Inggris musik Dewa ke
pasar-pasar asing.
Itu sangat cerdas, dan sangat tepat; memang, beberapa
track Dewa bisa dengan mudah disalahpahami berasal dari sebuah
band pop Saudi Arabia --
yang salah seorang anggotanya telah mendengarkan Queen dan rock klasik
saat kanak-kanak. Tapi ketika syair terakhir "Laskar Cinta"
memenuhi mobil itu, ia menggemakan ayat suci ini: "Wahai umat
manusia! Kami ciptakan kamu dari satu jiwa, laki-laki dan wanita,
dan membuatmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu bisa saling
mengenal, dan tidak saling bermusuhan." Sebaris yang lebih
mengesankan dibandingkan
"Bohemian Rhapsody," dan dengan pasti bukan apa yang
kelompok garis keras ajarkan kepada Dhani di sekolah mereka.
Dhani, 34, mungkin merupakan seorang yang
menggoda orang lain demi perdamaian. Kakeknya telah berpartisipasi dalam
gerakan gerilya Darul Islam,
yang di antara anggotanya termasuk di antara pemimpin kelompok teroris
yang merencanakan bom-bom Bali beberapa tahun yang lalu. Ayah Dhani, Eddy mengikuti
jejak langkah kakeknya, terhitung menonjol dalam sebuah organisasi yang
tunduk pada dakwah ajaran Wahhabi. Ibu Dhani kelahiran-Indonesia, Joyce,
terbukti seorang yang mempengaruhi lebih moderat -- dia seorang Katolik
Roma yang masuk Islam ketika menikah. (Tapi "dia belajar Islam
dariku, bukan dari ayahku," ucap Dhani dengan tenang.)
Ketika kanak-anak, Dhani mengikuti sekolah Wahhabi.
(Wahhabisme, sekte Muslim terkemuka di negara-negara Arab seperti Saudi
Arabia, mempromosikan ketundukan kaku; Tasawuf secara historis adalah
dominan di Indonesia, di kalangan Muslim). Tapi pesan Wahhabi tidak
bertahan dengan Dhani: Dalam usia belasan, anak muda itu memberontak
keluar dari sekolah menengah dan memulai Dewa, juga pernah disebut Dewa 19,
sebuah rujukan pada perubahan personal ketika anggota band itu berusia 19
tahun. Nama itu, sebuah akronim nama-nama para pendiri, yang secara
ironik bermakna "Tuhan" dalam bahasa Sanskerta. Lagu-lagu yang menyenangkan
dari grup itu segera populer; sekarang di Indonesia, Dhani
adalah mahabintang setara dengan Bon Jovi atau Bono.
Namun pesan Dhani secara rasional lebih kuat --
dan lebih bermakna -- dibandingkan pesan lagu-lagu para rocker Barat.
Sejak jatuhnya rejim otokratis Suharto pada tahun 1998 dan terbitnya
demokrasi, dukungan untuk partai-partai politik garis keras di Indonesia
sudah tumbuh. Sementara kelompok-kelompok seperti itu sama sekali tidak
didukung oleh mayoritas, kebanyakan Jawa yang moderat,
peristiwa-peristiwa terbaru -- seperti seruan publik untuk menetapkan
syari'ah, atau hukum Islam, proses pengadilan editor Playboy edisi
Indonesia, dan demonstrasi-demonstrasi anti-Wahhabi yang berbahaya --
menunjukkan pertumbuhan pengaruh Wahhabi di kepulauan itu, seperti
menjamurnya pemakaian jilbab oleh para wanita di ibukota Jakarta.
Dhani telah merespon tidak hanya melalui musiknya, tapi
dengan mengikuti sebuah kelompok religius moderat kecil -- tapi sedang
tumbuh -- yang sedang mencoba mendidik rakyat Indonesia tentang
bentuk-bentuk Islam toleran. Diorganisasi oleh LibForAll, sebuah yayasan
kecil AS. yang berkedudukan di Winston-Salem, N.C., para anggotanya
termasuk mantan presiden Indonesia Presiden Abdurrahman Wahid, seorang
pemimpin besar sufi; Abdul Munir Mulkhan, seorang mantan anggota
pengurus Muhammadiyah yang terkemuka, salah satu organisasi Muslim
terbesar di dunia; dan Azyumardi Azra, seorang intelektual Islam yang
berani,
di antara yang lain.
Ada banyak resiko bagi orang-orang religius moderat yang
vokal seperti orang-orang yang berafiliasi dengan LibForAll. Tahun lalu,
setelah Dewa merilis sebuah album yang menampilkan kata untuk "Allah"
dalam tulisan Arab pada cover albumnya, Dhani telah dicap sebagai murtad.
Khawatir atas keselamatan istrinya, Maia, dan ketiga anaknya, Dhani
memindahkan mereka ke sebuah hotel. Hanya ketika Abdurrahman
Wahid melakukan
konferensi pers yang mendukung bintang rock itu bahwa Dhani merasa
cukup aman untuk membawa pulang keluarganya.
Dhani tampak tidak gentar dengan misinya.
Ketika saya bertanya tentang itu, dia tertawa, menuturkan keyakinannya (anak-anaknya
dinamai dengan nama-nama para wali sufi), dan menghidupkan tape stereo mobilnya.
Saat kami merayap karena kemacetan lalu lintas, salah
seorang rekan Dhani mengingatkan saya bahwa Dhani bukanlah yang pertama
punya panggilan ini. Dalam sebuah jaringan historis yang sama,
penyelamat dan penasehat Dhani, Gus Dur, adalah seorang keturunan
langsung Syeikh Siti Jenar, seorang wali sufi abad ke-16 yang juga
menyebarkan dakwah toleransi di hadapan kelompok militan di Jawa. Dia
telah dieksekusi karena keyakinannya, dan legenda menuturkan bahwa
darahnya menyembur menjadi tulisan "Allah adalah indah!" di pasir saat dia wafat. Belakangan dia dimuliakan
sebagai wali Allah yang sebenarnya. Dalam catatan untuk albumnya yang
terakhir, Dhani berterima kasih kepada Syekh
Lemah Abang ("Syeikh Tanah Merah") -- sebuah rujukan kepada
kota tempat Siti Jenar pernah tinggal.
Dhani tertawa lagi ketika saya bertanya apakah cerita
kematian Siti Jenar memang benar, dan apakah dia dibandingkan dengan
wali. Dia mengangguk, dan tersenyum. Dan kemudian dia menghidupkan musik
lagi.[]
Kissel adalah
editor halaman editorial The
Wall Street Journal Asia'.URL
untuk artikel ini:
http://online.wsj.com/article/SB115559561301635520.html?mod=todays_us_personal_journal
Printer Friendly Version of This Page