LibForAll Foundation dan
Dawn Elder Management telah
menggabungkan kekuatan dengan team global selebriti musik Muslim dan
non-Muslim,
untuk mempromosikan nilai-nilai Islam yang secara tradisional
pluralistik dan toleran. Kampanye musikal ini telah didukung oleh
para teolog Muslim kunci, yang bergabung dengan para selebriti
kultur pop dan para pemimpin lain yang berpikiran sama dalam bidang
agama, pendidikan, hiburan, pemerintahan, bisnis, dan media untuk
mendorong orang-orang yang berhati tulus dari setiap agama dan
bangsa untuk bersatu sebagai“laskar cinta,” dan menolak semua bentuk
kebencian dan kekerasan religius.
Proyek ini telah digagas bersama oleh bintang rock legendaris
Indonesia dan anggota pengurus LibForAll Foundation
Ahmad Dhani,
dan pendiri-bersama dan CEO LibForAll,
C. Holland Taylor. Single dan
album terlaris Dhani Laskar Cinta (“Warriors of Love”)
mempromosikan nilai-nilai spiritual cinta, kebebasan, dan toleransi,
dengan menggunakan
lyrik
yang diilhami oleh ayat-ayat al-Qur’an
dan sabda Nabi Muhammad saw. Laskar Cinta menjadi lagu #1
di Indonesia
saat peluncurannya pada Desember 2005, sementara video musiknya
meluncur ke tangga #1 di program Ampuh MTV asia pada bulan
Maret 2006.
Kami berharap bahwa
Dawn Elder akan memimpin sebuah
team terkemuka,
produser penemang multi-Grammy-Award dengan pengalaman cross-cultural
yang luas, untuk meningkatkan peredaran dan pengaruh proyek LibForAll
ini untuk menemui pemirsa global yang sebenarnya.
Aktivitas utama dalam proyek ini termasuk bekerja sama dengan
para artis top internasional dari banyak belahan dunia, untuk
merekam Laskar Cinta dalam bahasa setiap
kultural/bahasa/pasar musik komersial penting di dunia Islam, termasuk bahasa
Arab, Persia, Turki,
Hindi/Urdu, Bengali, Swahili, Mandingue, Hausa, Prancis, Spanyol,
Rusia, dan Inggris; memproduksi dan menyiarkan video musik dari lagu
yang sama; dan mementaskan sebuah perayaan gaya-msikal Bantuan
Langsung/Kamilah Dunia Islam sebagai sebuah agama cinta Ilahi dan
toleransi, yang di dalamnya para selebriti hiburan Eropa,
Amerika, dan Latin akan mengikuti para artis internasional
yang disebutkan di atas untuk merekam Laskar Cinta dalam bahasa Inggris, dan melakukan konser
langsung.
Ahmad Dhani/Dewa mementaskan lagu Laskar CInta di
studio SCTV (kiri) di Jakarta. Satu-jam sepesial ini telah
disiarkan ke seluruh negeri dengan populasi Muslim dan
demokrasi terbesar pada
'Id al-Fitr (October 23, 2006), hari yang mengakhiri
puasa Ramadlan.
Secara tipikal Dewa tampil 3-4
kali sebulan pada konser siaran televisi nasional.
Kelompok-kelompok radikal telah menyerang bintang rock Ahmad Dhani dan Dewa
bandnya
secara beragam karena album terlaris mereka
Laskar Cinta ("Warriors of
Love"). Ia telah membuat kaum radikal sangat
gusar menyaksikan indoktrinasi mereka atas para pemuda Muslim ke
dalam kultur jihad terancam oleh karya Dhani. Puluhan juta
rakyat Indonesia menyaksikan konser Dewa di TV, dan dengan penuh
semangat mendengarkan musik mereka di sepanjang kepulauan itu. Album
terlaris Dewa Laskar Cinta menghidangi para pemuda
Indonesia dengan sebuah pilihan tegas, dan sebuah pilihan mudah bagi
mayoritas terbesar untuk menjawab: Apakah mereka ingin mengikuti laskar jihad, atau laskar cinta?
Tanggapannya, kaum radikal telah menuduh Dhani
-- yang merupakan seorang Sufi yang taat, atau Muslim yang
berkecenderungan tasawuf -- sebagai seorang kafir, seorang yang
murtad (kata-kata yang mengundang kekerasan) dan seorang agen Zionis.
Mereka mendesaknya ke pengadilan atas tuduhan merusak Islam dan
berusaha melarang penggunaan musik rocknya untuk mempromosikan
sebuah interpretasi Islam yang bersifat spiritual dan progresif yang
telah mengancam seruan ekstremisme mereka sendiri yang diilhami
Wahhabi. Mujurnya, dengan bantuan anggota pengurus LibForAll Kyai Haji Abdurrahman Wahid
dan Abdul Munir Mulkhan, usaha kaum radikal untuk menggambarkan Dhani
sebagai seorang kafir
tidak berarti sama sekali dalam
pandangan publik Indonesian.
Raksasa rekaman EMI Records meluncurkan album kedelapan Dewa', Republik Cinta ("Republic of Love")
mendapat liputan media yang luar biasa di Indonesia pada bulan Januari
2006. Laskar Cinta ("Warriors of
Love") adalah lagu andalan album tersebut.
Seperti
dikesankan oleh judulnya, Republik Cinta mempromosikan
pembangunan kebebasan sipil dan demokrasi, keduanya melalui
album musik pop dan disertai kampanye media/interview artis,
yang mempromosikan sebuah alternatif damai pada ideologi
kebencian yang malandasi dan membiakkan terorisme.
Peluncuran album tersebut telah
disertai oleh lebih dari 100 interview media cetak dan
elektronik terpisah. Di sini grup Dewa melakukan konser
langsung di seluruh negeri selama prime time di stasiun
RCTI, Jum'at malam, 6 January
2006. Pada bulan Januari saja "fatwa musikal"
telah disiarkan di lima konser TV secara terpisah, dan telah
disimak oleh mayoritas 220 juta penduduk Indonesia.
Para pengikut Shaykh Hisham Muhammad Kabbani dari Tarekat Naqshbandi
bersama Ahmad Dhani (kiri) di studio Dewa di Jakarta. Para sufi
ini dan lainnya telah menghadiri konser RCTI (atas) untuk mengungkapkan dukungannya untuk "fatwa musikal" Dewa
melawan kebencian dan terorisme religius, dan untuk melaksanakan
tari "berputar" Tarekat Sufi Maulawiyah di stasiun TV nasional,
selama penayangan "fatwa musikal."
Sebelum menjadi santri Shaykh Kabbani, mereka
termasuk anggota organisasi fundamentalis Jamaah Tabligh.
Fundamentalisme Islam adalah sebuah gerakan global yang didanai
dengan baik, multiwajah yang beroperasi seperti seekor gurita
yang tak terkendali di banyak negara berkembang,
dan bahkan di kalangan komunitas imigran Muslim di Barat –
mempromosikan sebuah interpretasi Islam yang kasar, tidak
toleran dan "seragam."
Karya-karya Dewa menetralkan ideologi yang berbahaya ini dengan
mempromosikan sebuah pemahaman Islam yang pluralistik dan
toleran
yang mengakui kultur-kultur lain.
Siaran langsung peluncuran "fatwa musikal" Dewa di televisi
telah menghidangi para penonton Indonesia dengn pemandangan pertama
atas
"tari berputar" para Sufi (topi merah, tengah), yang tradisi
tasawufnya berasal dari Persia dan Turki.
Pada bulan Desember 2006 album
tersebut memenangkan dua penghargaan AMI (Anugerah Musik
Indonesia) –
Grammy Indonesia –
untuk kategori album
rock terbaik dan lagu rock terbaik. Penyanyi Dewa, Once (kanan,
bersama CEO LibForAll C. Holland Taylor), juga memenangkan
anugerah AMI untuk kategori vokalis pria terbaik dan lagu
terbaik.
Holland Taylor (kiri), bersama Once vokalis Dewa (tengah)
dan Ahmad Dhani (kanan), menyusun
lirik bahasa Inggris untuk
musik Laskar Cinta ("Warriors of
Love"). Once adalah seorang Kristen yang taat dan Dhani
seorang Muslim Sufi. Keduanya sama-sama menikmati
pementasan musik yang berasal dari tradisi religiusnya sendiri
atau yang lain.
Ahmad Dhani di studionya sedang merekam lirik lagu baru Dewa, "Laskar Cinta," untuk album berbahasa Inggris untuk diluncurkan dan
didistribusikan secara internasional oleh EMI
Records.
CEO LibForAll C. Holland Taylor bersama Kyai Haji
Muhammad Yusuf Chudlori ("Gus Yusuf"), yang memimpin Pondok Pesantren
asrama
Perguruan Islam yang terkenal di Tegalrejo, Jawa Tengah.
Keturunan keluarga ulama Nahdlatul Ulama terkemuka, Gus Yusuf
adalah "Kiyai Besar" yang sangat dihormati, atau
pemimpin Islam, di sebelah kanan.
Taylor dan Gus Yusuf sedang
mendiskusikan program untuk menyoroti dan melawan gerakan
radikal (Wahhabi) ke Indonesia, bersama dengan usaha-usaha
LibForAll, KH. Abdurrahman Wahid, dan Ahmad Dhani dalam usaha
ini. Sebuah kampanye media yang terencana akan melibatkan
elemen-elemen kultur pop, ulama Islam, dan mobilisasi warga kampung Jawa (Muslim
dan juga non-Muslim) untuk menyampaikan pesan toleransi dan
kedamaian religius kepada warga kita, yang lebih rentan pada
propaganda para ekstremis.
Dukungan para tokoh religius seperti
Abdurrahman Wahid,
Luqman Hakim dan Yusuf Chudlori
sangatlah berarti untuk membela Ahmad Dhani dalam usahanya
menyingkirkan ekstremisme religius dan mendiskreditkan
penggunaan terorisme sebagai anti-Islam dan, tentu, "diilhami
setan."
Dalam ungkapan Gus Yusuf, "orang yang ambisius adalah
yang sedang berjudi pada kemenangan Islam radikal untuk
memastikan keberhasilan mereka telah keliru membaca Islam
Indonesia."