Program Pendidikan

LibForAll Foundation mendukung sejumlah proyek pendidikan untuk melawan ekstremisme religius dan mempromosikan tumbuhnya kebebasan sipil dan ekonomi serta toleransi religius. Semua ini termasuk:


Pengembangan kurikula sekolah yang mengajarkan nilai toleransi dan pluralisme, bekerja sama dengan Yayasan Falsafatuna dan dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebuah fokus utama program ini adalah untuk mengintegrasikan tasawuf (spiritualitas Islam) dengan kurikulum agama Indonesia, membantu para siswa Muslim memahami nilai toleransi dan menolak ekstremisme.

Para peziarah (kanan) di makam Sunan Kalijaga, seorang syeikh sufi yang para pengikutnya telah mengalahkan kaum radikal pada abad ke-16 dan menegakkan kebebasan beragama untuk seluruh warga Jawa jauh sebelum majunya toleransi religius di Barat.

 

Masyarakat Nur al-Hikmah (the Light of Wisdom Society) adalah sebuah think tank yang para anggota dan penasehatnya termasuk beberapa tokoh Muslim paling terkemuka dalam pendidikan tinggi Indonesia. Tujuannya adalah untuk mempromosikan sebuah pemahaman Islam yang toleran dan pluralistik, yang benar dalam dirinya dan sesuai dengan dunia modern.

Sebuah komponen utama proyek Rahmatan lil 'Alamin Network, Masyarakat Nur al-Hikmah menyediakan beasiswa untuk mendukung aktivitas-aktivitas para intelektual dan teolog Muslim yang terdidik-dengan sempurna, yang terlibat dalam sebuah "perjuangan global demi jiwa Islam” melawan para ekstremis yang didanai-dengan baik yang mengaku berbicara untuk semua Muslim "sebenarnya" di seluruh dunia.

Abdul Munir Mulkhan (kiri), anggota LibForAll, mengepalai Masyarakat Nur al-Hikmah.

Pendidikan untuk melawan ekstremisme religius: LibForAll Foundation menyediakan beasiswa yang memungkinkan anak-anak miskin menerima suatu kualitas pendidikan yang mengajarkan toleransi, kehormatan dan nilai setiap individu, dan hormat pada keyakinan yang berbeda, sambil menyiapkan mereka untuk berhasil di dunia modern. Baru-baru ini kami membantu anak-anak yatim dan anak-anak miskin lain di Jawa Tengah, Yogyakarta dan propinsi yang disapu-tsunami Banda Aceh.

Beberapa anak yang dibantu oleh LibForAll Foundation mengikuti sekolah (kanan) di Klaten, Jawa Tengah.

Ichsan (t-shirt orange) bersama adik-adik, ibu (rok orange) dan bibinya.

Profil Siswa: Ichsan Ahadi

Sekalipun baru tiga belas tahun, Ichsan Ahadi tahu seperti apa rasa perihnya lapar, sedih dan andai saja dia tidak dilahirkan. Ayahnya – seorang tukang ojek yang tidak punya uang untuk ke dokter atau rumah sakit – meninggal secara perlahan karena penyakit jantung. Dia meninggalkan janda yang tak berpendidikan, Waginem, yang tidak hanya berduka karena kehilangan suaminya, tapi juga harus menanggung beban mental dan emosional karena tidak mampu menghidupi empat anaknya seorang diri.

Sekalipun sangat sedih dengan penderitaan keluarganya, apalah yang bisa Ichsan kecil lakukan. Setelah kematian suaminya, Waginem dan anak-anaknya pindah ke sebuah rumah kecil, padat, tinggal bersama saudaranya, tidak mampu membayar sewa rumah sendiri. Dia sering menuturi Ichsan bahwa dia harus pandai dan berhasil dalam hidup, untuk membantu keluarganya lepas dari penderitaan mereka. Itulah mengapa dia ingin anak sulungnya terus belajar, meski biaya sekolah mahal, bahkan di sekolah negeri sekalipun.

Namun Ichsan memutuskan untuk berhenti sekolah pada usia 12 tahun. Dia tidak tega lagi menjadi beban ibunya – yang bekerja semata sebagai pembantu rumah tangga dengan upah kurang dari  $30 sebulan – menyadari bahwa biaya sekolahnya telah sangat banyak menghabiskan uangnya yang sangat sedikit.

Maka ketika LibForAll Foundation mendengar cerita tentang Ichsan, dari seorang guru sekolah setempat (kanan, berjilbab orange) khawatir pada masa depan cerah anak tersebut. Seorang staf LibForAll mengunjungi keluarga tersebut, berbicara dengan Ichsan dan ibunya, dan mengatur untuk membayar biaya pendidikannya, agar dia bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang manajer atau diplomat yang sukses. 


 

Tidaklah mengejutkan, perhatikan lingkungan hidupnya, ambisi besar Ichsan adalah untuk membuat ibunya bahagia, dan juga untuk membesarkan adik-adiknya.

Profile Siswa: Elly Wahyuni

Elly Wahyuni (tengah) adalah seorang gadis yang bermimpi menjadi dokter. Sekalipun lahir dalam sebuah keluarga miskin, dia tak pernah patah arang atau semangat untuk belajar. Sebenarnya, kemiskinannya telah selalu menjadi motivasi dalam tujuannya untuk menjadi yang terbaik di sekolah.

Ayah Wahyuni, Sumardi (kanan), adalah seorang buruh tani paroh-waktu berusia 58-tahun. Karena lemah dan sakit-sakitan, dia tidak bisa mendapatkan cukup uang untuk menghidupi keluarganya. Itulah mengapa ibu Wahyuni, Tumiyem, 48, juga bekerja sebagai buruh kasar. Apalah artinya sedikit uang yang dia peroleh, hanya untuk membeli makan dan pakaian anak-anaknya.

 

Tidaklah mudah untuk hidup dalam kemiskinan yang luar biasa seperti Wahyuni, tapi gadis kecil ini menerima nasibnya dengan senyum, dan para tetangga bilang bahwa dia tidak pernah mengeluh. Tumiyem ibunya sering menuturi Wahyuni bahwa dia harus rajin belajar untuk meningkatkan taraf hidup mereka, untuk harapan keluarga karena masa depan tergantung kepadanya, sebagai anak sulung. Namun dengan dua saudara laki-laki dan satu perempuan (kiri) sekarang usia sekolah, keluarga itu tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah Wahyuni. Gadis kecil itu sudah yakin dia tidak punya pilihan lagi selain berhenti sekolah dan bekerja.

Berkat guru sekolah setempat di Sleman yang merelakan waktunya mengidentifikasi anak-anak yang tidak mampu, sebuah beasiswa LibForAll Foundation sedang membantu Wahyuni maju selangkah mendekati mimpinya untuk menjadi dokter, meski ada statistik tragis lain di sebuah negeri tempat jutaan anak-anak miskin seperti Ichsan dan Wahyuni putus sekolah setiap tahun.

Bantulah kami membuat sesuatu yang berbeda dalam lebih banyak kehidupan anak-anak, dengan bantuan dermawan Anda melalui LibForAll Foundation.

 

 

 

 

"Dalam lima tahun sejak jatuhnya Suharto, orang-orang Saudi telah meningkatkan kehadiran mereka secara dramatis di Indonesia, berusaha mengulang keberhasilan mereka melakukan radikalisasi pada rakyat Pakistan dan Afganistan.... Perekrutan al-Qaeda di Indonesia datang dari sekolah-sekolah yang didanai Saudi. Dalam banyak kasus, anak-anak miskin tidak punya akses pada pendidikan umum dan sekolah-sekolah religius hanya memberi mereka kesempatan untuk belajar dan menulis. Begitu berada di sana anak-anak muda itu diarahkan sesuai kemauan mereka untuk melakukan kekerasan dan mengembangkan kebencian." ~ Wall Street Journal []

 

Printer Friendly Version of This Page