Maryam
Ishaq Al-Khalifa al-Sharief (Sudan)
Pidato disampaikan
di hadapan majlis para pemimpin religius bersama
Dalai Lama di San Francisco
pada 15 April 2006
Dalam masalah-masalah agama, seperti pernah sahabatku Dr.
William Stoddart tulis, adalah selalu lebih baik untuk memulai di
pusat dan kemudian telusuri jalanmu ke pinggir, atau memulai di
puncak dan kemudian tempuh jalanmu ke bahwah. Dalam ungkapan lain,
adalah lebih baik sebenarnya untuk memulai dengan Allah, bukan
dengan manusia atau dunia. Karena kemutlakan, universalitas,
totalitas, dan simplisitas milik ketentuan Allah; sementara,
relativitas, partikularitas, parsialitas, dan kompleksitas adalah
milik tatanan manusia.
Sekarang nilai-nilai kedamaian hanya bisa diletakkan
dalam tatanan universal Allah yang di dalamnya semua oposisi dan
perselisihan tidak ada. Maka kita semua tahu bahwa Allah adalah Satu,
sementara semua yang diciptakan atau yang berkaitan dengan dunia
manusia adalah berlipat ganda. Maka adalah sebuah fakta yang tidak
bisa dipungkiri, bahwa beragam agama dunia haruslah banyak, dan ada
sebagai yang 'Lain' pada yang lain.
Tapi meski demikian fakta ini juga sangat bisa menjadi lebih baik.
Satu-satunya cara menuju hal ini adalah membuat manusia lebih
melihat Allah, dan kurang melihat dunia atau apa pun miliknya.
Ketunggalan telah ditemukan dalam Kebenaran Agung
yang kepadanya agama kita semua tampak bersaksi dalam satu atau lain
cara. Inilah kebenaran Transenden Hakikat Ilahi, atau Prinsip Ilahi
itu sendiri. Jika seseorang siap untuk mengetahui sepenunya bahwa
adalah
Hakikat Ilahi semata yang Transenden, maka dia jiga bisa mengakui
bahwa Kebenaran ini tidak bisa diungkapkan dalam suatu bentuk yang
unik, pun diselesaikan oleh satu wahyu khusus. Dalam ungkapan lain,
jika kita tidak bisa memahami Allah sepenuhnya dalam definisi kita
atas-Nya, kita harus membiarkan kebenaran definisi atas-Nya dalam
cara-cara yang pengertiannya mungikin tidak sepenuhnya jelas bagi
kita.
Ada doa Nabi Muhammad – shalawat dan salam
Allah utuknya – yang sungguh sangat berkaitan dengan makna ini. Dia
bersabda: "Ya Allah! Aku menyebut-Mu dengan setiap Nama yang telah Dikau ajarkan kepadaku untuk menyebut-Mu dengannya, dan dengan
setiap Nama yang telah Dikau berikan kepada beberapa hamba-Mu, dan
setiap Nama yang tetap Dikau sembunyikan dari semuanya di dalam alam
ghaib bersama-Mu." Jika kita menerima kebenaran Nama-nama Allah
yang tak terbatas, yang atasnya suatu jumlah yang terbatas juga
tersembunyi dari kita, kita bisa berharap untuk saling bertemu
dengan yang lain dalam segala kesucian dan dalam kebenaran, tidak
hanya secara saleh dan dalam toleransi.
Namun, bahkan jika seseorang menolak naik ke
capaian-capaian tertinggi imajinasi metafisika dalam memahami
realitas Ilahi,
dan lebih suka berpikir dalam tatanan turun-ke-pragmatisme
sederhana-bumi
– melihat bahwa kita hidup dalam sebuah dunia yang di dalamnya tidak
ada semata satu pun pandangan religius maupun agama yang berada
dalam suatu posisi yang menyusun term-term wacana atau membusanai
pola-pola hidup – ia ada untuk tujuan bahwa umat beragama harus
berusaha untuk saling mengenal dengan yang lain hingga tingkat yang
paling baik, dan berusaha keras membersihkan 'sifat rendahnya' dari
hubungan-hubungan mereka dengan yang lain. Karena satu hal,
kelestarian 'agama yang baik' seseorang itu sendiri di dalam dunia
modern yang pluralis –
yang di dalamya kita semua ada secara tak terhindarkan lebih sering
berdekatan dengan yang lain – menuntutnya. Seseorang tidak bisa
menghabiskan seumur hidupnya membenci dan mencaci mayoritas terbesar
umat manusia.
Berdasarkan sebuah catatan yang lebih positif, ada
dukungan timbal balik yang luar biasa bahwa agama-agama bisa saling
menawarkan dengan yang lain, sebagai jalan-jalan yang mengakui
Hakikat Ghaib. Dengan demikian tampak penting bahwa umat beragama
harus berusaha lebih fokus pada apa yang menyatukan mereka, dan
mengabaikan apa pun yang memisahkan mereka. Memang, apa yang membuat
hubungan antaragama menjadi lebih baik adalah sesuatu yang sangat
penting dalam kehidupan modern, yakni nasib yang nyaris identik yang
menunggu mereka, mereka yang telah pernah kehilangan pijakan pada
kekuatan yang pernah digunakan habis-habisan atas hal-hal yang
bersifat duniawi dan materialistik.
Akhirnya, langkah besar bisa diayunkan menuju
perwujudan kedamaian antaragama, ketika orang-orang berjuang
melawan godaan untuk semata lebih mengutuk dan mencela agama apa pun,
daripada praktik-praktik jalan kemanusiaan yang dikatakan agama.
Kebanyakan dari semuanya,
seseorang harus berjuang melawan ajakan yang seriang diulang-ulang
untuk mereformasi agama, untuk membuatnya lebih sesuai dengan masa
kita, yang benar-benar berarti membuatnya lebih menjadi sebuah
simbol dari pemikiran bijak kita, daripada sebuah simbol
kebenaran-kebenaran transenden. Jika kita mengerti agama menjadi
sebuah anugerah Ilahi untuk umat manusia, ia tidak membutuhkan
reformasi berdasarkan kalkulasi keinginan manusia. Adalah manusia
yang harus mereformasi jalannya untuk naik menuju kebenaran dan
nilai-nilai agama.
Apa yang betul-betul agama butuhkan adalah pembaruan
dan menghidupkan kembali,
di dalam jiwa-jiwa individual, sebagaimana sebuah maksud pesan diungkapkan untuk menyapa semua kebutuhan intelektual. Dengan
demikian, umat beragama kini diajak untuk menyapa diri mereka secara
intelektual dan praktis pada tantangan yang menghadang agama mereka
dalam momen historis khusus ini; kehadiran agama-agama lain menjadi
salah satu yang terbesar dari tantangan ini. Dengan mencoba memenuhi
kewajiban ini berarti telah menempuh sebuah jalan panjang menuju
pertemuan orang-orang dari agama-agama lain berdasarkan pijakan
bersama, dan untuk bangkit menghadapi tantangan-tanangan umum masa
kita.
Maryam Ishaq
Al-Khalifa al-Sharief lahir
di
Omdurman, Sudan. Pada kedua sisi keluarganya,
dia adalah cicit Muhammad ibn Abdallah, yang lazim dikenal sebagai Al-Mahdi,
seorang pemimpin religius yang menyatukan suku-suku Muslim Sudan dan
memimpin sebuah pemberontakan nasional melawan penguasa Mesir yang
membawa pada jatuhnya Khartoum pada tahun 1885. Anggota
keluarga dekat dan keluarga besarnya juga merupakan para pemimpin terkemuka
gerakan kemerdekaan Sudan pada tahun 1940-an dan 50-an, dan tetap
sangat dihormati oleh jutaan Muslim tradisional Sudan. Al-Sharief telah
belajar di Sudan sebelum pindah ke Inggris, tempat dia menerima B.A.
dalam bidang Religious Studies and History (Islam, Hinduism
dan Buddhism) dari the School of Oriental and African Studies di London University.
Dia meperoleh gelar maaster dalam Philosophy in
Medieval Arabic Thought dari Oxford University. Seorang istri
dan ibu, al-Sharief baru-baru ini meraih Ph.D. di Al-Azhar
University di Kairo, Mesir. Tesis doktoralnya berjudul “Sufi
Perspectives on Modernity: Modern Perennialism and Parallel Islamic
Schools.” Dia dikenal dan dihormati di banyak majlis Muslim
tradisional, Sufi, dan politik di Arab Timur Tengah.[]