Waleed El-Ansary
(Mesir)
Pidato disampaikan
di hadapan majlis para pemimpin religius bersama
Dalai Lama di San Francisco
pada 15 April 2006
Saya harus
memulai dengan mengatakan bahwa Shaykh 'Ali (Mufti Agung Mesir)
meminta saya menyampaikan salamnya yang paling hangat untuk Yang
Mulia Dalai Lama, dan untuk semua tamu yang terhormat, dan bahwa dia
ingin sekali berada di sini bersama kita hari ini.
Sekarang,
saya ingin berbagi dengan Anda beberapa usaha antaragama yang
berlangsung di Universitas al-Azhar. Untuk menuturkannya ke
dalam konteksnya, pertama saya harus menyampaikan bahwa al-Azhar
adalah universitas tertua di dunia Islam,
dibangun lebih dari seribu tahun yang lalu (969 M) di Kairo, Mesir. Kebanyakan Muslim Sunni menganggapnya menjadi kampus hukum yang
sangat prestisius, dan para sarjananya dilihat sebagai beberapa di
antara
sarjana yang sangat terkenal di dunia Muslim. Karena para
mahasiswa berasal dari setiap sudut dunia, apa yang mereka
pelajari di al-Azhar disebarkan di seluruh dunia Islam bagaikan air
yang mengalir dari suatu puncak gunung. Terletak di pusat dunia
seperti itu, pengaruh intelektual al-Azhar tidak bisa dibandingkan.
Kembali
pada dialog antaragama, sebuah survey atas usaha-usaha di al-Azhar
hanya dalah beberapa bulan tidaklah mungkin. Cukuplah dikatakan di
sini bahwa al-Azhar punya sebuah komite permanen dialog antaragama
yang setiap tahun bertemu dengan para wakil dari Vatican sebagaimana
juga Gereja Anglikan dan terlibat dalam diskusi-diskusi antaragama
yang
lain, di dalam negeri dan dunia.
Apa yang
ingin saya tekankan di sini adalah pendekatan salah seroang tokoh
terkemuka al-Azhar pada dialog ini, Shaykh 'Ali Juma'a, yang
baru-baru ini menjadi Mufti Agung Mesir dan akan menjadi Syeikh al-Azhar, insya-Allah. Pendekatannya
secara serentak menghindari kompromi integritas religius seseorang
pada satu sisi, atau semata mereduksi dialog pada diplomasi yang
santun pada sisi yang lain. Seorang ahli ilmu-ilmu Islam yang
bersifat intelektual ('aqli)
dan transmisi (naqli), dia mengerti dan mengapresiasi
karya-karya para sarjana perbandingan agama yang berusaha memecahkan
perbedaan teologis antara agama-agama dari suatu titik pandang yang
lebih tinggi, metafisika. Adalah penting, menurut saya, untuk
mencatat bahwa Shaykh 'Ali baru-baru ini menyatakan dalam sebuah penghornatan
kepada almarhum Martin Ling:
|
Perjumpaan
Lings dengan Rene Guénon
punya dampak yang luar biasa padanya, yang berakibat
pada perluasan petunjuk yang tercerahkan atas apa yang
dikenal sebagai "Traditionalist School" (Madrasat al-Turath),
yang di dalamnya materialisme dunia modern telah
dikritik dan dikontraskan dengan kebijaksanaan yang hadir
di dalam hati semua agama wahyu, apakah Hindu,
Budha, Yahudi, Kristen, atau Islam. Kebijaksanaan
ini adalah cahaya esensial (fitrah) Allah yang
diciptakan dalam hati semua umat manusia, yang
melaluinya mereka bisa dibawa menuju Kebenaran. |
Dalam
mendukung pandangan ini, dia mengutip Q. S. al-Rum, 30: 30: "Maka
curahkanlah dirimu dengan tulus pada esensi agama, pada fitrah Allah
yang dengannya Dia ciptakan manusia; Tiada perubahan pada ciptaan
Allah; Itulah agama yang sebenarnya, tapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya."
Saya pikir juga
pantas dicatat bahwa Shaykh 'Abd al-Halim Mahmud, mungkin Shaykh al-Azhar
terbesar pada abad keduapuluh, menyebut Guénon
sebagai seorang 'arif billah (seorang wali; secara harfiah,
seorang yang "kenal dengan Allah"). Tidak ada masalah
yang lebih krusial bagi era kita daripada sikap saling memahami
antaragama. Petunjuk para pemimpin spiritual yang terlibat dalam
wacana dari sebuah titik pandang yang lebih dalam, metafisika,
seperti Shaykh 'Ali Juma'a, digabungkan dengan usaha-usaha
antaragama, institusi-institusi terkemuka seperti al-Azhar, akan
sangat krusial untuk mencapai hal ini dalam dunia Islam. Diharapkan
bahwa yang lain akan segera mengikuti. Dan Allah a'lam.[]