 |
Ketua dan
CEO LibForAll
C. Holland Taylor membantu mengorganisasi sebuah
pertemuan bersejarah antara tokoh Budha Tibet dan pemenang hadiah Nobel
Perdamaian Yang Terhormat Dalai Lama XIV, Tenzin Gyatso, dan para
pemimpin Muslim dari lebih tiga puluh negara. Pertemuan itu
berlangsung pada 15 April 2006 di San Francisco, California
– tempat lahir Perserikatan Bangsa-bangsa.
Diungkapkan oleh pers sebagai sebuah "pertemuan
religius anti-terror," peristiwa itu telah
diliput secara luas oleh
pers internasional,
termasuk al-Jazeera dan ratusan outlet media di dunia Muslim dan non-Muslim.
|
Pada pagi hari, para pemimpin Muslim Syi'ah bertemu secara
pribadi dengan Dalai Lama, untuk mendiskusikan cara-cara
membantu Muslim dan non-Muslim memahami dimensi Islam yang
sangat spiritual, dan penuh kasih-sayang, dan untuk
mengeksplorasi pandangan bersama yang dibagi oleh Islam
dengan tradisi-tradisi aama lain dunia.
|
 |

 |
Peristiwa itu telah mempertemukan para pemimpin Muslim
yang belum pernah bertemu sebelumnya, untuk bekerja sama
dalam kewajiban "merebut kembali Islam"
dari mereka yang menyebarkan ideologi kebencian, atau yang
secara langsung mencelanya sebagai sebuah agama yang
menjijikkan dan keras.
Para pemimpin Muslim menerima "katas," atau shall (scarves) resmi, yang diberkati oleh Dalai Lama,
dan kemudian menyampaikan terima kasih dan memberikan hadiah
kepada pemimpin Budha tersebut karena membantu Muslim
moderat bersama-sama meraih kembali kendali agamanya dari
mereka yang berusaha membajaknya.
|
|
Selama sesi sore, yang
telah dibuka untuk 500 undangan, Muslim, Budha,
Hindu, Kristen, Yahudi dan para pemimpin religius Pribumi
Amerika bergabung dalam ajakan pada dunia untuk bersatu
dalam mendukung sebuah pemahaman Islam yang pluralistik dan
toleran, berdasarkan pada nilai-nilai cinta, kasih-sayang,
dan hormat pada kesucian hidup umat manusia.
CEO LibForAll
C. Holland Taylor
(berpidato,
kanan) membuka diskusi sesi sore tentang Islam, dengan
menyampaikan dukungan pendiri-bersama LibForAll
Kyai Haji Abdurrahman
Wahid – yang lama
memimpin organisasi Muslim terbesar di dunia. Taylor
juga memperkenalkan
Waleed El-Ansary, yang membawa salam dan dukungan mertuanya, Mufti Agung Mesir
Shaykh 'Ali
Juma'a.
Presiden Wahid dan Shaykh Juma'a
adalah dua ulama Muslim Sunni paling terkemuka di dunia. |

|
 |
Para pembicara pada sesi sore termasuk
Maryam Ishaq al-Khalifa al-Sharief
(kiri) – cicit pemimpin nasional Sudan abad ke-19 yang
dikenal sebagai Al-Mahdi. Maryam, yang bersama
keluarganya sangat dihormati oleh jutaan Muslim tradisional
Sudan, menyampaikan pentingnya peran sebuah
'spiritualitas transenden'
dalam mengalahkan ideologi ekstremisme dan kebencian
religius.
|
|
Organiser kegiatan termasuk Lama Tenzin Dhonden (kanan),
Utusan Pribadi Dalai Lama untuk Perdamaian,
dan Steven Reuther (kiri), salah seorang produser top Hollywood,
dengan lebih dari 40 film utamanya, termasuk Pretty Woman,
Dirty Dancing, Face/Off, Under Siege, The Client and
Pay It Forward.
|
 |
 |
CEO LibForAll C. Holland Taylor, kiri,
bersama Dalai Lama.
|
Ucapan pengantar C.
Holland Taylor untuk sesi sore pertemuan:
"Pertemuan Yang Mulia Dalai Lama dan para
pemimpim Muslim dari Amerika dan dunia hari ini mewakili
sebuah langkah penting menuju usaha menyelesaikan sebuah krisis
kesalahpahaman yang mengancam seluruh umat manusia. Pada
satu sisi, beberapa Muslims percaya bahwa Islam mengharuskan
mereka membenci atau membunuh siapa pun yang pandangannya
berbeda dari mereka. Dan banyak non-Muslim telah secara keliru
menganggap bahwa ideologi kebencian ini adalah Islam "yang
sebenarnya."
"Kabar baiknya adalah bahwa ada seraut
wajah Islam yang tersenyum, yang dihadirkan tidak hanya
dalam konferensi ini, melainkan juga di kalangan mayoritas
terbesar Muslim yang cinta-damai di seluruh dunia. Saya
bertemu Anda hari ini dengan ucapan selamat dan dukungan dari Kyai Haji Abdurrahman Wahid,
mantan presiden Indonesia dan lama memimpin organisasi Muslim terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama, yang mempunyai anggota 40
juta orang. Saya juga telah diminta memperkenalkan Waleed El-Ansary,
anak menantu Shaykh Ali Jumaa', Mufti Agung Mesir, yang juga
menyampaikan hormat dan salamnya pada pertemuan para pemimpin
religius ini.
"Presiden Wahid dan Shaykh Jumaa'
adalah dua ulama Muslim yang sangat berpengaruh di dunia.
Maka sangatlah bermakna bahwa mereka mendukung kita hari ini –
bergabung dengan para pemimpin Muslim yang lain yang telah
berkumpul bersama Dalai Lama untuk mempromosikan sebuah
pemahaman Islam yang pluralistik dan toleran, yang benar dalam
dirinya dan sesuai dengan dunia modern."[]
|
|