C. Holland Taylor's Speech at the Libforall Award Ceremony

Held at the Nahdlatul Ulama's Headquarters in Jakarta, Indonesia

June 17, 2005

C. Holland Taylor Speaking

Thank you for coming today.  I also wish to thank His Excellency Kyai Haji Abdurrahman Wahid, for hosting this event at the Nahdlatul Ulama’s central office.  My name is C. Holland Taylor, and I’m the CEO of Libforall Foundation.  Our mission is to promote the culture of liberty, tolerance and justice, with a particular focus on Indonesia and the Islamic world.

Our focus on Indonesia is rooted in the belief that this nation is destined to serve as an inspiration for people of good will searching for peace and tolerance in a deeply divided and conflicted world.

Among scholars of Islam, Indonesia has a reputation as the most liberal and tolerant of all Muslim countries.  Unfortunately, in recent years, this reputation has been threatened by bombing incidents and the violence in Sulawesi and the Malukus.

Rather than look upon Indonesia as a source of spiritual wisdom and guidance for the rest of the world, foreigners all too often believe that Indonesia is plagued by religious extremism and terrorist attacks that make it unsafe to invest here, or even visit.

This, in turn, threatens the welfare and prosperity of all Indonesians, as investment capital flows to other countries that are perceived to be more tranquil and secure.

President Yudhoyono is working to reduce corruption and provide a secure environment for all Indonesians, and their foreign guests.  We applaud SBY on his efforts and wish him and his administration much success.

However, we feel it’s also important to inform Western audiences—and investment decision makers—that Indonesia is a land where ancient traditions of peace, inner spirituality, religious pluralism and tolerance are alive and well, as leading cultural figures work to reduce religious extremism inspired by foreign elements.

That is why Libforall Foundation is working with Ahmad Dhani and the members of Dewa to promote Indonesia’s good name, in America and other Western countries.  Later this summer, we will conduct a press campaign to present Dewa and their album Laskar Cinta to the American public as a revival of the Indonesian/Javanese tradition of religious diversity and tolerance.  In fact, Laskar Cinta may be among the most significant projects to promote the culture of liberty and tolerance undertaken anywhere in the Muslim world in recent years.

We have chosen to work with Dewa because of the excellence of their music, the sincerity of their beliefs, and their courage to speak out in favor of peace and tolerance in a world all too often divided by violence and hatred.

Ahmad Dhani is a Sufi Muslim, whose love for God and for Islam is evident in his music, and to all who know him.  Once is a Christian, whose love for God is equally clear and strong.  The other members of Dewa are also devout Muslims who value their faith, while respecting those who worship or believe differently.

We believe that Dewa represents all that is best in the Indonesian tradition of religious tolerance and diversity.

The songs on Laskar Cinta continue the venerable Sufi tradition of worshipping God through profound love poetry, set to contemporary music.  Their lyrics call upon Indonesians of every age, faith and ethnicity to unite in fulfilling this great land’s destiny, so that—filled with peace, prosperity and justice—it can serve as an example to all the world.

At this time, I am honored to present the Libforall Award to the members of the group DEWA—Dhani, Once, Andra, Tyo and Yuke—and ask His Excellency Kyai Haji Abdurrahman Wahid to join me in doing so, as Libforall Foundation’s patron and advisor. 

We give this award in recognition of Dewa’s outstanding contribution to world peace, by communicating the values of spiritual love, freedom and tolerance to millions of listeners in Indonesia and abroad.

 

 

 

 

The Speech as delivered in Indonesian:

Terima kasih atas kedatangan Anda hari ini.  Terima kasih juga pada Kyai Haji Abdurrahman Wahid, sebagai tuan rumah yang menerima kami di kantor PBNU. Nama saya C. Holland Taylor, CEO Libforall Foundation. Libforall adalah sebuah yayasan Amerika, dengan tujuan memperluaskan kebebasan sipil dan ekonomik, toleransi agama dan keadilan di seluruh dunia, dengan focus khusus pada Indonesia dan negara-negara Muslim.

Fokus kami pada Indonesia berakar dalam kepercayaan bahwa negara ini ditakdirkan menginspirasi orang-orang yang mencari kedamaian dan toleransi agama di dunia ini, yang sering tercabik-cabik konflik dan kekerasan.

Pendapat ahli sejarah Islam, Islam di Indonesia mempunyai reputasi sebagai yang paling liberal dan toleran di seluruh dunia.  Sayangnya, beberapa tahun ini, reputasi tersebut terancam oleh insiden bomb dan kekerasan di Maluku dan Sulawesi.

Lebih memandang Indonesia sebagai sumber kebijaksanaan spiritual dan petunjuk untuk negara-negara lain, orang asing biasanya percaya bahwa Indonesia terganggu oleh aktivitas kelompok radikal dan serangan terroris yang menghilangkan keamanan untuk berinvestasi maupun hanya mengunjungi Indonesia.

Ini mengancam kemakmuran dan kesejahteraan semua rakyat Indonesia, karena modal investasi mengalir kepada negara lain yang dipandang lebih aman dan damai.

Presiden Yudhoyono berjuang mengurangi korrupsi dan memberikan lingkungan aman pada semua rakyat Indonesia, dan tamu warga negara asing juga, sebaik mungkin.  Kami menghargai upaya SBY dan berdoa untuk kepemerintahnya akan berhasil dengan proyek ini.

Meskipun, kami merasakannya penting juga memberitahukan masyarakat negara barat—termasuk para pengambil keputusan investasi—bahwa Indonesia adalah Tanah Air dimana tradisi kuno penuh kedamaian, spiritualitas, agama-agama dan toleransi masih hidup secara kuat, selama tokoh budaya memberi teladan berusaha mengurangi atau bahkan menghilangkan pikiran radikal yang diinspirasi elemen-elemen asing.

Oleh sebab itu, Libforall Foundation bekerja sama dengan Ahmad Dhani dan anggota-anggota Dewa untuk mempromosikan nama baik Indonesia, di Amerika dan negara-negara barat lain.  Pada musim panas nanti, kami akan menyalurkan kampanye PR untuk memperkenalkan grup Dewa dengan album Laskar Cinta pada masyarakat Amerika.  Kami akan menyalurkannya sebagai kebangkitan kembali tradisi Jowo dan Indonesia atas spiritualitas dan toleransi, dan juga sebagai salah satu proyek paling signifikan yang mempromosikan kebudayaan toleransi dan kebebasan yang diusahakan dimanapun saja di dunia Islam beberapa tahun ini.

Kami telah memilih untuk bekerja dengan Dewa karena keunggulan musik mereka, ketulusan kepercayaan mereka, dan keberanian mereka mendukung kedamaian, spiritualitas sejati dan toleransi agama di dunia ini, yang sering dicabik oleh kekerasan dan kebencian manusiawi.

Kami melihat bahwa Ahmad Dhani adalah seseorang yang berjiwa Islam Sufi.  Cinta sucinya pada Allah dan agama Islam jelas sekali dari syairnya, dan juga untuk semua orang yang kenalnya.  Once adalah seseorang Kristen, dengan cinta suci pada Tuhan yang juga sama kuat dan jelas.  Anggota Dewa yang lain adalah orang Muslim pula, yang setia pada agama mereka, tapi tetap menghormati orang yang memeluk atau percaya secara berbeda.

Kami percaya bahwa Dewa mewakili semua yang terbaik dalam tradisi Indonesia yang toleran dan menerima perbedaan agama.

Lagu-lagu Laskar Cinta mengalirkan tradisi mulia Islam Sufi mengagungkan Tuhan lewat syair cinta tinggi, dikemas dalam musik kontemporer.  Liriknya memanggil orang Indonesia semua umur, agama dan etnik bersatu supaya memenuhi takdir Tanah Air agung ini, sehingga—dipenuhi kedamaian, kesejahteraan dan keadilan—Indonesia menjadi contoh untuk seluruh dunia.

Saat ini, saya rasa terhormat memberi Libforall Award pada para anggota grup Dewa—Dhani, Once, Andra, Tyo dan Yuke—dan minta Kyai Haji Abdurrahman Wahid, sebagai sesepuh dan penasehat Libforall Foundation, memberikan penghargaan tersebut bersama saya. 

Kami memberi award ini sebagai pengakuan kontribusi luar biasa Dewa pada kedamaian dunia ini, melalui kommunikasi cinta spiritual, kebebasan dan toleransi kepada jutaan pendengar di Indonesia dan luar negri.

 

Printer Friendly Version of This Page